Bataragoa Weblog

HABITUS YANG MEMBAWA DAMAI

Posted in Gerakan, Makalah by Geritz on Maret 25, 2008

Geritz – Mahasiswa Fakultas Pertanian UKSW

Pada 30 November 2007, UKSW mencapai usia yang ke 51. Artinya tak terasa bahwa UKSW telah melangkah menuju 50 tahun kedua. Perjalanan UKSW rasanya seperti sungai-waktu yang baru saja kita selami, tetapi arus dasarnya belum juga kita kenali. Mari kita sejenak diam, merasakan arusnya dan kemudian berefleksi atasnya.

Apakah UKSW ingin seperti negeri yang tercinta ini…? Negeri yang berulang kali ingin menyembuhkan diri, tetapi setiap kali kita dapati lagi sedang menghancurkan diri. Atau inin ikut-ikutan menambah dosa pendidikan..?

Banyak riset yang dihasilkan, tetapi juga tidak menimbulkan kemaslahatan masyarakat. Banyak sarjana yang dihasilkan tapi, tapi banyak pula penganguran dan yang bekerja tidak sejahtera. Banyak pula pengajar yang menjadi konsultan pemerintah, tetapi mahasiswanya terlantar karena kurang perhatian. Ada yang merasa sistemnya yang paling baik kemudian berusaha menerapkannya, walaupun dengan resiko mengorbankan mahasiswa.

 

HABITUS

Istilah habitus sudah menjadi perhatian para Rohaniawan cum Intelektual gereja Katolik. Namun ia mungkin masih terasa asing di telinga civitas UKSW, walaupun ia berada didekat kita. Oleh Filsuf cum sosiolog asal Prancis, Pierre Bourdieu, ia di artikan sebagai sistem disposisi yang berlangsung lama dan berubah-ubah (durable, transponsible disposition) (Chris Wilkes dkk, 2007:13).

Sebagai gugus kebiasaan rasa-merasa, memandang, serta bertindak, habitus bersifat spontan dan tidak disadari pelakunya, tidak pula disadari apakah kebiasaan itu terpuji atau tercela. Orang tidak sadar akan habitus-nya, sebagaimana orang tidak sadar akan bau mulutnya (Priyono, 2005).

Dengan berguru sejenak pada Pierre Bourdieu, walaupun dengan resiko terjadi pernyederhanaan berlebihan terhadap UKSW, roda yang macet di UKSW mungkin terjadi karena beberapa hal. Pertama, banyak tidak memahami Visi dan Misi UKSW sehingga tidak menggapnya penting dalam proses belajar dan mengajar, atau mungkin Visi dan Misi sudah usang sehingga perlu revitalisasi Visi dan Misi UKSW.

Kedua, anggapan bahwa dengan bebas kita bisa membentuk kehidupan bersama (more…)

MEMPERTEGAS PERAN KAUM INTELEKTUAL DALAM MENGAWAL[1] KEBIJAKAN YANG PARTISIPATIF GUNA MEREDAM KORUPSI

Posted in Makalah by Geritz on Februari 22, 2008

MEMPERTEGAS PERAN KAUM INTELEKTUAL DALAM MENGAWAL[1] KEBIJAKAN YANG PARTISIPATIF GUNA MEREDAM KORUPSI

(Studi Kasus Pengawalan Atas Pembuatan Kebijakan Tentang Tarif Air di Salatiga)

Geritz Febrianto Rindang Bataragoa[2]

Abstract

Personal is political. The problem is that not many people are aware of the fact. Even the intellectuals do not realize that their lives are very much influenced and at the same time influence politics. This makes them afraid of being involved in some practically political actions. Referring to Bourdieau’s “habitus”, this will be an opinion paper commenting on the academicians’ participation into the case of water tariff problems in Salatiga and how they perceive the social movement for enhancing participatory public policy making. This overview of the academicians’ attitude towards politics will reflect the socio-cultural mindset that influences the practice of corruption in Indonesia. Knowing the mindset, this paper will suggest some practical actions that may initiate the transformation in Indonesian society. Keywords: Bourdieau’s “habitus”, academicians’ participation, water tariff problems, political actions, participatory public policy making, Indonesian society,

Pendahuluan

Makalah ini merupakan pengalaman berharga sebagai aktivis mahasiswa di Kota Salatiga. Cerita tentang Gerakan Sosial di Salatiga ini merupakan sebuah pengantar untuk memasuki melihat Habitus Kaum intelektual. Lahirnya Peraturan Walikota 36/2006 Tentang kenaikan tarif PDAM di Salatiga, mendatangkan keresahan rakyat Kota Salatiga. Gerakan Masyarakat Salatiga yang beraliansi yang kemudian dikenal sebagai Rakyat Salatiga Peduli Air (RSPA/®[3]), berargumentasi bahwa Peraturan Walikota 36/2006 merupakan kebijakan yang sangat menyesakkan komunitas pelanggan PDAM. Namun (more…)

Antisipasi Bencana dalam Kebijakan Tentang Air

Posted in Makalah by Geritz on Februari 22, 2008

Antisipasi Bencana dalam Kebijakan Tentang Air[1]

Sebuah Telaah Gerakan Rakyat Menentang Keluarnya Kebijakan Kenaikan Tarif PDAM

Geritz Febrianto R. Bataragoa, Nick T Wiratmoko, Sumadi

ABSTRACT

Public policy making concerning water which is non-participatory immediately resulted on the resistance of water users in Salatiga. The policy of PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum – Local State Water Government) which was established in such a way potentially leads to governance disaster in terms of water governance, politics, participation, accountability, and transparency. It has to be balanced with policy advocation which principally should start with the building of awareness and empowerment of the water users, government aparatus, and political power community as well as the Civil Society Organisation community itself. The balance of the state aparatuses, the power of the water users community, and the political power community is necessary for the interrelatedness imperative for water governance. The praxis of the advocation necessarily involves all possible power of different elements which has to be materialized into political system, laws, regulation, institutions, financial mechanism, and water users community development, and users’s rights. One of the ways of the advocation is through social movement. The attempt to anticipate governmental disaster above will in its turn be sustainable through the establishment of deliberative democracy in water governance, which will be indicated by participation, accountability, and transparency. Keywords: good governance, deliberative democracy, socio-political movement, public policy advocacy, water governance, governance disaster

Pengantar

Terbitnya SK Peraturan Walikota (Perwali) No 36/2006 2006 ternyata mengundang pro dan kontra. Argumentasi pro kenaikan tarif adalah bahwa demi karena penyesuaian kemahalan. Pihak yang kontra berargumentasi bahwa kenaikan lebih dari 100 persen merupakan sebuah kebijakan yang menyesakkan komunitas pelanggan. Dalam perjalanan waktu, ternyata kebijakan ini semakin mengundang perhatian dari kalangan aktivis partai, mahasiswa dan kalangan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), akademisi, (more…)

Tagged with: , , ,

Artikel ini kiriman teman ke e-mail saya…

Posted in Filsafat, Makalah by Geritz on Februari 22, 2008

Alam Semesta sebagai Hologram

Pada tahun 1982 terjadi suatu peristiwa yang menarik. Di Universitas Paris, sebuah tim peneliti dipimpin oleh Alain Aspect melakukan suatu eksperimen yang mungkin merupakan eksperimen yang paling penting di abad ke-20. Anda tidak mendapatkannya dalam berita malam. Malah, kecuali Anda biasa membaca jurnal-jurnal ilmiah, Anda mungkin tidak pernah mendengar nama Aspect, sekalipun sementara orang merasa temuannya itu mungkin akan mengubah wajah sains.

Aspect bersama timnya menemukan bahwa dalam lingkungan tertentu partikel-partikel subatomik, seperti elektron, mampu berkomunikasi dengan seketika satu sama lain tanpa tergantung pada jarak yang memisahkan mereka. Tidak ada bedanya apakah mereka terpisah 10 kaki atau 10 milyar km satu sama lain.

Entah bagaimana, tampaknya setiap partikel selalu tahu apa yang dilakukan oleh partikel lain. Masalah yang ditampilkan oleh temuan ini adalah bahwa hal itu melanggar prinsip Einstein yang telah lama dipegang, yakni bahwa tidak ada komunikasi yang mampu berjalan lebih cepat daripada kecepatan cahaya.

Oleh karena berjalan melebihi kecepatan cahaya berarti menembus dinding waktu, maka prospek yang menakutkan ini menyebabkan sementara ilmuwan fisika mencoba menyusun teori yang dapat menjelaskan temuan Aspect. Namun hal itu juga mengilhami sementara ilmuwan lain untuk menyusun teori yang lebih radikal lagi.

Pakar fisika teoretik dari Universitas London, David Bohm, misalnya, yakin bahwa temuan Aspect menyiratkan bahwa realitas obyektif itu tidak ada; bahwa sekalipun tampaknya pejal [solid], alam semesta (more…)

Tagged with: ,

Menjadi Pahlawan perlu “Fit and Proper Test”

Posted in Makalah by Geritz on Februari 22, 2008

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa (1988), kata pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Jadi ada tiga aspek kepahlawanan, yakni (1) keberanian, (2) pengorbanan, (3) membela kebenaran. Sebelum atau sesudah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, dalam berhadapan dengan penjajah, definisi pahlawan itu lebih mudah dirumuskan.

Mantan Presiden HM Soeharto meninggal dunia. Banyak kontroversi yang dibuat selama 32 tahun memimpin bangsa Indonesia, namun harus pula diakui tidak sedikit Jasa yang diberikan. Namun hasil akhir tetap yang paling sering menjadi penilaian khalayak.

Melihat jasa-jasa yang diberikan oleh HM Soeharto, maka beberapa pihak mengusulkan untuk diberikan gelar pahlawan untuknya. Tetapi tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa HM Seoharto tidak berhak (more…)