Bataragoa Weblog

Tentang RSPA®

Posted in air by Geritz on Februari 22, 2008
Workshop RSPA®Latar belakang Pemikiran/Konsep
1. When and how was the RSPA team formed?

Rakyat Salatiga Peduli Air (RSPA) semula diinisiasi oleh DPC PKB [Dewan Pengurus Cabang Partai Kebangkitan Bangsa]. Prakarsa ini digulirkan pada akhir Agustus 2006. DPC PKB ini memprakarsai sebuah pertemuan dengan mengusung isu tentang respons masyarakat Salatiga – pelanggan PDAM – untuk mengambil sikap atas kebijakan menaikkan tarif air yang dianggap semena-mena. Semena-mena, karena kebijakan tersebut hanya diputuskan dengan: [a] klaim dua sosialisasi yakni di kalangan DPRD yang kemudian disebut dengan ekspose. Ekspose ini kemudian dianggap sebagai persetujuan dari legislatif. Padahal dalam demonstrasi massal 26 Desember 2006, Ketua DPRD sendiri menegaskan di depan massa bahwa DPRD tidak pernah memberikan persetujuan atas ditetapkannya Perwali (Peraturan Walikota) No 36 tahun 2006. Kedua sosialisasi pada Forum Lintas LSM se-Salatiga; [b] karena di kalangan direksi PDAM (Badan pengawas PDAM) sudah ada dua wakil masyarakat, yang seolah-olah sudah merepresentasi komnitas pelanggan PDAM.

Sejumlah pertemuan digulirkan dengan mengambil tempat pertemuan di Kantor DPC PKB, Jl Patimura Salatiga. Prakarsa ini digulirkan lantaran PDAM melalui Perwali No 36/ 2006 telah menetapkan kenaikan tarif air minum mulai dari 100% – 130%. Dalih kenaikan yang diargumentasikan adalah karena:

[1] sudah dua tahun terakhir tidak ada kenaikan tarif PDAM,

[2] selama kurun waktu tersebut, sudah ada kenaikan Tarif dasar BBM (Bahan Bakar Minyak) dan Listrik,

[3] dalih untuk menutup biaya operasional yang mulai merugi,

[4] dengan penyesuaian tarif air, maka akan diperoleh margin (keuntungan) yang akan bisa menyumbang PAD (Pendapatan Asli Daerah)

Tim RSPA, melalui undangan yang diprakarsai oleh DPC PKB, kemudian menjadi sebuah kolaborasi yang terdiri dari beberapa kategori: kelompok mahasiswa, LSM, intelektual kampus, partai politik, paguyuban masyarakat, dan individu.

Dalam perjalanan, karena d dalam tubuh RSPA adalah kristalisasi dua pendapat yang sangat tajam, maka semenjak itu (awal Desember 2006) selain RSPA maka terbentuklah RSPA®. Simbol ® memberi makna reorientasi, yang artinya kelompok ini membuka diri terhadap kritik diri ataupun kritik dari luar. Komunitas ini mengklaim diri sebagai representasi arena ruang publik. Kelompok ini dekat dengan grassroot pelanggan air dan juga pemerintah.

2. Who is this team?

RSPA secara lebih rinci anggota RSPA/® dapat disebutkan sebagai berikut:

· Kelompok mahasiswa: PMII (Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia), HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), LK UKSW (Lembaga kemahasiswaan UKSW), BEM STAIN (Badan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri), LMND (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi), JAK (Jaringan Autonomous Kota), GMKI (Gerakan Mahasiswa kristen Indonesia), PMKRI (Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), IMBAS (student journal of Faculty of Electronic UKSW), Teater KRONIS

· LSM: SPPQT (Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayibah), Truka Jaya, Kilat, GPS (Gerakan Pemuda Salatiga), Lembaga Konsumen Salatiga, Kelompok Tani Jujur Makmur

· intelektual Kampus: F Hukum UKSW, Fisipol UKSW· partai politik: PKB (Partai Kebangkitan Bangsa), PKS (Partai Keadilan Sejahtera), PKPI (Partai Kesatuan dan Persatuan Indonesia), PGolkar, PD (Partai Demokrat).· paguyuban masyarakat: Pancuran, Kalitaman, Kalioso, Kampung Baru, Kalitaman, Ngentak, Karangpete, Dukuh, Argomas, Bugel, KONMAWAS, GRENG, Forum Tralis

· individu

Kelompok ini sifatnya kolegialitas. Pemimpin yang dimaksud adalah anggota yang dianggap bisa memimpin dan diberikan kepercayaan untuk memfasilitasi proses konsolidasi. Keanggotaan kolaborasi ini bisa sifatnya sinten remen – siapa yang suka silahkan terlibat. Meskipun dalam praktik, kemudian hanya beberapa orang yang dipandang menjadi fasilitator dalam pertemuan tersebut.

3. What are the main goals of the team?

· Mempromosikan regulasi pengelolaan air berbasis good governance, baik kepada pelanggan air PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) maupun kepada legislatif dan eksekutif.

· Menerapkan strategi kampanye penundaan kenaikan tarif air dan sekaligus pada saat penundaan tersebut menyisipkan strategi intervensi dengan dibentuknya tim pengkaji Peraturan Walikota (Perwali No 36/2006).

· Menyamakan persepsi tentang pentingnya good governance di dalam komunitas kolaborasi

4. Will this be on going team or will it disband after the current water issues are recognized?

Kolaborasi pemerhati kebijakan publik tentang air ini agak unik. Disebut unik, karena selama ini jika ada semacam “gerakan sosial” yang memperjuangkan keadilan atas kebijakan publik yang terdistorsi, biasanya hanya dicirikan: [] jangka pendek, [] aliansi sangat terbatas, biasanya hanya komunitas mahasiswa saja, [] waktu protes jalanan/demonstrasi hanya berlangsung 1-2hari saja dan hanya bermuara pada media coverage dalam sehari berikutnya, [] di mata polisi, bentuk protes seperti ini agak “anarkhis” [suara keras dan sarkastik]. Berbeda dengan kolaborasi yang dibangun melalui RSPA, yang lebih menunjukkan ciri: [] jangka panjang, hampir 4 bulan, mulai bulan September 2006 – Januari 2007, [] aliansi banyak ragam anasir, [] bentuk kegiatan bukan hanya demonstrasi, tetapi dalam bentuk berbagai strategi: demonstrasi, mendiskusikan sejumlah isu dengan sangat tajam untuk memverivikasi suatu isu, [] menangani mass media cetak dan elektronik (TV/radio), talk show, news letter, selebaran/pamflet, street banner (spanduk), lobby.

Bertolak dari kesadaran bahwa isu-isu yang menyangkut kebijakan publik yang terdistorsi memerlukan perhatian yang serius dari civil society, maka pemanfaatkan ruang publik (public sphere) oleh RSPA dirasakan sangat penting untuk tidak berhenti dalam domain agenda isu air saja.

Dengan kesadaran tersebut, RSPA melihat bahwa isu setelah air yang jauh lebih utama diperhatikan adalah pentingnya mengawal sebuah proses pemuatan regulasi “partisipasi, transparansi, akuntabilitas” dalam bentuk peraturan daerah. Dengan mengawal draft regulasi ini, ke depan hak sebagai warga negara atas akses dana pembangunan bisa lebih dijamin. Kini, partisipasi masyarakat dalam pembangunan bentuknya seperti (quasi/pseudo) partisipasi. Bentuk substantifnya adalah mobilisasi.

5. What is the methodology of team RSPA?

Metodologi yang dipilih RSPA/RSPA® adalah PAR (Participatory Action Research)/PRA (Participatory Rural Appraissal). Mengapa metodologi ini dipilih? Bagi RSPA®, dengan memilih metodologi ini memiliki sejumlah alasan seperti:

[] para aktor terdiri dari: para peneliti, kelompok klien, dan intelektual, aktivis[] sumber dan otoritas: à peneliti akan menyediakan keahlian mereka menyediakan informasi tentang kesadaran politik à kelompok klien akan menyediakan informasi menyediakan energi kesediaan untuk membuka wawasan dan belajar bersama à kelompok negara (eksekutif) akan melaksanakan regulasi yang sudah diatur

à kelompok negara (legislatif) akan memformulasikan regulasi PDAM yang baru

[] dampak pada proses pentahapan

à pendefinisian masalah: dikendalikan oleh kelompok keuntungan akan didapat kelompok klien sumber daya akan diperoleh dari klien atau konsensus dalam sistem à pengumpulan data dan analisis: berkolaborasi dengan klien interaksi untuk mengedukasi dan memobilisasi kelompok klien à penggunaan hasil konsensus klien atas tujuan intervensi negosiasi untuk memperbaiki situasi klien

6. What are the key difficulties faced by this team?

· Membangun soliditas kolaborasi yang beragam latar belakang

· Menghadapi “paradigma bad governance” dari pemkot/PDAM

· Pemanfaatan media jurnalistik yang masih begitu terbatas ruangnya dan belum sampai pada domain jurnalisme publik yang investigatif

· Membangun komitmen untuk mengenali strategi advokasi secara menyeluruh dalam resistensi thdp kebijakan yang

7. Does the Percik working environment suit this team? Why? Why not?

Percik terlibat dalam kolaborasi RSPA/RSPA® dengan posisi sebagai fasilitator dalam setiap pertemuan. Bentuk fasilitasi yang dimaksud mencakup kerja advokasi seperti: [a] pendokumentasi setiap proses konsolidasi dg cara yang transparan; [b] menjadi moderator/member dalam forum-forum konsolidasi; [c] sebagian funder untuk aksi dan penggandaan media kampanye; [d] fasilitasi mobilisasi massa, [e] anggota dari tim pelobi ke polisi, walikota dan legislatif,

Mengapa Percik mau terlibat dalam kolaborasi ini? Percik memiliki obsesi untuk dapat mewujudkan praksis advokasi yang komprehensif, bertumbuh dari bottom-up, self –reliance, sifat pergerakan kolaboratif, membangun ruang publik secara bersama, memiliki ruang untuk melakukan penelitian. Selama ini, praksis advokasi Percik sangat dibatasi oleh dana funding. Dengan pola ini, maka program akan selesai begitu dukungan dana habis. Bentuk dukungan dana ini pun juga terbatas dalam arti tak bisa melibatkan banyak stakeholder. Dengan kolaborasi seperti ini, maka praksis advokasi Percik mendapatkan kesempatan untuk belajar bersama dengan stakeholder lainnya dalam menciptakan ruang publik sebagai syarat hadirnya demokrasi.

8. Do you intend to broaden your goals to a regional/national level, or remain local? Why? What do you see as the benefit of this?

Secara prinsip, apa selama ini dikerjakan dalam kolaborasi RSPA/RSPA® diupayakan untuk bisa diakses oleh banyak pihak, misalnya melalui media cetak koran: Suara Merdeka, Jawa Pos, Solo Pos/Salatiga Raya, Wawsan, Kompas, Koran Sindo (Seputar Indonesia). Prinsip good governance dimulai dari kolaborasi ini. Dalam beberapa hal, kampaye good governance dalam manajemen PDAM telah diluncurkan pada aras lokal, regional dan nasional, bahkan internasional. Mengapa pilihan untuk menyebarluaskan atau membuka akses untuk belajar dari good practices resistensi ini dipilih? Alasannya sederhana:

[a] hampir kebanyakan PDAM dikelola sebagai perusahaan daerah dengan kontrol civil society yang lemah bahkan sering muncul PDAM sebagai “sapi perah” (korupsi),

[b] tak ada transparansi dan akuntabilitas kepada publik,

[c] regulasi yang mengatur PDAM biasanya rapuh dan sudah usang,

[d] legisaltif yang tak memiliki komitmen kepada basis konstituennya, khususnya terkait dengan re-drafting regulasi kebijakan publik yang tidak berpihak pada pelanggan air,

[e] regulasi tentang PDAM sifatnya sangat sektoral, sementara persoalan air mestinya menjadi perhatian lintas sektoral [dinas lingkungan hidup, badan perencana daerah khususnya terkait dengan penataan ruang konservasi]

Dengan alasan seperti itu, maka jika pengalaman ber resistensi yang multistakeholder ini bisa diakses kepada komunitas klien PDAM di seluruh Indonesia, maka tak menutup kemungkinan bahwa virus good governance dalam manajerial PDAM akan bisa diakses dan dirujuk civil society di lain tempat.

9. How effective do you think RSPA is in achieving its goals? What could be done to improve the effectiveness?

Sulit menterjemahkan bahwa RSPA/RSPA® telah secara efektif memperoleh hasil dalam perjuangannya. Periksa matriks di nomor 5. Yang jelas, sampai pada titik sekarang, RSPA® tengah menunggu konfirmasi duduk dalam Tim Pengkaji Tarif, yang sudah dijanjikan pada awal minggu pertama Desember 2006 dan hingga kini belum juga diformalkan.

10. How well known is RSPA’s work in Salatiga? And outside Salatiga? Do people take notice? What could be done to make people take more notice?

RSPA/RSPA® sangat terkenal di Salatiga karena:

[a] aksi demo,

[b] kampanye dengan loud speaker,

[c] aksi spanduk, [d] aksi lobby, news maker di media, [e] karena ada kebijakan kembali ke tarif PDAM yang lamaAksi kolaborasi ini sudah diketahui banyak pihak, meskipun dinilai belum optimal. Kerja media kampanye yang juga belum dikerjakan adalah: [] menggarap dokumentasi dalam bentuk CD yang sudah di dubbing dengan narasi dari aksi yang sudah dilakukan; [] kini tengah menyiapkan sebuah publikasi advokasi yang lebih lengkap; tengah disiapkan penulisan ulang sejumlah dokumen aksi-refleksi-penelitian yang akan dimuarakan ke dalam sebuah publikasi yang lebih lengkap

11. What do you see as the key water issues for Indonesia? Do you think these are changing/emerging, or are they very similar to previous times? What might be causing them?

Isu kunci masalah air di Indonesia adalah:

[a] masalah kelangkaan air yang tak diikuti dengan penyadaran dan kebijakan yang mampu mendukung ketersediaan secara lestari/sustainable,

[b] regulasi pengelolaan air yang cenderung menjadi komoditas yang diprivatisasikan ketimbang sebagai bagian dari kewajiban negara menyediakan air bersih yang tak diikuti dengan motif mencari untung,

[c] isu air tidak diletakkan dalam perspektif bioregionalisme tetapi lebih ke pendekatan sektoral

[d] resistensi terhadap distorsi kebijakan air juga sanga ad-hoc dan gagal dalam membangun mass-consciousness. Kegagalan ini diduga karena ketiadaan komitmen ideologis yang memiliki prinsip teoretikal “power-knowledge”

Kolaborasi ini bermimpi dan tengah mengkampanyekan melalui langkah kecil dan lokal agar pengalaman memperjuangkan kebijakan good governance ini bisa menginspirasi CS/CSO pelanggan air di berbagai tempat di Indonesia


Evaluasi Kinerja Program yang telah dan sedang berjalan

No Aktor yang dilibatkan Bentuk kerjasama Tujuan Evaluasi
1 Cemsed UKSW dan radio elshinta Talkshow ttng kebijakan air di radio dalam bentuk debat publik – undangan Audience memahami duduk soal kasus airKampanye tentang pentingnya memberi perhatian pada kebijakan air yang bad governance Program ini hanya menjangkau pada segmen pendengar radio sajaFasilitator/moderator tak menguasai masalah regulasi airMike tak memadai jumlahnya
2 Media cetak (koran) Press release/conference Public opinion Pemutakhiran pendapat RSP/®, meski dlm banyak pemberitaan hanya Solo Pos yang relatif mampu meng-cover informasi secara proporsionalGagal menampilkan subaltern secara ideal
3 Media cetak (kampanye) Pendanaan penggandaan: news letter, pamlet, street banner Public opinionGet raising mass consciousness Dengan Warta RSPA/®an selebaran dengan kemasan “Tom Gembus dan John Koplo”
4 Legislative Lobby, demonstration/ protes, penyampaian asipirasi, konsultasi publik Mencari dukungan dalam bentuk resounding RSPA ke walikota Legislatif lemah dalam pengawalan kebijakan PDAM yang sudah aout of dateLegislatif telah diisukan dan ada dugaan kuat mendapat gratifikasi dan sudah dilaporkan ke Kejaksaan Negeri
5 Kejaksaan Melaporkan dugaan gratifikasi PDAM Mengklarifikasi dugaan gratifikasi pada legislatif Kesulitan penyidikan kasus-kasus suap/korupsi
6 Badan Pemeriksa Keuangan Permohonan untuk pemeriksaan/audit Untuk memastikan bahwa PDAM melakukan manajemen keuangan dengan sehat. Jika memang kelak terbukti ada penyimpangan, maka dengan lembaga ini akan Harus mampu membangun pencitraan bahwa kasus PDAM telah membuat resah masyarakat pelanggan dan di dalamnya ada dugaan kasus korupsi
7 Intelektual perguruan tinggi Permohonan untuk mendukung bagaimana cara memahami hasil audit auditor independen, bpkp (badan pemeriksa keuangan dan pembangunan) Capacity building anggota RSPA® Membangun kolaborasi untuk membangun pendekatan yang lebih ilmiah, meski gagal karena debat publik yang dikemas gagal menghadirkan pihak-pihak yang berkompetenKeikutsertaan dalam seminar internasional lebih sebagai upaya membangun wacana gender mainstreaming. Namun sekali lagi ini sifatnya relatif elite, meski ada rencana mempublikasikannya.
8 Civil society:PancuranKutowinangunKaliosoKampung BaruTogatenJetisHMI Advokasi Mensosialisasikan agenda RSPA yang sarat dengan informasi teknikal dan konseptualTransformasi nilai-nilai demokrasi/good governance ke grassroot Diperlukan mediator-fasilitator yang mampu menyampaikan perkembangan mutakhir kepada masyarakatBanyak praktisi/aktivis RSPA yang sebagian masuk ke wilayah pragmatisPengemasan bahasa informasi yang lebih grassroot
9 Walikota Permohonan akses: Perwali dan informasi hasil audit PDAM rspa bisa menghitung dan memprediksikan harga yang pantasdata yang bisa ditandingkan dengan penetapan tarif sebelumnya Usaha ini meski secara temu muka sudah mencapai kesepakatan, tetapi orang2 di sktr Wlkt inkonsisten
lobby Meyakinkan dukungan atas pilihan kebjakan air yang berbasis good governanceKesediaan menjadi tim pengkaji tarif Usaha meyakinkan walikota menjadi penting karena selama ini ternyata Wlkt dibisiki dengan informasi sesat.
10 polisi Surat pemberitahuan Adanya jaminan konstitusional keamanan pada saat demonstrasiVerifikasi dan membangun imperatif bahwa preman tdk dibolehkan masuk dalam percaturan regulasi PDAM Kerjasama yang bagus dengan polisi menjelang demonstrasi dan
11 Preman Pertukaran informasi Diperolehnya peta preman yang ada di Salatiga dan keberpihakan kepada siapa Informasi dan usaha mengolah informasi ini mampu menumbuhkan keberanian untuk tetap melaksanakan aktivitas bergerakan
Counter Violence thd preman Pemetaan kekuatan preman di Salatiga Pemetaan ini menjadi sebuah instrumen untuk memainkan konstestasi di antara preman dlm konteks gerakan RSPA®
12 Universitas Penyelenggaraan debat publik Membangun “common sense” tentang kebijakan air pada arena universitas Gagal, karena info yang disajikan data 3 tahun lalu. Sementara RSPA tdk disertakan
Keikutsertaan dalam seminar internasional Mengemas dalam diskusi intens pada aras internasional tentang kampanye terkait dengan gender mainstreaming Mendapat repons yang bagus dari audiens dan rencana akan dipublikasikan

13

Mature lady (Netherlands) and young ladies from Australia

Sharing about water management problems from other countries

Membagi informasi komunitas pelanggan air di Salatiga dan Australia dan Negeri Belanda

Dengan pertukaran informasi seperti ini, RSPA® dan koleganya bisa mengkomparasikan pengalaman mengantisipasi regulasi air yang seharusnya

14

ICW Indonesia Corruption Watch

Upscalling movement?

Support informasi bagi RSPA® untuk aksi pemberantasan korupsi

Usaha berjaga-jaga ketika harus melakukan aktivitas di KPK

15

BPK – Badan Pemeriksa Keuangan

Upscalling arena of resistance

Permintaan untuk mengaudit PDAM

Tengah diusahakan untuk menyiapkan dokumen pendukungnya

16

Listhia

Listhia-Univ Soegijapranata-RSPA®

Fasilitasi kosientisasi melalui diskusi film Penyadaran pada kelompok elite RSPA® dan kelompok basis pelanggan air tentang betapa pentingnya mengkonservasi air. Kerjasama ini lebih menekankan aspek konsientisasi ketimbang terlibat dalam aksi mobilisasi massa yang turun ke jalan.

Sharing dengan pengamat lingkungan dari AS

Sharing pengalaman bagaimana gerakan sosial dalam mengawal tentang diskursus penyediaan air bersih

17

Konsolidasi internal Percik UPBH Percik

Pengkajian kebijakan pengelolaan air

Memperoleh logika kebijakan yang ilmiah dlm pengelolaan air

Terumuskannya “draft akademik” regulasi pengelolaan air yg baru

Bahan pendukung untuk proses litigasi

Belum optimal dan tidak jelas bagaimana komitmen yang harus dikontriusikan.

Tagged with: , , ,

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Sumadi said, on Agustus 22, 2008 at 9:32 am

    Komentarku aku kalah dech kalo kamu dah bikin block sendiri, awas kalo aku dan dibukain

  2. syanath said, on September 30, 2008 at 8:29 pm

    good


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: