Bataragoa Weblog

Kelahiran Litbang Pers Scientiarum

Posted in Jurnalisme by Geritz on Oktober 21, 2010

WALHI Kampanyekan Cabut PP No. 2/2008 dan Serahkan Donasi Penyelamatan Hutan Indonesia ke Depkeu

Posted in Lingkungan by Geritz on April 1, 2008

Siaran pers

WALHI/Friends of The Earth Indonesia

Lamp: Lembar Dukung Donasi Selamatkan 11,4 Juta Hektar Hutan Indonesia

Jakarta, Senin, 3 Maret 2008- Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) terus melanjutkan aksi kampanye agar pemerintah mencabut PP No. 2 Tahun 2008 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berasal dari Penggunaan Kawasan Hutan untuk Kepentingan Pembangunan di luar kegiatan kehutanan. Dalam aksi tersebut, para aktivis WALHI yang didampingi empat tiga tokoh Republik BBM, Jarwo Kwat, Gus Pur, dan Effendi Gozali, juga menyerahkan dana sumbangan masyarakat guna penyelamatan hutan Indonesia sebesar Rp 1.614.000 ke Departemen Keuangan (Depkeu) RI, Senin (3/3).

Dalam aksi tersebut, para aktivis WALHI yang dipimpin langsung Direktur Eksekutif Nasional, Chalid Muhammad, menyerahkan uang tersebut ke Depkeu dan diterima langsung oleh Agung Adhianto, PLH Kabag Pengelolaan Opini Publik Biro Humas Setjend Depeku. Uang sumbangan masyarakat guna penyelamatan hutan Indonesia itu dihitung bersama dan kemudian diamanatkan agar bisa dialokasikan untuk penyewaan hutan selama dua tahun.

“Ini akan kami jadikan gerakan masyarakat guna penyelamatan hutan Indonesia secara konkret. Seharusnya Depkeu juga membuka rekening terbuka bagi masyarakat yang ingin secara menyata menyelamatkan hutan Indonesia dari kerusakan,” ujar Chalid kepada Agung.

Dalam pertemuan tersebut Agung menyambut baik dan berjanji akan (more…)

Tagged with: , , ,

UBSTANSI “NUKLIR”-NYA MUBAH, “PLTN MURIA”-NYA HARAM

Posted in Lingkungan, PLTN by Geritz on April 1, 2008

SUBSTANSI “NUKLIR”-NYA MUBAH, “PLTN MURIA”-NYA HARAM

Berikut ini tentang klarifikasi dari Gus Nung (Ketua PC NU Jepara) tentang berita yang beredar tentang pernyataan PBNU mengenai “Mubah dan Haram”-nya PLNT. Redaksi menampilkan bentuk asli dari tulisan Gus Nung. Aplikasi nuklir selain pada PLTN, pada dasarnya hukumnya mubah (boleh-boleh saja). Sedangkan aplikasi nuklir pada PLTN di Indonesia, akan menjadi kajian lebih mendalam di tingkat PBNU. “Yang sudah jelas-jelas dihukumi HARAM adalah proyek PLTN Muria yang akan dibangun di Jepara!

 

Ini hasil mubahatsah (pembahasan) para ulama yang telah kami selenggarakan, sesuai ketentuan, al-ijtihad laa yunqodlu bi al-ijtihad (hasil ijtihad ulama tidak dapat dianulir oleh hasil ijtihad yang lain). Jadi keputusan ini tidak dapat dianulir oleh PWNU ataupun PBNU sekalipun, karena sifatnya juga kontekstual di Jepara,” jelas Ketua PCNU Jepara, H. Nuruddin Amin.

 

Penjelasan ini disampaikan berkaitan dengan banyaknya kesalahpahaman mengenai hasil mubahatsah alim ulama yang diselenggarakan oleh LBM-NU Jawa Tengah dan PCNU Jepara pada 1 September lalu. Mubahatsah yang diikuti oleh sekitar 100 kiai dari wilayah Jawa Tengah itu, memutuskan bahwa PLTN Muria hukumnya HARAM, mengingat mafsadat-nya (dampak negative) lebih besar daripada maslahat-nya (dampak positif). Tim perumus mubahatsah yang terdiri atas KH Aniq Muhammadun, KH Kholilurrohman, KH Ahmad Roziqin dan KH Imam Abi Jamroh, telah mempresentasikan keputusan tersebut dalam forum Raker Nasional LBM PBNU di Wisma Taman Wiladatika Cibubur, Kamis 6/9.

 

“Semua peserta Rakernas dapat memahami keputusan HARAM PLTN Muria. Semua peserta juga dapat menduduk-kan antara aplikasi nuklir yang hukumnya mubah dan aplikasi nuklir dalam PLTN Muria yang diharamkan oleh ulama Jepara,” jelas Nuruddin Amin. Keputusan itu antara lain didasarkan pada kaidah: dar’ul mafasid muqoddamun ‘ala jalbil mashalih (mencegah kerusakan atau dampak negative, harus didahulukan daripada mencapai kebaikan atau dampak positifnya). “Seringkali ada mafsadah dan maslahat berkumpul dalam sebuah perkara. Al-Qur’an mencontohkan khamr (minuman keras) dan maisir (judi), yang diakui ada manfaatnya, akan tetapi dampak negative atau dalam bahasa Al-Qur’annya, itsmuhuma akbaru min naf’ihima (dosanya lebih besar daripada manfaatnya), sehingga hukumnya HARAM! Ketentuan Al-Qur’an ini kemudian jadi rujukan utama, dan dirumuskan dalam berbagai kaidah fiqih,” papar Gus Nung, panggilan akrab Nuruddin Amin. Soal aplikasi nuklir selain pada PLTN, tidak menjadi perbincangan dalam mubahatsah alim ulama di Jepara. Nuruddin mengakui, memang aplikasi nuklir selain untuk PLTN, hukumnya boleh-boleh saja (mubah). Apalagi untuk kepentingan kedokteran, pertanian dan rekayasa genetika lain yang membawa manfaat. “Makanya, kita kan tidak pernah bereaksi negative terhadap hal itu. Silahkan ada reactor penelitian di Yogya, di Bandung, di Serpong. Itu untuk kebutuhan pengem-bangan keilmuan yang sangat bermanfaat. Tapi jangan sekali-kali melakukan simplifikasi, bahwa reactor PLTN itu ya sama dengan reactor penelitian di Serpong! Sama apanya dulu?” tanya Gus Nung memperingatkan.

 

Kapasitas reactor PLTN Muria yang rencana akan dibuat besarnya 4 x 1000 MW, jelas lebih besar dibandingkan dengan reactor penelitian Serpong yang kalau dijadikan listrik, kapasitasnya hanya 30 MW. Reactor nuklir di Serpong bertujuan menghasilkan radio isotop dan penelitian material yang bermanfaat untuk kepentingan kemanusiaan. Sedangkan reactor PLTN semata-mata menghasilkan panas yang digunakan untuk menggerakkan turbin generator listrik. “Kapasitas limbah yang dihasilkan juga berbeda. Limbah PLTN jauh lebih besar, yang di antaranya terdapat Limbah Tingkat Tinggi (high level waste) atau disebut plutonium, yang usia radiasinya 24.000 tahun, yang belum ada teknologi yang dapat menetralkannya. Ini diakui oleh semua ahli nuklir, baik yang pro maupun yang kontra PLTN. Dalam pembahasan fiqih kemarin itu, limbah ini dikategorikan sebagai mafsadah muhaqqoqoh (dampak negative yang nyata),” jelas Gus Nung. Argumentasi adanya “krisis energi”, dalam pembahasan fiqih, dipandang masih bersifat mauhumah atau dhanni (perkiraan). Sedangkan kebutuhan untuk memenuhinya, termasuk dalam kategori kebutuhan tahsiniyyah (tersier atau kebutuhan kemewahan), bukan hajiyyah (kebutuhan sekunder), apalagi dharuriyyah (kebutuhan primer). Sementara itu, sebenarnya kemampuan PLTN hanya mempunyai kontribusi sebesar 2-4 % dari kebutuhan energi nasional, sedangkan persediaan energy lain yang lebih aman masih relative banyak, berupa batubara, gas alam, angin, matahari, gelombang laut, bio fuel, bio etanol, dan lain-lain yang dimiliki oleh Indonesia. “Apalagi pemerintah tidak melibatkan masyarakat dalam memutuskan PLTN Muria, mereka tidak pernah diberi sosialisasi. Pemerintah tidak memenuhi prinsip fiqih siyasah yang menyatakan: tashorruf al-imam ‘ala al-ra’iyyah manuthun bi al-mashlahah (kebijakan pemerintah harus mengikuti kemaslahatan rakyat). Rencana PLTN Muria juga telah mengakibatkan kegelisahan masyarakat atau tarwi’ul muslimin.

 

Seluruh pertimbangan ini yang membuat para ulama putuskan PLTN Muria hukumnya HARAM,” tegas Gus Nung.

(Keceng)

Sumber : maremindonesia.com

Tulisan ini mengalami modifikasi bentuk. Bukan modifikasi isi tulisan.

Tagged with: , , , , , ,

Mencari Pemimpin Republik

Posted in Artikel, Ekonomi by Geritz on Maret 29, 2008

B HERRY PRIYONO

Indonesia hanya akan menjadi sebuah nama bagi kerumunan gejala sebab ia cuma hasil sampingan dari kerumunan tindakan individual atau sektoral yang kita lakukan. Mungkin itu yang sedang terjadi pada cita-cita tentang Indonesia dewasa ini.

Apabila mudah kita temukan pemimpin baru dalam bisnis, teknologi, media, seni, atau akademik, namun sulit menemukan pemimpin baru Republik, mungkin lantaran Republik jauh melampaui bidang sektoral seperti bisnis, teknologi, media, seni, akademik, atau bahkan gabungan itu semua. Tentu selalu ada guna membandingkan keduanya, pun seandainya itu hanya sebagai cara mengimbau agar seorang pemimpin Republik ingat bahwa hidup sebuah Republik berjalan di atas taman keragaman berbagai sektor kegiatan yang punya ciri sendiri.

Wakil Presiden Jusuf Kalla sangat gemar mengatakan bahwa pemimpin Republik, baik nasional maupun lokal, sebaiknya berlatar pebisnis (Kompas, 22/11/2006). Tentu ia (more…)

Tagged with: ,

Republik Alpa

Posted in Artikel by Geritz on Maret 29, 2008


Karlina Supelli

Apakah yang kita rayakan kala tahun kalender berganti? Tak seorang pun bisa melepas masa silam. Bahkan saat Paus Gregorius XIII mengubah perhitungan kalender hingga dalam semalam orang melesat dari tanggal 4 ke 15 Oktober 1582, tak sepotong waktu pun tercuri.

Di tengah kegaduhan menyiapkan pesta, mungkin kita juga minta peramal membaca tanda- tanda peristiwa yang akan datang. Apakah tanda itu berisi harapan atau kematian, tidak lagi relevan. Yang utama ialah mengulang ritual gaduh akhir tahun. Mungkin inilah cara kita melupakan barisan kelalaian yang berlarian meninggalkan korban berceceran di seluruh negeri. Indonesia ialah sebuah kisah tentang alpa.

Lalai dan abai

Dalam pekan terakhir 2007 peta Indonesia sesak oleh tanda merah bencana, menyambung lebih dari 200-an bencana besar-kecil sepanjang tahun. Sebagian besar dipicu oleh peristiwa alam. Ratusan orang tewas dan puluhan ribu menjadi pengungsi. Namun, mengatakan bahwa Indonesia kerap ditimpa bencana karena terletak di jalur rawan gempa, sama dengan mengulang pelajaran IPA kelas empat SD.

Menuduh alam adalah cara murah menyembunyikan kelalaian serta kelambanan mengatasi dampak bencana. (more…)

HABITUS YANG MEMBAWA DAMAI

Posted in Gerakan, Makalah by Geritz on Maret 25, 2008

Geritz – Mahasiswa Fakultas Pertanian UKSW

Pada 30 November 2007, UKSW mencapai usia yang ke 51. Artinya tak terasa bahwa UKSW telah melangkah menuju 50 tahun kedua. Perjalanan UKSW rasanya seperti sungai-waktu yang baru saja kita selami, tetapi arus dasarnya belum juga kita kenali. Mari kita sejenak diam, merasakan arusnya dan kemudian berefleksi atasnya.

Apakah UKSW ingin seperti negeri yang tercinta ini…? Negeri yang berulang kali ingin menyembuhkan diri, tetapi setiap kali kita dapati lagi sedang menghancurkan diri. Atau inin ikut-ikutan menambah dosa pendidikan..?

Banyak riset yang dihasilkan, tetapi juga tidak menimbulkan kemaslahatan masyarakat. Banyak sarjana yang dihasilkan tapi, tapi banyak pula penganguran dan yang bekerja tidak sejahtera. Banyak pula pengajar yang menjadi konsultan pemerintah, tetapi mahasiswanya terlantar karena kurang perhatian. Ada yang merasa sistemnya yang paling baik kemudian berusaha menerapkannya, walaupun dengan resiko mengorbankan mahasiswa.

 

HABITUS

Istilah habitus sudah menjadi perhatian para Rohaniawan cum Intelektual gereja Katolik. Namun ia mungkin masih terasa asing di telinga civitas UKSW, walaupun ia berada didekat kita. Oleh Filsuf cum sosiolog asal Prancis, Pierre Bourdieu, ia di artikan sebagai sistem disposisi yang berlangsung lama dan berubah-ubah (durable, transponsible disposition) (Chris Wilkes dkk, 2007:13).

Sebagai gugus kebiasaan rasa-merasa, memandang, serta bertindak, habitus bersifat spontan dan tidak disadari pelakunya, tidak pula disadari apakah kebiasaan itu terpuji atau tercela. Orang tidak sadar akan habitus-nya, sebagaimana orang tidak sadar akan bau mulutnya (Priyono, 2005).

Dengan berguru sejenak pada Pierre Bourdieu, walaupun dengan resiko terjadi pernyederhanaan berlebihan terhadap UKSW, roda yang macet di UKSW mungkin terjadi karena beberapa hal. Pertama, banyak tidak memahami Visi dan Misi UKSW sehingga tidak menggapnya penting dalam proses belajar dan mengajar, atau mungkin Visi dan Misi sudah usang sehingga perlu revitalisasi Visi dan Misi UKSW.

Kedua, anggapan bahwa dengan bebas kita bisa membentuk kehidupan bersama (more…)

Hari Terakhir Pelatihan Jurnalistik Scientiarum-Imbas

Posted in Berita Tulisanku by Geritz on Maret 15, 2008

Catatan :

Ini adalah versi asli dari news feature yang saya muat di www.scientiarum.com . Berita yang ada di http://www.Scientiarum.com, telah mengalami proses editing

Hari Terakhir Pelatihan Jurnalistik Scientiarum-Imbas

Geritz Febrianto -Wartawan Scientiarum

Ini Foto Saya bersama Andreas Harsono

Siang (13/03/08) ini pelatihan jurnalistik kami selesai. Saya ke Gedung Admisistrasi Pusat, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), untuk meminjam kunci kantor Scientiarum (SA). Saya memutuskan untuk meminta tagihan kuliah di keuangan terlebih dahulu. Di saya bertemu Saam Fredy Marpaung, dari bagian humas UKSW.

 

 

“Bagaimana pelatihannya?” Sapa Fredy

”ini baru saja selesai, bang”

 

Bisa buat berita tentang pelatihan kalian untuk website uksw.edu?

Bisa, tapi hari terakhir saja ya? Karena memori saya dari hari senin sudah tidak lengkap.

 

“Ok. Saya tunggu.” Ia pun berlalu meninggalkan saya.

 

Setelah meminta tagihan saya segera menuju ke bagian keamanan untuk meminjam kunci kantor Scientiarum. Setelah menerima kunci, saya segera menuju kantor Scientiarum.

 

Saat menulis berita ini Wilson Therik datang.

“lagi bikin apa bung?”

“Lagi tulis berita untuk uksw.edu

“Bagaimana kabar Andreas?” Sambil memberikan flashdisk-nya.

(more…)

KABUPATEN MAMASA

Posted in Uncategorized by Geritz on Februari 22, 2008

Kabupaten Mamasa merupakan salah satu Kabupaten di yang berada di Provinsi Sulawesi Barat Indonesia. Kabupaten ini didirikan disaat secara administratif masih berada dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan dengan terbitnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Mamasa dan Kota Palopo. Ibukota Kabupaten Mamasa terletak di Kota Mamasa, sekitar 252 km dari Kota Mamasa, dengan jarak tempuh sekitar + 6 jam dengan menggunakan kendaraan roda empat. Dari kota Pare-pare, pusat kawasan pengembangan ekonomi terpadu (KAPET) di provinsi Sulawesi Selatan sekitar 100 km. Kabupaten Mamasa ini memiliki luas wilayah 2.759,23 km². Kabupaten Mamasa memiliki beberapa objek wisata yaitu wisata budaya Kuburan Tedong-tedong Minanga di Kecamatan Mamasa, Wisata alam Air Terjun Sarambu dan Permandian Air Panas di desa Tadisi Kecamatan Sumarorong, Agro Wisata Perkebunan Markisa di Kecamatan Mamasa, Wisata Budaya Rumah adat, Perkampungan Tradisional Desa Ballapeu.

Tagged with:

Tentang RSPA®

Posted in air by Geritz on Februari 22, 2008
Workshop RSPA®Latar belakang Pemikiran/Konsep
1. When and how was the RSPA team formed?

Rakyat Salatiga Peduli Air (RSPA) semula diinisiasi oleh DPC PKB [Dewan Pengurus Cabang Partai Kebangkitan Bangsa]. Prakarsa ini digulirkan pada akhir Agustus 2006. DPC PKB ini memprakarsai sebuah pertemuan dengan mengusung isu tentang respons masyarakat Salatiga – pelanggan PDAM – untuk mengambil sikap atas kebijakan menaikkan tarif air yang dianggap semena-mena. Semena-mena, karena kebijakan tersebut hanya diputuskan dengan: [a] klaim dua sosialisasi yakni di kalangan DPRD yang kemudian disebut dengan ekspose. Ekspose ini kemudian dianggap sebagai persetujuan dari legislatif. Padahal dalam demonstrasi massal 26 Desember 2006, Ketua DPRD sendiri menegaskan di depan massa bahwa DPRD tidak pernah memberikan persetujuan atas ditetapkannya Perwali (Peraturan Walikota) No 36 tahun 2006. Kedua sosialisasi pada Forum Lintas LSM se-Salatiga; [b] karena di kalangan direksi PDAM (Badan pengawas PDAM) sudah ada dua wakil masyarakat, yang seolah-olah sudah merepresentasi komnitas pelanggan PDAM.

Sejumlah pertemuan digulirkan dengan mengambil tempat pertemuan di Kantor DPC PKB, Jl Patimura Salatiga. Prakarsa ini digulirkan lantaran PDAM melalui Perwali No 36/ 2006 telah menetapkan kenaikan tarif air minum mulai dari 100% – 130%. Dalih kenaikan yang diargumentasikan adalah karena:

[1] sudah dua tahun terakhir tidak ada kenaikan tarif PDAM,

(more…)

Tagged with: , , ,

MEMPERTEGAS PERAN KAUM INTELEKTUAL DALAM MENGAWAL[1] KEBIJAKAN YANG PARTISIPATIF GUNA MEREDAM KORUPSI

Posted in Makalah by Geritz on Februari 22, 2008

MEMPERTEGAS PERAN KAUM INTELEKTUAL DALAM MENGAWAL[1] KEBIJAKAN YANG PARTISIPATIF GUNA MEREDAM KORUPSI

(Studi Kasus Pengawalan Atas Pembuatan Kebijakan Tentang Tarif Air di Salatiga)

Geritz Febrianto Rindang Bataragoa[2]

Abstract

Personal is political. The problem is that not many people are aware of the fact. Even the intellectuals do not realize that their lives are very much influenced and at the same time influence politics. This makes them afraid of being involved in some practically political actions. Referring to Bourdieau’s “habitus”, this will be an opinion paper commenting on the academicians’ participation into the case of water tariff problems in Salatiga and how they perceive the social movement for enhancing participatory public policy making. This overview of the academicians’ attitude towards politics will reflect the socio-cultural mindset that influences the practice of corruption in Indonesia. Knowing the mindset, this paper will suggest some practical actions that may initiate the transformation in Indonesian society. Keywords: Bourdieau’s “habitus”, academicians’ participation, water tariff problems, political actions, participatory public policy making, Indonesian society,

Pendahuluan

Makalah ini merupakan pengalaman berharga sebagai aktivis mahasiswa di Kota Salatiga. Cerita tentang Gerakan Sosial di Salatiga ini merupakan sebuah pengantar untuk memasuki melihat Habitus Kaum intelektual. Lahirnya Peraturan Walikota 36/2006 Tentang kenaikan tarif PDAM di Salatiga, mendatangkan keresahan rakyat Kota Salatiga. Gerakan Masyarakat Salatiga yang beraliansi yang kemudian dikenal sebagai Rakyat Salatiga Peduli Air (RSPA/®[3]), berargumentasi bahwa Peraturan Walikota 36/2006 merupakan kebijakan yang sangat menyesakkan komunitas pelanggan PDAM. Namun (more…)