<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Bataragoa Weblog</title>
	<atom:link href="http://bataragoa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bataragoa.wordpress.com</link>
	<description>Deo Et Patria</description>
	<lastBuildDate>Thu, 21 Oct 2010 15:29:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='bataragoa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Bataragoa Weblog</title>
		<link>http://bataragoa.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bataragoa.wordpress.com/osd.xml" title="Bataragoa Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://bataragoa.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kelahiran Litbang Pers Scientiarum</title>
		<link>http://bataragoa.wordpress.com/2010/10/21/kelahiran-litbang-pers-scientiarum/</link>
		<comments>http://bataragoa.wordpress.com/2010/10/21/kelahiran-litbang-pers-scientiarum/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Oct 2010 15:26:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Geritz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bataragoa.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Litbang dibentuk pada bulan Februari 2010. Saat itu pemimpin umum Scientiarum meminta saya untuk memimpin dan membentuknya. Dibentuk pertengahan periode kepengurusan. Saya terima saja. Riset, saya belum pernah melakukannya, kecuali riset-riset kecil untuk tulisan saya di jurnal dan call for papers. Sebenarnya diskusi pembentukan litbang sudah ada pada periode-periode sebelumnya, namun sepertinya baru terbentuk saat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bataragoa.wordpress.com&amp;blog=2944921&amp;post=24&amp;subd=bataragoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-24"></span></p>
<p>Litbang dibentuk pada bulan Februari 2010. Saat itu pemimpin umum  Scientiarum meminta saya untuk memimpin dan membentuknya. Dibentuk  pertengahan periode kepengurusan. Saya terima saja. Riset, saya belum  pernah melakukannya, kecuali riset-riset kecil untuk tulisan saya di  jurnal dan <em>call for papers</em>.</p>
<p>Sebenarnya diskusi pembentukan litbang  sudah ada pada periode-periode sebelumnya, namun sepertinya baru  terbentuk saat James Anthony Leonard Filemon menjadi pemimpin umum.</p>
<p>Saya kesulitan mencari orang untuk mengisi litbang. Dalam pemikiran  saya, orang yang berkompeten mengisi litbang adalah dari redaksi. Untuk  organisasi pers, setiap anggota litbang (penelitian dan pengembangan)  sebaiknya harus bisa menulis. Selain itu bisa punya pengetahuan tentang  metodologi (bisa <em>learning by doing</em>).</p>
<p>Awalnya Evan Adiananta Nonoputro bergabung, tapi jarang menampakkan diri. Mungkin sibuk mencari sesuatu. Praktis saya sendiri.</p>
<p>Litbang kemudian tidak punya program terstruktur. Maka yang dilakukan hanyalah <em>training</em> bagi keluarga besar SA dan bisa diperluas. Untuk riset belum dilakukan sama sekali.</p>
<p>Latihan jurnalistik, ini hanya melanjutkan apa yang telah berjalan.  Berjalan sekitar 4-5 kali. Dua di antaranya saat litbang terbentuk.  Pesertanya pasang surut. Saya kurang tahu persis, mengapa pasang surut.  Kalau waktu, saya rasa bisa dipenuhi, karena dilakukan pada hari Sabtu  (mungkin telah disepakati).</p>
<p>Saat hadir, saya melihat kurang kesiapan teman-teman untuk mengikuti  pelatihan, mungkin karena menganggap ini formalitas atau ini sama dengan  perkuliahan biasa. Jadi kalau mau saya kembangkan pelatihannya, ya  harus berpikir kembali (sok tahu mode: on).</p>
<p>Belakangan saya merasa mungkin <em>trainer</em>-nya yang kurang ganteng, eh salah, kurang kompeten…</p>
<p>Litbang awal juga melakukan analisis ringan tentang produktivitas berita (kuantitatif). Kegiatan ini adalah riset yang pertama.</p>
<p>Melalui tulisan ini saya mau usul, bagaimana kalau anggota SA yang  terproduktif dalam bulan tertentu mendapatkan coklat? Ini berlaku juga  untuk tulisan terbaik (menurut litbang). Jadi dua coklat dalam sebulan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bataragoa.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bataragoa.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bataragoa.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bataragoa.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bataragoa.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bataragoa.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bataragoa.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bataragoa.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bataragoa.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bataragoa.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bataragoa.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bataragoa.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bataragoa.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bataragoa.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bataragoa.wordpress.com&amp;blog=2944921&amp;post=24&amp;subd=bataragoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bataragoa.wordpress.com/2010/10/21/kelahiran-litbang-pers-scientiarum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/41f50b9c8f62b118e3d4d8ffbbc7688e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Geritz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>WALHI Kampanyekan Cabut PP No. 2/2008 dan Serahkan Donasi Penyelamatan Hutan Indonesia ke Depkeu</title>
		<link>http://bataragoa.wordpress.com/2008/04/01/walhi-kampanyekan-cabut-pp-no-22008-dan-serahkan-donasi-penyelamatan-hutan-indonesia-ke-depkeu/</link>
		<comments>http://bataragoa.wordpress.com/2008/04/01/walhi-kampanyekan-cabut-pp-no-22008-dan-serahkan-donasi-penyelamatan-hutan-indonesia-ke-depkeu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Apr 2008 04:24:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Geritz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[2/2008]]></category>
		<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[PP No]]></category>
		<category><![CDATA[Walhi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bataragoa.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Siaran pers WALHI/Friends of The Earth Indonesia Lamp: Lembar Dukung Donasi Selamatkan 11,4 Juta Hektar Hutan Indonesia Jakarta, Senin, 3 Maret 2008- Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) terus melanjutkan aksi kampanye agar pemerintah mencabut PP No. 2 Tahun 2008 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berasal dari Penggunaan Kawasan Hutan untuk Kepentingan Pembangunan di luar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bataragoa.wordpress.com&amp;blog=2944921&amp;post=21&amp;subd=bataragoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Siaran pers</strong></p>
<p>WALHI/Friends of The Earth Indonesia</p>
<p>Lamp: Lembar Dukung Donasi Selamatkan 11,4 Juta Hektar Hutan Indonesia</p>
<p>Jakarta, Senin, 3 Maret 2008-  Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) terus melanjutkan aksi kampanye agar pemerintah mencabut PP No. 2 Tahun 2008 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berasal dari Penggunaan Kawasan Hutan untuk Kepentingan Pembangunan di luar kegiatan kehutanan. Dalam aksi tersebut, para aktivis WALHI yang didampingi empat tiga tokoh Republik BBM, Jarwo Kwat, Gus Pur, dan Effendi Gozali, juga menyerahkan dana sumbangan masyarakat guna penyelamatan hutan Indonesia sebesar Rp 1.614.000 ke Departemen Keuangan (Depkeu) RI, Senin (3/3).</p>
<p>Dalam aksi tersebut, para aktivis WALHI yang dipimpin langsung Direktur Eksekutif Nasional, Chalid Muhammad, menyerahkan uang tersebut ke Depkeu dan diterima langsung oleh Agung Adhianto, PLH Kabag Pengelolaan Opini Publik Biro Humas Setjend Depeku. Uang sumbangan masyarakat guna penyelamatan hutan Indonesia itu dihitung bersama dan kemudian diamanatkan agar bisa dialokasikan untuk penyewaan hutan selama dua tahun.</p>
<p>“Ini akan kami jadikan gerakan masyarakat guna penyelamatan hutan Indonesia secara konkret. Seharusnya Depkeu juga membuka rekening terbuka bagi masyarakat yang ingin secara menyata menyelamatkan hutan Indonesia dari kerusakan,” ujar Chalid kepada Agung.</p>
<p>Dalam pertemuan tersebut Agung menyambut baik dan berjanji akan <span id="more-21"></span>mengkonsultasikannya dengan Menteri Keuangan. Namun Chalid menandaskan aksinya tidak akan berhenti sampai pemerintah mencabut PP tersebut.</p>
<p>Seperti diberitakan sebelumnya pada 4 Februari 2008, pemerintah mengeluarkan PP tersebut guna memberikan keleluasaan izin bagi 14 perusahaan tambang untuk melakukan pembukaan hutan lindung dan hutan produksi untuk kegiatan tambangnya, infrastruktur dan jalan tol dengan tarif sewa seharga Rp 120 untuk hutan produksi dan Rp 300 per meter persegi per tahun.  Harga itu sangat lebih murah (bahkan) dengan harga sebuah pisang goring yang biasa dijual. Karena itu dalam aksi tersebut, para aktivis WALHI dibantu para tukang pisang goreng menggelar aksinya menyerukan pencabutan PP, dan mengumpulkan dana guna penyelamatan hutan Indonesia.</p>
<p>Dalam skema PP tersebut maka bisa diperkirakan sekitar 11,4 juta hektar hutan lindung Indonesia bakal hancur lebur. Tentu saja bisa dipastikan dalam waktu ke depan Indonesia akan semakin parah mengalami bencana ekologis yang lebih dahsyat yang pasti akan menyengsarakan masyarakat kita akibat diberlakukannya PP itu. WALHI merujuk pada sejumlah bencana yang terjadi diawal tahun 2008 ini dimana semuanya memiliki kaitan langsung dengan pola eksploitasi sumberdaya selama ini.</p>
<p>“Ke depan bencana ekologis kita yang lebih disebabkan salahnya kebijakan seperti PP ini  jelas akan menimbulkan masalah yang jauh lebih besar dimasa mendatang.  Seharusnya Presiden Indonesia mengeluarkan peraturan pengganti undang-undang (PERPU) tentang Penyelamatan dan Pemulihan Ekosisitem Hutan karena tingkat kegentingan yang sudah sedemikian tinggi. Bencana ekologis adalah salah satu indikator utama kegentingan tersebut,”  jelas Chalid Muhammad, Direktur Eksekutif Nasional WALHI, seraya menandaskan bahwa  Presiden tidak memiliki kepekaan atas kegentingan tersebut.</p>
<p>“Di saat Indonesia dirundung ratusan bencana akibat salah urus negara yang telah berlangsung lama,  Presiden malah justru mengeluarkan peraturan yang akan menjadi katalisator bencana dimasa mendatang. Pemerintahan era ini akan dicatat oleh generasi berikutnya sebagai fasilitator utama yang mempercepat terjadinya perubahan iklim,” tandas Chalid.</p>
<p>Chalid juga menambahkan,  seharusnya pemerintah mengeluarkan peraturan pengganti undang-undang yang mengatur tentang moratorium logging dan stop konversi hutan, strategi pemenuhan dalam negeri atas industri kehutanan, restorasi (pemulihan) ekosistem secara terpadu dan melibatkan masyarakat, dan sanksi tegas bagi perusahaan yang konsesinya terjadi kebakaran hutan. Bukan malah mengeluarkan kebijakan yang akan menjadi pemicu percepatan penghancuran hutan.</p>
<p>Kampanye Cabut PP dan Pembukaan Donasi untuk Hutan Indonesia</p>
<p>Sementara itu, pengkampanye hutan WALHI, Rully Syumanda menyebutkan bahwa aksi kali ini merupakan awal dari rangkaian aksi yang akan terus digalang oleh WALHI dan masyarakat. WALHI akan menggalang dukungan yang lebih luas dari masyarakat berupa aksi untuk menyewa hutan lindung untuk diselamatkan. Sebelum aksi di Depkeu Senin tadi, masyarakat telah memberikan komitmennya untuk penyelamatan hutan lebih dari 169 hektar dari 124 orang dengan total komitmen kawasan hutan yang akan diselamatkan dalam bentuk penyewaan menjadi 1.868.799 meter persegi.</p>
<p>Namun dana itu kemudian bertambah menjadi Rp 1.614.000 ketika dalam aksi para aktivis bahkan wartawan bersama-sama mengeluarkan koceknya guna penyelamatan hutan Indonesia sebelum penyerahan secara langsung ke Depkeu. WALHI hanya membatasi kontribusi perlindungan hutan selama 2 tahun. Hal ini dikarenakan WALHI dan para kontributor lainnya percaya bahwa pada tahun 2009 PP tersebut akan dicabut oleh presiden yang baru pada tahun 2009.</p>
<p>Para penyewa adalah mereka-mereka yang peduli dengan Perubahan Iklim dan berniat menurunkan laju pemanasan global melalui penyelamatan hutan. Mereka adalah ibu-ibu rumah tangga, pekerja, tokoh-tokoh nasional, akademisi, pelajar dan aktivis. Semuanya tersebar di dalam dan luar negeri. Sebut saja istri aktivis Munir telah menyumbangkan uangnya sebesar Rp 100.000. Begitu pula aktivis Kontras Usman Hamid dan aktivis Wardah Hafidz menyumbangkan uangnya untuk 10 Ha hutan, keluarga besar Daniel Dhakidae menyumbang uang untuk 10 Ha,  begitu pula dari Franky Sahilatua, Olga lidya, dan Anya Dwinov. Bahkan dalam aksi ini, beberapa wartawan ikut merogoh koceknya guna menyelamatkan hutan Indonesia.</p>
<p>Saat ini, WALHI juga mencatatkan 229 individu dalam dan luar negeri, dan 376 organisasi di Indonesia telah mendaftar untuk mendukung pencabutan PP No. 2/2008.</p>
<p>WALHI dan masyarakat umum Akan terus menggalang dukungan penolakan PP No 2/2008 sampai ada pembatalan oleh presiden.</p>
<p>Kontak:<br />
Chalid Muhammad (Direktur Eksekutif Nasional Walhi): 0811847163<br />
Rully Syumanda (Pengkampanye Isu Hutan Walhi):  0813 199 66 998</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.walhi.or.id/kampanye/hutan/konversi/080303_cbt_pp22008_sp/">WALHI</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bataragoa.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bataragoa.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bataragoa.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bataragoa.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bataragoa.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bataragoa.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bataragoa.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bataragoa.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bataragoa.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bataragoa.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bataragoa.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bataragoa.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bataragoa.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bataragoa.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bataragoa.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bataragoa.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bataragoa.wordpress.com&amp;blog=2944921&amp;post=21&amp;subd=bataragoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bataragoa.wordpress.com/2008/04/01/walhi-kampanyekan-cabut-pp-no-22008-dan-serahkan-donasi-penyelamatan-hutan-indonesia-ke-depkeu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/41f50b9c8f62b118e3d4d8ffbbc7688e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Geritz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>UBSTANSI &#8220;NUKLIR&#8221;-NYA MUBAH, &#8220;PLTN MURIA&#8221;-NYA HARAM</title>
		<link>http://bataragoa.wordpress.com/2008/04/01/ubstansi-nuklir-nya-mubah-pltn-muria-nya-haram/</link>
		<comments>http://bataragoa.wordpress.com/2008/04/01/ubstansi-nuklir-nya-mubah-pltn-muria-nya-haram/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Apr 2008 03:53:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Geritz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[PLTN]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Nung]]></category>
		<category><![CDATA[HARAM]]></category>
		<category><![CDATA[Muria]]></category>
		<category><![CDATA[NU]]></category>
		<category><![CDATA[Nuklir]]></category>
		<category><![CDATA[PBNU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bataragoa.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[SUBSTANSI &#8220;NUKLIR&#8221;-NYA MUBAH, &#8220;PLTN MURIA&#8221;-NYA HARAM Berikut ini tentang klarifikasi dari Gus Nung (Ketua PC NU Jepara) tentang berita yang beredar tentang pernyataan PBNU mengenai “Mubah dan Haram”-nya PLNT. Redaksi menampilkan bentuk asli dari tulisan Gus Nung. Aplikasi nuklir selain pada PLTN, pada dasarnya hukumnya mubah (boleh-boleh saja). Sedangkan aplikasi nuklir pada PLTN di Indonesia, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bataragoa.wordpress.com&amp;blog=2944921&amp;post=20&amp;subd=bataragoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><b>SUBSTANSI &#8220;NUKLIR&#8221;-NYA MUBAH, &#8220;PLTN MURIA&#8221;-NYA HARAM </b></p>
<p class="style25" align="justify">Berikut ini tentang klarifikasi dari Gus Nung (Ketua PC NU Jepara) tentang berita yang beredar tentang pernyataan PBNU mengenai “Mubah dan Haram”-nya PLNT. Redaksi menampilkan bentuk asli dari tulisan Gus Nung. Aplikasi nuklir selain pada PLTN, pada dasarnya hukumnya mubah (boleh-boleh saja). Sedangkan aplikasi nuklir pada PLTN di Indonesia, akan menjadi kajian lebih mendalam di tingkat PBNU. &#8220;Yang sudah jelas-jelas dihukumi HARAM adalah proyek PLTN Muria yang akan dibangun di Jepara!</p>
<p class="style25" align="justify">&nbsp;</p>
<p class="style25" align="justify">Ini hasil mubahatsah (pembahasan) para ulama yang telah kami selenggarakan, sesuai ketentuan, al-ijtihad laa yunqodlu bi al-ijtihad (hasil ijtihad ulama tidak dapat dianulir oleh hasil ijtihad yang lain). Jadi keputusan ini tidak dapat dianulir oleh PWNU ataupun PBNU sekalipun, karena sifatnya juga kontekstual di Jepara,&#8221; jelas Ketua PCNU Jepara, H. Nuruddin Amin.</p>
<p class="style25" align="justify">&nbsp;</p>
<p class="style25" align="justify">Penjelasan ini disampaikan berkaitan dengan banyaknya kesalahpahaman mengenai hasil mubahatsah alim ulama yang diselenggarakan oleh LBM-NU Jawa Tengah dan PCNU Jepara pada 1 September lalu. Mubahatsah yang diikuti oleh sekitar 100 kiai dari wilayah Jawa Tengah itu, memutuskan bahwa PLTN Muria hukumnya HARAM, mengingat mafsadat-nya (dampak negative) lebih besar daripada maslahat-nya (dampak positif). Tim perumus mubahatsah yang terdiri atas KH Aniq Muhammadun, KH Kholilurrohman, KH Ahmad Roziqin dan KH Imam Abi Jamroh, telah mempresentasikan keputusan tersebut dalam forum Raker Nasional LBM PBNU di Wisma Taman Wiladatika Cibubur, Kamis 6/9.</p>
<p class="style25" align="justify">&nbsp;</p>
<p class="style25" align="justify"> &#8220;Semua peserta Rakernas dapat memahami keputusan HARAM PLTN Muria. Semua peserta juga dapat menduduk-kan antara aplikasi nuklir yang hukumnya mubah dan aplikasi nuklir dalam PLTN Muria yang diharamkan oleh ulama Jepara,&#8221; jelas Nuruddin Amin. Keputusan itu antara lain didasarkan pada kaidah: dar&#8217;ul mafasid muqoddamun &#8216;ala jalbil mashalih (mencegah kerusakan atau dampak negative, harus didahulukan daripada mencapai kebaikan atau dampak positifnya). &#8220;Seringkali ada mafsadah dan maslahat berkumpul dalam sebuah perkara. Al-Qur&#8217;an mencontohkan khamr (minuman keras) dan maisir (judi), yang diakui ada manfaatnya, akan tetapi dampak negative atau dalam bahasa Al-Qur&#8217;annya, itsmuhuma akbaru min naf&#8217;ihima (dosanya lebih besar daripada manfaatnya), sehingga hukumnya HARAM! Ketentuan Al-Qur&#8217;an ini kemudian jadi rujukan utama, dan dirumuskan dalam berbagai kaidah fiqih,&#8221; papar Gus Nung, panggilan akrab Nuruddin Amin. Soal aplikasi nuklir selain pada PLTN, tidak menjadi perbincangan dalam mubahatsah alim ulama di Jepara. Nuruddin mengakui, memang aplikasi nuklir selain untuk PLTN, hukumnya boleh-boleh saja (mubah). Apalagi untuk kepentingan kedokteran, pertanian dan rekayasa genetika lain yang membawa manfaat. &#8220;Makanya, kita kan tidak pernah bereaksi negative terhadap hal itu. Silahkan ada reactor penelitian di Yogya, di Bandung, di Serpong. Itu untuk kebutuhan pengem-bangan keilmuan yang sangat bermanfaat. Tapi jangan sekali-kali melakukan simplifikasi, bahwa reactor PLTN itu ya sama dengan reactor penelitian di Serpong! Sama apanya dulu?&#8221; tanya Gus Nung memperingatkan.</p>
<p class="style25" align="justify">&nbsp;</p>
<p class="style25" align="justify">Kapasitas reactor PLTN Muria yang rencana akan dibuat besarnya 4 x 1000 MW, jelas lebih besar dibandingkan dengan reactor penelitian Serpong yang kalau dijadikan listrik, kapasitasnya hanya 30 MW. Reactor nuklir di Serpong bertujuan menghasilkan radio isotop dan penelitian material yang bermanfaat untuk kepentingan kemanusiaan. Sedangkan reactor PLTN semata-mata menghasilkan panas yang digunakan untuk menggerakkan turbin generator listrik. &#8220;Kapasitas limbah yang dihasilkan juga berbeda. Limbah PLTN jauh lebih besar, yang di antaranya terdapat Limbah Tingkat Tinggi (high level waste) atau disebut plutonium, yang usia radiasinya 24.000 tahun, yang belum ada teknologi yang dapat menetralkannya. Ini diakui oleh semua ahli nuklir, baik yang pro maupun yang kontra PLTN. Dalam pembahasan fiqih kemarin itu, limbah ini dikategorikan sebagai mafsadah muhaqqoqoh (dampak negative yang nyata),&#8221; jelas Gus Nung. Argumentasi adanya &#8220;krisis energi&#8221;, dalam pembahasan fiqih, dipandang masih bersifat mauhumah atau dhanni (perkiraan). Sedangkan kebutuhan untuk memenuhinya, termasuk dalam kategori kebutuhan tahsiniyyah (tersier atau kebutuhan kemewahan), bukan hajiyyah (kebutuhan sekunder), apalagi dharuriyyah (kebutuhan primer). Sementara itu, sebenarnya kemampuan PLTN hanya mempunyai kontribusi sebesar 2-4 % dari kebutuhan energi nasional, sedangkan persediaan energy lain yang lebih aman masih relative banyak, berupa batubara, gas alam, angin, matahari, gelombang laut, bio fuel, bio etanol, dan lain-lain yang dimiliki oleh Indonesia. &#8220;Apalagi pemerintah tidak melibatkan masyarakat dalam memutuskan PLTN Muria, mereka tidak pernah diberi sosialisasi. Pemerintah tidak memenuhi prinsip fiqih siyasah yang menyatakan: tashorruf al-imam &#8216;ala al-ra&#8217;iyyah manuthun bi al-mashlahah (kebijakan pemerintah harus mengikuti kemaslahatan rakyat). Rencana PLTN Muria juga telah mengakibatkan kegelisahan masyarakat atau tarwi&#8217;ul muslimin.</p>
<p class="style25" align="justify">&nbsp;</p>
<p class="style25" align="justify">Seluruh pertimbangan ini yang membuat para ulama putuskan PLTN Muria hukumnya HARAM,&#8221; tegas Gus Nung.</p>
<p>(Keceng)</p>
<p>Sumber : <a href="http://maremindonesia.com/" title="Marem">maremindonesia.com</a></p>
<p>Tulisan ini  mengalami modifikasi bentuk. Bukan modifikasi isi tulisan.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bataragoa.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bataragoa.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bataragoa.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bataragoa.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bataragoa.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bataragoa.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bataragoa.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bataragoa.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bataragoa.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bataragoa.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bataragoa.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bataragoa.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bataragoa.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bataragoa.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bataragoa.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bataragoa.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bataragoa.wordpress.com&amp;blog=2944921&amp;post=20&amp;subd=bataragoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bataragoa.wordpress.com/2008/04/01/ubstansi-nuklir-nya-mubah-pltn-muria-nya-haram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/41f50b9c8f62b118e3d4d8ffbbc7688e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Geritz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mencari Pemimpin Republik</title>
		<link>http://bataragoa.wordpress.com/2008/03/29/mencari-pemimpin-republik/</link>
		<comments>http://bataragoa.wordpress.com/2008/03/29/mencari-pemimpin-republik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 15:15:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Geritz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bataragoa.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[B HERRY PRIYONO Indonesia hanya akan menjadi sebuah nama bagi kerumunan gejala sebab ia cuma hasil sampingan dari kerumunan tindakan individual atau sektoral yang kita lakukan. Mungkin itu yang sedang terjadi pada cita-cita tentang Indonesia dewasa ini. Apabila mudah kita temukan pemimpin baru dalam bisnis, teknologi, media, seni, atau akademik, namun sulit menemukan pemimpin baru [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bataragoa.wordpress.com&amp;blog=2944921&amp;post=19&amp;subd=bataragoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="tglct"></span></p>
<div align="center"><b>B HERRY PRIYONO</b></div>
<p>Indonesia hanya akan menjadi sebuah nama bagi kerumunan gejala sebab ia cuma hasil sampingan dari kerumunan tindakan individual atau sektoral yang kita lakukan. Mungkin itu yang sedang terjadi pada cita-cita tentang Indonesia dewasa ini.</p>
<p>Apabila mudah kita temukan pemimpin baru dalam bisnis, teknologi, media, seni, atau akademik, namun sulit menemukan pemimpin baru Republik, mungkin lantaran Republik jauh melampaui bidang sektoral seperti bisnis, teknologi, media, seni, akademik, atau bahkan gabungan itu semua. Tentu selalu ada guna membandingkan keduanya, pun seandainya itu hanya sebagai cara mengimbau agar seorang pemimpin Republik ingat bahwa hidup sebuah Republik berjalan di atas taman keragaman berbagai sektor kegiatan yang punya ciri sendiri.</p>
<p>Wakil Presiden Jusuf Kalla sangat gemar mengatakan bahwa pemimpin Republik, baik nasional maupun lokal, sebaiknya berlatar pebisnis (Kompas, 22/11/2006). Tentu ia <span id="more-19"></span>punya alasan yang dibuat masuk akal, juga seandainya kemasukakalan itu sekadar hasil perpanjangan egonya. Gagasan yang sama validnya diajukan oleh Butet Kertaradjasa dengan bilang bahwa pemimpin Republik sebaiknya berlatar seniman.</p>
<p>Pemimpin Republik—dan dengan itu juga kepemimpinan Republik—dipandang jauh lebih luas dan melampaui corak khusus sektor seperti bisnis, seni, teknologi, akademik, media, <!--more-->dan seterusnya. Karena itu, kebiasaan menyamakan secara kategoris bisnis dan Republik ibarat memaksa kita menganggap sebatang pohon sebagai hutan. Republik punya kategori berbeda dari dunia akademik, seni, media, teknologi, dan seterusnya.</p>
<p>Lalu, di mana letak bedanya? Catatan kecil ini tak bermaksud menjawab pertanyaan mahabesar itu. Ia hanya mengiris bagian sangat kecil dari pertanyaan itu sebagai titik berangkat, terutama yang menyangkut implikasinya bagi pencarian pemimpin Republik. Perkenankan saya mengajukan irisan kecil problematik itu dalam pertanyaan: bila Republik jauh melampaui bidang sektoral hidup-bersama seperti bisnis, teknologi, seni, media, ataupun akademik, apa implikasinya untuk pemimpin dan kepemimpinan Republik?</p>
<p><b>Kesempitan sektoral</b></p>
<p>Mulailah dari soal kecil. Mengapa pemimpin yang sukses di bidang tertentu tak serta-merta cocok jadi pemimpin Republik? Jawabnya dua lapis. Pertama, dengan mengandaikan Republik jauh lebih besar dan melampaui bidang sektoral yang spesifik, cara-berpikir seperti yang biasa diajukan Kalla adalah bagian kesesatan elementer pars pro toto. Ini sesat logika paling sederhana. Kedua, lebih serius dari lapis pertama, cara-berpikir itu mengabaikan perbedaan raison d’être antara Republik dan bidang sektoral yang spesifik. Ambil satu contoh. Apa alasan adanya tata-pengadilan (hukum)? Tentu: pengelolaan tata kesamaan hukum bagi keadilan, dan bukan untuk dakwah atau mengeruk laba. Penerapan prinsip bisnis dalam kinerja tata-pengadilan akan berakibat ”keadilan” selalu hanya dimenangkan oleh mereka yang mampu membayar paling tinggi sebab bisnis beroperasi dengan prinsip keramat ”pembayar tertinggi adalah pemenang”. Dengan itu, keadilan tak lagi soal hak, tetapi daya-beli. Akhirnya, tata-pengadilan kehilangan alasan adanya.</p>
<p>Keragaman raison d’être bidang sektoral itu indah dan sesungguhnya dapat bekerja sebagai pencegah kecenderungan totalitarianisme, entah totalitarianisme oleh doktrin agama, politik, atau bisnis. Keragaman raison d’être bidang sektoral itu dapat dipandang sebagai cerminan institusional keragaman antropologis manusia sendiri. Jadi, ada semacam paralel antara bidang sektoral tata hidup-bersama (pendidikan, ekonomi, budaya, dan seterusnya) dan ragam dimensi pribadi manusia (homo educationis, homo oeconomicus, homo culturalis, dan seterusnya).</p>
<p>Pokok di atas punya implikasi jauh. Manusia pasti seorang homo oeconomicus, tapi homo oeconomicus pasti bukan keseluruhan manusia. Begitu pula, sebuah Republik pasti mencakup bisnis, pendidikan, dan seterusnya, tapi bisnis, pendidikan, dan seterusnya pasti bukan keseluruhan hidup Republik. Inilah pokok paling sederhana yang perlu dipegang oleh seorang pemimpin atau calon pemimpin Republik.</p>
<p>Lalu apa alasan adanya sebuah Republik? Bagi RI, itu sudah jelas dalam Pembukaan UUD 1945: ”membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Cukup jelas, alasan adanya RI tak dalam kategori sama dengan dimensi sektoral. Pokok ini punya implikasi lanjut bagi kualitas pemimpin Republik.</p>
<p>Mengatasi ”ceteris paribus”</p>
<p>Ceteris paribus adalah ungkapan Latin yang harfiah berarti ”dengan mengandaikan hal-hal lain sama/konstan”. Ceteris paribus biasa dipakai dalam literatur bahasa Latin untuk mengatakan atau menjelaskan sesuatu dengan menangguhkan faktor lain yang mungkin terkait, namun tak diperlakukan sebagai penjelas atau penjelasan pada momen itu.</p>
<p>Contoh: mengapa mutu kebanyakan acara televisi di Indonesia begitu rendah? Andaikan kualitas rendah acara televisi diberi simbol Y. Andaikan pula, berdasarkan studi awal, seorang peneliti menemukan lima kemungkinan penjelas. Misalnya: selera kultural para pembuat program yang rendah (X1), tidak ada badan standar mutu acara televisi dengan otoritas regulatif (X2), kriteria rating didasarkan pada histeria suka dan tidak-suka (X3), acara televisi ditentukan oleh iklan (X4), kultur voyeuris para pembuat acara televisi (X5), dan seterusnya (Xn). Kita tidak tahu apakah faktor penjelas itu memang menjelaskan Y. Karena keterbatasan, sang peneliti coba menjelaskan Y hanya dengan X2 serta X4, dan dengan itu menangguhkan X1, X3, X5, dan Xn. Dalam ungkapan formal, Y dijelaskan oleh X2 dan X4, ceteris paribus X1, X3, X5, dan Xn. Masalahnya, dalam dunia riil, penyebab rendahnya mutu acara televisi tidak mengenal ceteris paribus.</p>
<p>Contoh di atas terdengar teknis. Yang mau diajukan adalah pokok sederhana berikut. Analog dengan itu, pemakaian cara-berpikir bisnis, atau cara-berpikir teknologi, ataupun yang lain selalu merupakan bentuk ceteris paribus terhadap semesta hidup Republik. Implikasinya sangat besar bagi pemimpin atau calon pemimpin Republik. Ia pemimpin Republik jika, dan hanya jika, mampu mengatasi ciri ceteris paribus cara-berpikir sektoral tiap bidang.</p>
<p>Tentu pokok itu tak berarti pendekatan sektoral tak berguna bagi diagnosis dan solusi berbagai masalah yang mendera Republik. Justru sebaliknya, dinamika hidup dan konstelasi masalah Republik yang riil berisi pertautan tak terpisahkan antara gugus-gugus tersebut—tanpa ceteris paribus. Itu juga sama sekali tak berarti seorang pemimpin Republik harus ahli dalam semua atau bahkan satu bidang. Namun, cukup pasti, kedalaman, keluasan, dan kepekaan wawasan seorang pemimpin Republik adalah syarat mutlak. Ia disebut pemimpin Republik persis karena mengerti kesempitan cara-berpikir sektoral bidang sekaligus mampu melampauinya. Hal ini mengisyaratkan bahwa kedalaman, keluasan, dan kepekaan pemimpin Republik merupakan syarat mutlak, namun itu tak identik dengan kepandaian akademik, apalagi ilmiah. Kapasitas melampaui ceteris paribus itu hanya terasa bila kita mengerti bahwa perangkat utama kepemimpinan Republik adalah kebijakan publik.</p>
<p><b>Penjaga kebijakan publik</b></p>
<p>Sesuatu disebut ”kebijakan publik” bukan karena diundangkan atau karena diberlakukan untuk semua warga, tetapi karena substansinya menyangkut jatuh-bangun kelangsungan Republik. Terdengar sederhana, namun pokok ini dalam banyak hal menentukan apakah kepemimpinan Republik mampu membawa kita membentuk Indonesia sebagai bangsa.</p>
<p>Berbicara tentang Republik selalu mengandaikan ada cita-cita tentang tata hidup-bersama. Itu juga berarti, tak ada guna bicara Republik bila kita tak mengandaikan ada cita-cita hidup-bersama. Cuma, cita-cita itu berisi tegangan abadi. Di satu pihak kita ingin bebas melakukan apa pun yang kita kehendaki dengan cara sesuka kita. Di pihak lain cita-cita hidup-bersama hanya mungkin terwujud jika, dan hanya jika, tersedia cara mengoordinasi kebutuhan semua warga yang menjadi anggota tata hidup-bersama. Itulah tegangan abadi antara individualitas dan sosialitas. Mengelola tegangan antara keduanya bagi pencapaian persis merupakan raison d’être kebijakan publik.</p>
<p>Dapat diringkaskan: selama kita hendaki ada Republik, selama itu pula kita butuh kebijakan publik. Seorang yang lewat proses politik dipilih sebagai pemimpin Republik punya ”kebijakan publik” sebagai perangkat utama menjalankan kepemimpinan. Sampai di sini semua terdengar indah, tetapi keindahan sering jadi induk kekecewaan. Berikut ilustrasi.</p>
<p>Beberapa tahun ini kita cemas dengan luasnya kemiskinan dan pengangguran. Dengan menyadari tarik-ulur data orang miskin di Indonesia, kita tak keliru total memakai data orang miskin dan ambang-miskin berjumlah 108,78 juta (Bank Dunia 2006). Berbagai perdebatan atas kebijakan ekonomi dikaitkan dengan upaya memecahkan masalah kemiskinan kolosal ini. Itu mulia. Dalam rangka hidup Republik, alasan adanya sektor ekonomi memang untuk mewujudkan kesejahteraan material semua warga.</p>
<p>Strateginya berkisar pada dua arus. Pertama, kebijakan ekonomi sibuk diarahkan ke penciptaan iklim investasi yang kondusif bagi para investor besar dan global melalui investasi langsung. Maksudnya, agar investasi besar-besaran oleh perusahaan raksasa diharapkan mengurangi orang miskin melalui penyerapan jumlah besar penganggur. Kedua, sudah beberapa tahun berlangsung kesibukan slogan mengarahkan kebijakan pada pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Cuma, jalur kedua ini dipahami secara sempit sebagai urusan kredit modal bagi UMKM. Kutak-kutik kebijakan pun difokuskan pada fungsi intermediasi bank. Ketika bicara tentang bank, yang dimaksud adalah perbankan modern.</p>
<p>Ada kebangkrutan cara-berpikir tentang kebijakan publik yang terlibat dalam perkara itu. Pertama, mengandalkan solusi masalah kemiskinan 108,78 juta orang kepada investasi perusahaan besar sama dengan menyerahkan hidup-mati 108,78 juta orang kepada kebaikan hati perusahaan besar. Dalam corak globalisasi dewasa ini, bahkan sejak awal kita sudah tahu, solusi itu akan gagal. Kedua, kendati keberadaan perusahaan besar bisa sangat berperan sebagai ”faktor penarik” bagi penciptaan ekonomi Indonesia menuju korporatisasi, kita mengerti strategi itu akan gagal memecahkan pengangguran dan kemiskinan dalam skala kolosal. Ketiga, dilihatnya kemacetan UMKM terutama sebagai soal kegagalan kredit dan fungsi intermediasi perbankan modern sesungguhnya menunjukkan bahwa UMKM dipahami secara instrumental dari cara-berpikir serta tujuan korporatisasi, dan bukan sebagai cara memberdayakan 108,78 juta orang.</p>
<p>Jadi, pada akhirnya strategi ekonomi yang ditempuh untuk memecahkan masalah kolosal kemiskinan dan pengangguran bukan strategi UMKM, tetapi korporatisasi. Bahkan, hanya dengan mendasarkan diri pada angka 108,78 juta orang miskin dan ambang-miskin, sudah jelas sejak awal strategi itu tak akan berhasil. Strategi itu sama sekali bukanlah kebijakan-publik ekonomi, melainkan siasat korporatokrasi (pemerintahan oleh perusahaan-perusahaan besar). Dalam lautan kemiskinan dan ambang-kemiskinan di Indonesia, siasat korporatokrasi bukanlah kebijakan publik sebab ia bukan kebijakan, apalagi publik. Kebijakan publik adalah perangkat utama di tangan pemimpin Republik, namun tampak jelas kebijakan publik dan kepemimpinan Republik selalu dilaksanakan dalam perangkap kekuasaan.</p>
<p><b>Dalam perangkap kekuasaan</b></p>
<p>Selain keutamaan manusiawi lain yang biasa kita dapati pada negarawan unggul, kemampuan melampaui kesempitan sektoral dan mengatasi ceteris paribus merupakan dua kemampuan paling penting bagi pemimpin Republik. Mengapa? Karena pelaksanaan kebijakan publik berlangsung dalam simpang-siur tualang kekuasaan yang dengan mudah dapat melumpuhkan pemimpin Republik.</p>
<p>Dalam simpang-siur itu beroperasi kekuasaan para preman, cukong, militer, makelar, spekulan, fundamentalis agama, aktivis, akademisi, politisi, media, pelagak, pengusaha, konglomerat, tuan keuangan global, kawanan massa, dan seterusnya. Masing-masing atau beberapa kombinasinya bersikeras membawa Republik ke arah kepentingan sendiri. Begitu cerdik cara sosok-sosok itu beroperasi sehingga pemimpin Republik dengan mudah tersandera dalam kelumpuhan. Kelumpuhan itu biasanya tecermin dalam ketaktegasan mengambil keputusan. Kecenderungan sang pemimpin Republik tersandera sangat nyata dan lewat proses itu berbagai keputusan kehilangan status sebagai kebijakan publik. Korporatokrasi yang diklaim sebagai kebijakan-publik ekonomi dalam contoh di atas merupakan gejala ketersanderaan yang luas terjadi di bidang lain: dari pendidikan sampai tata kota, dari kasus lumpur Lapindo sampai penggundulan hutan.</p>
<p>Hal di atas juga mengisyaratkan: seorang pemimpin Republik akan selalu terlibat dengan soal kekuasaan. Atau, andai ia tak mau, kekuasaan akan selalu berurusan dengan pemimpin Republik. Ia pemimpin Republik justru karena kekuasaan yang paling besar untuk mengelola Republik kita berikan kepadanya, dan bukan kepada para cukong, pengusaha, ataupun pemimpin agama. Dalam banyak hal dapat dikatakan, kepemimpinannya adalah kisah tentang bagaimana ia memakai kekuasaan paling besar yang kita berikan kepadanya untuk membentuk Republik. Maka, ketika kita menyaksikan banyak keputusannya ditawan oleh sosok kekuasaan lain, ia tak mengerti bahwa kita memberikan kekuasaan paling besar kepadanya justru supaya ia mampu melakukan pemihakan.</p>
<p>Pemihakan biasanya dituntut saat terjadi konflik kepentingan antara beberapa pihak yang ditandai oleh asimetri kekuasaan yang tajam. Dalam contoh tentang kebijakan ekonomi di atas, cukup pasti hubungan antara 108,78 juta orang miskin/ambang-miskin dan perusahaan besar ditandai asimetri tajam. Perusahaan punya akses lebih besar dibandingkan dengan 108,78 juta orang miskin/ambang-miskin dalam menentukan corak kebijakan ekonomi. Maka, tidak mengherankan bila arah pembangunan ekonomi dikuasai siasat korporatokrasi. Tugas pemimpin Republik adalah melakukan tindakan-afirmatif bagi 108,78 juta orang dalam relasi asimetris dengan para korporatokrat.</p>
<p>Pokok ini membawa kita ke argumen utama yang ingin diajukan refleksi kecil ini: pemimpin Republik adalah orang yang kita beri otoritas tertinggi menyuntikkan agenda kesengajaan dalam simpang-siur tindakan individu atau sektor yang pada dirinya tak pernah dimaksudkan secara sengaja untuk membentuk negeri ini sebagai bangsa dan RI.</p>
<p><b>Membentuk Indonesia</b></p>
<p>Ketika bangun pagi dan buru-buru pergi ke kantor, kita ingin segera sampai di kantor mengerjakan tugas; paling jauh dibayangi tujuan agar kita tetap punya pekerjaan yang menghasilkan upah/gaji buat menyangga hidup kita dan keluarga. Cukup pasti, tindakan itu dilakukan bukan dengan maksud sengaja membentuk Indonesia sebagai bangsa. Ciri sentrifugal tindakan itu begitu rupa sehingga arus kegiatan sehari-hari yang kita lakukan membentuk berlaksa interaksi yang terjadi tanpa maksud lain kecuali pemenuhan kebutuhan diri. Itulah genius yang muncul dari spontanitas dan kebebasan. Dalam bahasa akademik, proses itu disebut ”sistem kebebasan alami”. Namun, juga segera jelas bahwa berlaksa tindakan itu tidak dengan sendirinya menciptakan tatanan Republik. Atau, semua itu tidak dengan sendirinya membentuk Indonesia sebagai bangsa.</p>
<p>Antara ciri sentrifugal berlaksa tindakan individu dan terbentuknya Indonesia sebagai bangsa terbentang jurang menganga. Tidak juga argumen laissez-faire yang paling ketat pun mampu membuktikan kaitan itu, karena tindakan sektoral individual dan Indonesia sebagai bangsa adalah dua hal yang kategoris berbeda. Kesesatan kaum libertarian terletak dalam pandangan bahwa komunitas politik seperti bangsa akan terbentuk dengan sendirinya dari ketaksengajaan tindakan bebas dan spontan tiap individu. Itu sebuah fatamorgana.</p>
<p>Republik dan pembentukan Indonesia sebagai bangsa adalah proyek yang menuntut agenda kesengajaan. Itulah tugas paling pokok seorang pemimpin dan kepemimpinan Republik. Semua bakat dan kemampuan yang diperlukan melakukan tugas yang tertulis di atas akan sia-sia bila tak diarahkan jadi agenda kesengajaan demi membentuk Indonesia sebagai bangsa. Tanpa kesungguhan tugas menyuntikkan agenda kesengajaan, Indonesia tak akan terbentuk sebagai Republik dan bangsa. Lugasnya, Indonesia hanya akan menjadi sebuah nama bagi kerumunan gejala sebab ia cuma hasil sampingan kerumunan tindakan individual atau sektoral yang kita lakukan. Mungkin itu sedang terjadi pada cita-cita tentang Indonesia dewasa ini.</p>
<p>Kita tak tahu persis siapa lagi besok pagi menyatakan diri maju dalam Pemilu 2009. Siapa pun itu, ada guna kita mengukur gerak-geriknya menurut kriteria yang tertulis di atas. Mampukah ia melampaui kesempitan sektoral? Mampukah ia mengatasi ceteris paribus? Penjaga andal kebijakan publikkah ia? Pahamkah ia sepenuhnya bahwa kekuasaan besar di tangannya kita berikan untuk melakukan affirmative actions bagi kaum yang paling membutuhkan? Mampukah ia mengubah keempat syarat itu menjadi agenda kesengajaan membentuk Republik dan Indonesia sebagai bangsa?</p>
<p>Setelah membaca sketsa kecil ini, barangkali kita merasa betapa sulit jadi pemimpin Indonesia. Sesungguhnya syarat yang tertulis di atas tak lebih dari suara akal sehat biasa. Ia belum menyentuh standar paling unggul. Bila syarat paling sederhana itu tampak terlalu tinggi, mungkin bukan karena semua itu memang terlalu tinggi, melainkan karena kondisi Indonesia dan kualitas para pemimpin tua yang ada kini telah jatuh sedemikian rendah.</p>
<p>Itulah mengapa masa depan Indonesia laksana lorong panjang yang menganga tanpa jelas menuju ke mana. Ia sekadar nama yang nyaris kehilangan alasan adanya.</p>
<p><i>B Herry Priyono Pengajar Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta</i></p>
<p>[Disampaikan dalam seminar akhir tahun Lingkar Muda Indonesia dan Kompas di Bentara Budaya Jakarta, 18 Desember 2007]</p>
<p><a href="http://64.203.71.11/kompas-cetak/0712/31/utama/4113143.htm">Diambil dari harian Kompas 1 Maret 2008</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bataragoa.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bataragoa.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bataragoa.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bataragoa.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bataragoa.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bataragoa.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bataragoa.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bataragoa.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bataragoa.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bataragoa.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bataragoa.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bataragoa.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bataragoa.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bataragoa.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bataragoa.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bataragoa.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bataragoa.wordpress.com&amp;blog=2944921&amp;post=19&amp;subd=bataragoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bataragoa.wordpress.com/2008/03/29/mencari-pemimpin-republik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/41f50b9c8f62b118e3d4d8ffbbc7688e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Geritz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Republik Alpa</title>
		<link>http://bataragoa.wordpress.com/2008/03/29/republik-alpa/</link>
		<comments>http://bataragoa.wordpress.com/2008/03/29/republik-alpa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 14:46:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Geritz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bataragoa.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Karlina Supelli Apakah yang kita rayakan kala tahun kalender berganti? Tak seorang pun bisa melepas masa silam. Bahkan saat Paus Gregorius XIII mengubah perhitungan kalender hingga dalam semalam orang melesat dari tanggal 4 ke 15 Oktober 1582, tak sepotong waktu pun tercuri. Di tengah kegaduhan menyiapkan pesta, mungkin kita juga minta peramal membaca tanda- tanda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bataragoa.wordpress.com&amp;blog=2944921&amp;post=18&amp;subd=bataragoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"><font size="4"><br />
</font> </font></p>
<p align="center"><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"><b>Karlina Supelli</b>  </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Apakah yang kita rayakan kala tahun kalender berganti? Tak seorang pun bisa melepas masa silam. Bahkan saat Paus Gregorius XIII mengubah perhitungan kalender hingga dalam semalam orang melesat dari tanggal 4 ke 15 Oktober 1582, tak sepotong waktu pun tercuri. </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Di tengah kegaduhan menyiapkan pesta, mungkin kita juga minta peramal membaca tanda- tanda peristiwa yang akan datang. Apakah tanda itu berisi harapan atau kematian, tidak lagi relevan. Yang utama ialah mengulang ritual gaduh akhir tahun. Mungkin inilah cara kita melupakan barisan kelalaian yang berlarian meninggalkan korban berceceran di seluruh negeri. Indonesia ialah sebuah kisah tentang alpa. </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"><b>Lalai dan abai</b>  </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Dalam pekan terakhir 2007 peta Indonesia sesak oleh tanda merah bencana, menyambung lebih dari 200-an bencana besar-kecil sepanjang tahun. Sebagian besar dipicu oleh peristiwa alam. Ratusan orang tewas dan puluhan ribu menjadi pengungsi. Namun, mengatakan bahwa Indonesia kerap ditimpa bencana karena terletak di jalur rawan gempa, sama dengan mengulang pelajaran IPA kelas empat SD. </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Menuduh alam adalah cara murah menyembunyikan kelalaian serta kelambanan mengatasi dampak bencana.</font><span id="more-18"></span><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"> Itu juga siasat melarikan diri dari tanggung jawab atas kesembronoan. Jika perlu jalan pendek untuk berkelit, sebutlah semua itu takdir alias musibah yang menyergap dari langit. </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Permukaan Bumi seperti kulit telur rebus setengah matang yang retak-retak. Bedanya, pusat Bumi terus bergejolak sehingga potongan-potongan di atasnya saling dorong, saling tindih, dan saling tekuk. Hanya oleh pilihan manusia—atau sebaliknya, keterpaksaan—peristiwa-peristiwa alam beralih menjadi bencana. </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Berhadapan dengan sesama dan alam, manusia gampang cedera. Kerentanan adalah kondisi manusia. Hanya saja, ringkasan semacam ini mengubur terlalu banyak detail. Tidak semua dimensi kerentanan manusia bersifat kodrati. Kerentanan juga perkara hubungan antara cuaca kultural kita dan brutalitas pertarungan materi yang menandai sejarah dewasa kini. Dalam pertarungan itu kerentanan merupakan potret buram tata sosial, ekonomi, dan politik, yang cirinya adalah kesenjangan akses. </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Alam tidak mengenal ras, usia, agama, jender, dan kelas. Namun, ketika terjadi kekeringan, hanya kaum papa yang mati kelaparan. Kala gempa, anak- anak dan perempuan yang merupakan korban terbanyak. Kerentanan bukan hanya perkara ketiadaan daya ketika malapetaka menimpa. Kerentanan terutama berisi ketiadaan kebebasan ke berbagai sumber daya yang menyangga seseorang agar berkemampuan sebagai manusia. </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Andai petani gurem di lereng-lereng curam punya agunan yang bisa ia tukar menjadi modal, andai ia punya cukup uang dan kemudahan mendapatkan informasi, ia tentu menyewa lahan yang tidak rawan longsor untuk bercocok tanam. Rumahnya tidak roboh menimpa anak-anak karena ia punya pilihan untuk membangun rumah tahan gempa. Tetapi pengandaian itu hanya ada dalam cita-cita. </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Bagi kaum papa yang tertimpa malapetaka, cita-cita adalah kemewahan yang di ujung hari terasa menyiksa. Litani ini kedengaran biasa-biasa saja kecuali dengan mata tajam kita menyimak putusan-putusan pengadilan. Meminjam ungkapan tokoh desa yang enggan disebut namanya, kita hidup di bawah sistem hukum yang mirip sarang laba-laba. &#8220;Ia menjerat serangga tetapi porak poranda oleh terpaan burung&#8221;. </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Kendati mengakibatkan kehidupan puluhan ribu keluarga porak poranda, pesawat tergelincir atau hilang, pengungsi silih ganti, hutan gundul atau terbakar, kita bebal dalam kesembronoan. Dalam kebebalan itu terlibat nasib begitu banyak orang yang tidak akan pernah berubah kendati pemerintah dan bahkan generasi berganti. </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Berurusan dengan perilaku abai, lalai dan sembrono dalam skala seluas negara tampaknya memojokkan kita lagi ke pertanyaan tentang kemungkinan hidup bersama. Padahal, kata bersama licin bagi tafsiran. Penggusuran paksa warga miskin dilakukan dengan alasan mulia kepentingan bersama. Kisah di lapangan menunjuk ke fakta bahwa itu berarti pembangunan sentra bisnis dan permukiman mewah. </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Apakah kita perlu belajar lagi dari sejarah lahirnya demokrasi modern? Bukankah dari barisan omongan akhir-akhir ini tampaknya kita masih mendambakan demokrasi sebagai prinsip penataan hidup bersama? Demokrasi modern bertumpu di atas pengalaman mereka yang paling tertindas oleh watak otoriter kekuasaan. Dan mereka tentu bukan pemilik uang maupun pemangku kekuasaan yang jumlahnya segelintir, melainkan rakyat kebanyakan. </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Dari situ turun pengandaian yang masuk akal. Benih demokrasi tumbuh dalam prinsip bahwa keputusan yang menyangkut jatuh bangun pemenuhan kebutuhan pokok yang menyangga kehidupan bersama, hanya sahih jika bertumpu di atas kondisi hidup-mati rakyat biasa yang paling rentan terhadap dampak keputusan itu. </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2"><b>Semua dinding adalah pintu</b>  </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Pokok di atas membuat kita sesak. Kita sadar bahwa bencana tidak berkurang kendati pun kita punya ilmu dan teknologi untuk mendeteksi peristiwa-peristiwa alam. Paling-paling kita mengurangi dampaknya, kecuali kita juga rela menata ulang konsesi lahan, hutan, sumber air, perbaikan pendidikan dan upaya kesehatan, distribusi informasi dan lain-lain. Tepat di sinilah kita terbentur tembok kepentingan ekonomi-politik. Di balik tembok itu berlindung para pebisnis dengan pundi-pundi yang bisa membayar transaksi apa saja, termasuk nyawa manusia asalkan ada janji laba. </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Kita boleh gusar karena tidak menemukan jalan keluar. Bagi warga miskin, jalan keluar artinya bagaimana bertahan hidup dalam manuver penyangkalan dan pengabaian. Bagi mereka situasi darurat bukan pengecualian, bukan situasi khusus akibat peristiwa luar biasa, melainkan suasana hidup sehari-hari. Bagi ibu hamil, contohnya. Melahirkan adalah proses alami, tetapi adalah bencana jika setiap jam dua ibu mati dalam proses itu. Kita alpa menandainya sebagai bencana karena kematian dalam brutalitas hidup sehari-hari dianggap perkara &#8220;biasa&#8221;. </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Apa yang mencengangkan adalah potret faktual bahwa yang rentan dan terabaikan ternyata yang paling mengerti bahwa jalan keluar tidak perlu dicari ke sana dan kemari. Pintu ada di setiap tembok yang menghadang mereka ke hampir semua akses untuk bisa hidup secara manusiawi. &#8220;Semua dinding adalah pintu&#8221; (RW Emerson, 1803-1882). </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Istri nelayan menyiasati situasi darurat sehari-hari dengan menjadi penjual bakulan hasil tangkapan nelayan. Ketika dengan cara itu pendapatan keluarga meningkat, istri-istri nelayan Desa Moro, Kabupaten Demak, mendirikan Puspita Bahari. Cita-cita mereka sederhana: membebaskan diri dari jerat lintah darat yang selama ini mengangkangi akses ekonomi suami-suami mereka. </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Sekelompok ibu miskin di kaki bukit Ungaran menghidupkan lagi ritual benih mulai dari menyisihkan biji terpilih, menangkar, mengolah tanah, menyemai, sampai menuai panen yang sekaligus menghasilkan benih baru untuk musim tanam berikut. Inilah perlawanan diam-diam bagi kebebasan pangan yang terampas setelah tiga sumber keramat petani—benih, air, dan lahan—dimangsa perusahaan-perusahaan besar. </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Di beberapa desa di Aceh yang hancur akibat tsunami 2004, ibu-ibu punya cara lain menyiasati ekonomi keluarga yang belum juga pulih. Serupa dengan ibu-ibu di kawasan kumuh Jakarta dan Malang, Jawa Timur, mereka mengembangkan usaha sederhana. Karena tak punya benda berharga, agunan mereka adalah kepercayaan yang dijamin kelompok. Bagi mereka, transaksi ekonomi sekaligus merupakan cara mengembalikan sosialitas yang remuk ditelan sistem perekonomian modern. </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Bahwa kemudian mereka punya akses ke politik—ikut mengambil keputusan di desa entah waktu banjir atau pemilu—dan posisinya secara kultural naik karena menafkahi keluarga jika bukan malah menjadi kepala keluarga, adalah konsekuensi logis dari keberhasilan menyiasati cara pandang yang selama ini memaksa mereka menerima keniscayaan kerentanan. </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Kita punya dua pilihan mengurangi bencana. Tetap berharap dengan gagap akan ada perubahan radikal dalam cara merawat hidup bersama, yang hampir-hampir mustahil dalam mesin ekonomi-politik yang dijalankan dengan kebebalan. Atau, percaya bahwa kelompok paling rentan pun mampu menghidupkan kembali gugus penyangga hidup bersama mereka. Kendalanya? Lagi-lagi sifat alpa para pengelola negeri yang tidak peduli dengan dinamika riil warga biasa, tetapi sibuk melayani kepentingan korporasi. Gerakan akar rumput dipandang sebagai sekadar upaya menyulam bolong-bolong yang ditinggalkan ekonomi-politik dominan dewasa ini. Sesungguhnya, mereka mewahyukan solusi bagi Republik yang sedang dibenamkan oleh pendekatan yang sarat kealpaan. Sebuah pendekatan yang menyeret negeri ini tenggelam dalam genangan malapetaka. </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Selamat Tahun Baru 2008.  </font></p>
<p><font face="Arial, Helvetica, sans-serif" size="2">Karlina Supelli<i> Dosen pada Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta</i></font></p>
<p><b> Tulisan ini diambil dari Harian Kompas tanggal 31 Desember 2007</b></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bataragoa.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bataragoa.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bataragoa.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bataragoa.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bataragoa.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bataragoa.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bataragoa.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bataragoa.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bataragoa.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bataragoa.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bataragoa.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bataragoa.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bataragoa.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bataragoa.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bataragoa.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bataragoa.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bataragoa.wordpress.com&amp;blog=2944921&amp;post=18&amp;subd=bataragoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bataragoa.wordpress.com/2008/03/29/republik-alpa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/41f50b9c8f62b118e3d4d8ffbbc7688e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Geritz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HABITUS YANG MEMBAWA DAMAI</title>
		<link>http://bataragoa.wordpress.com/2008/03/25/habitus-yang-membawa-damai/</link>
		<comments>http://bataragoa.wordpress.com/2008/03/25/habitus-yang-membawa-damai/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Mar 2008 14:59:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Geritz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gerakan]]></category>
		<category><![CDATA[Makalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bataragoa.wordpress.com/2008/03/25/habitus-yang-membawa-damai/</guid>
		<description><![CDATA[Geritz &#8211; Mahasiswa Fakultas Pertanian UKSW Pada 30 November 2007, UKSW mencapai usia yang ke 51. Artinya tak terasa bahwa UKSW telah melangkah menuju 50 tahun kedua. Perjalanan UKSW rasanya seperti sungai-waktu yang baru saja kita selami, tetapi arus dasarnya belum juga kita kenali. Mari kita sejenak diam, merasakan arusnya dan kemudian berefleksi atasnya. Apakah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bataragoa.wordpress.com&amp;blog=2944921&amp;post=17&amp;subd=bataragoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b>Geritz &#8211; Mahasiswa Fakultas Pertanian UKSW</b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><b> </b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><b> </b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;">Pada 30 November 2007, UKSW mencapai usia yang ke 51. Artinya tak terasa bahwa UKSW telah melangkah menuju 50 tahun kedua.<span style="font-family:Arial;"> </span>Perjalanan UKSW r<span>asanya seperti sungai-waktu yang baru saja kita selami, tetapi arus dasarnya belum juga kita kenali. Mari kita sejenak diam, merasakan arusnya dan kemudian berefleksi atasnya.</span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;">Apakah UKSW ingin seperti negeri yang tercinta ini&#8230;? N<span>egeri yang berulang kali ingin menyembuhkan diri, tetapi setiap kali kita dapati lagi sedang menghancurkan diri. Atau inin ikut-ikutan menambah dosa pendidikan..?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;">Banyak riset yang dihasilkan, tetapi juga tidak menimbulkan kemaslahatan masyarakat. Banyak sarjana yang dihasilkan tapi, tapi banyak pula penganguran dan yang bekerja tidak sejahtera. Banyak pula pengajar yang menjadi konsultan pemerintah, tetapi mahasiswanya terlantar karena kurang perhatian. Ada yang merasa sistemnya yang paling baik kemudian berusaha menerapkannya, walaupun dengan resiko mengorbankan mahasiswa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b>HABITUS </b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;">Istilah habitus sudah menjadi perhatian<span>  </span>para Rohaniawan <i>cum</i> Intelektual<span>  </span>gereja Katolik. Namun ia mungkin masih terasa asing di telinga civitas UKSW, walaupun ia berada didekat kita. Oleh Filsuf <i>cum </i>sosiolog asal Prancis, Pierre Bourdieu, ia di artikan sebagai sistem disposisi yang berlangsung lama dan berubah-ubah (<i>durable, transponsible<span>  </span>disposition</i>) (Chris Wilkes dkk, 2007:13).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span>Sebagai gugus kebiasaan rasa-merasa, memandang, serta bertindak, habitus bersifat spontan dan tidak disadari pelakunya, tidak pula disadari apakah kebiasaan itu terpuji atau tercela. Orang tidak sadar akan habitus-nya, sebagaimana orang tidak sadar akan bau mulutnya (Priyono, 2005).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span>Dengan berguru sejenak pada Pierre Bourdieu, walaupun dengan resiko terjadi pernyederhanaan berlebihan terhadap UKSW, roda yang macet di UKSW mungkin terjadi karena<span>  </span>beberapa hal. <i>Pertama,</i> banyak tidak memahami Visi dan Misi UKSW sehingga tidak menggapnya penting dalam proses belajar dan mengajar, atau mungkin Visi dan Misi<span>  </span>sudah usang sehingga perlu revitalisasi Visi dan Misi UKSW.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;">    <i><span>Kedua,</span></i><span> anggapan bahwa dengan bebas kita bisa membentuk kehidupan bersama </span><span id="more-17"></span><span>menurut kemauan pribadi kita masing-masing. Karena itu, berbagai kemacetan yang kita hadapi hanya mungkin diatasi dengan perubahan pada lingkup pribadi. Sehingga tidak ada lagi solidaritas sosial. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><i><span>Ketiga,</span></i><span> kadang kala kita tidak ingin memaksakan kehendak kita namun ternyata kita telah berulangkali memaksakan kehendak secara tidak sadar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span>Tiga hal diatas tidak tidak sepenuhnya keliru, tetapi masih juga ada sesuatu yang kurang, meskipun sulit ditunjukkan. Mengapa banyak program yang sangat terpuji tetapi tidak menarik minat mahasiswa? Selain itu juga, mengapa kehendak pribadi yang paling mulia sekalipun mudah patah dihadang corak perilaku kerumunan? Jegal menjegal apakah juga menjadi habitus di UKSW&#8230;?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span>Untuk melampaui tegangan seperti itu, ada sasaran bidik lebih sentral yang mesti dijadikan fokus. Fokus itu adalah endapan berbagai kebiasaan kita dalam rasa-merasa, memandang, dan bertindak yang disebut habitus. Habitus bukan lagi sebatas kebiasaan seseorang, melainkan seluruh gugus kebiasaan sosial yang tampak dalam corak praktik sehari-hari hidup bersama kita, dari praktik menjegal sesama, malas kuliah, malas mengajar, mempersulit orang lain, karena senioritas maka secara tidak sadar merasa sebagai pemilik Fakultas dan bahkan mungkin UKSW sehingga kehendaknya yang harus jadi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span>Akan tetapi, bukankah gugus-gugus kebiasaan itu bisa diubah oleh kebijakan? Mungkin! Namun, dari kegagalan berbagai kebijakan cukup jelas bahwa habitus yang beroperasi pada lapis kedalaman jauh lebih keras kepala daripada yang kita bayangkan. Yang lebih mungkin bukan program kebijakan yang mengubah habitus, melainkan kinerja habitus yang meremuk kebijakan. Itulah mengapa bahkan banyak kebijakan yang terpuji dengan cepat mengalami pembusukan lalu berguguran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span>Jadi, soalnya bukan sebatas ketepatan kebijakan, melainkan transformasi gugus habitus pada tingkat UKSW. Cuma, sama seperti watak habitus, kita adalah orang-orang yang telanjur keras kepala, tidak akan percaya tanpa bukti di depan mata. Maka, hanya dari bidang-bidang yang kasatmata itu pula proyek pembentukan habitus baru dapat dimulai. Perubahan gugus kebiasaan pada dataran yang paling kasat mata ini niscaya akan memberi kita pengalaman rasa-merasa baru soal negeri yang sudah lama lebih mengenal keputusasaan ketimbang harapan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span>Di saat perguruan tinggi yang lain berbenah, UKSW masih sibuk menjegal rekan sendiri. Banyak fakultas yang sudah sangat senior tapi belum memiliki pengembangan tingkat pasca sarjana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span>Banyak mahasiswa yang kesulitan studi tapi terlantar, yang di salahkan adalah mahasiswa dan lingkungannya, kenapa tidak belajar dari para Freire-an atau yang masa moderen ini dari Erin Gruwell<span>  </span>dan para <i>Freedom Writers-</i>nya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span>Perbaikan etika dalam mencapa habitus yang membawa damai sangat perlu ditekankan, ini mungkin kelihatan sepele tetapi kalau sudah terjerumus baru merasakan dampak yang lebih dalam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span>UKSW sebagai lembaga pendidikan </span>adalah tempat berkumpulnya kaum intelektual yang identik dengan profesi akal budi dan nurani. Maka dapat dikatakan, lembaga pendidikan adalah tempat untuk melatih peserta didik berpikir, mendengarkan, dan mengasah nurani. Apakah sudah terlaksana? Atau proses yang terjadi hanya sebagai formalitas mengajar dan meraih nilai yang tinggi..? silahkan direfleksikan sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;">Sebagai Universitas Kristen Satya Wacana, marilah kita memberikan karya nyata terhadap masyarakat Indonesia, dimulai dari sesama kita di Kota Salatiga Hati Beriman. Sembari mengingat pesan sorang bijak tatkala kita berkeluh-kesah meminta nasehat, ia berkata: “<i>Kejarlah dulu Habitus Baru yang membawa damai, selebihnya ditambahkan kepadamu</i>.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Mari Berbenah.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bataragoa.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bataragoa.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bataragoa.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bataragoa.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bataragoa.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bataragoa.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bataragoa.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bataragoa.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bataragoa.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bataragoa.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bataragoa.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bataragoa.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bataragoa.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bataragoa.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bataragoa.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bataragoa.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bataragoa.wordpress.com&amp;blog=2944921&amp;post=17&amp;subd=bataragoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bataragoa.wordpress.com/2008/03/25/habitus-yang-membawa-damai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/41f50b9c8f62b118e3d4d8ffbbc7688e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Geritz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hari Terakhir Pelatihan Jurnalistik Scientiarum-Imbas</title>
		<link>http://bataragoa.wordpress.com/2008/03/15/hari-terakhir-pelatihan-jurnalistik-scientiarum-imbas/</link>
		<comments>http://bataragoa.wordpress.com/2008/03/15/hari-terakhir-pelatihan-jurnalistik-scientiarum-imbas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Mar 2008 10:44:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Geritz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita  Tulisanku]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Pelatihan]]></category>
		<category><![CDATA[scientiarum]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bataragoa.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Catatan : Ini adalah versi asli dari news feature yang saya muat di www.scientiarum.com . Berita yang ada di www.Scientiarum.com, telah mengalami proses editing Hari Terakhir Pelatihan Jurnalistik Scientiarum-Imbas Geritz Febrianto -Wartawan Scientiarum Siang (13/03/08) ini pelatihan jurnalistik kami selesai. Saya ke Gedung Admisistrasi Pusat, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), untuk meminjam kunci kantor Scientiarum [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bataragoa.wordpress.com&amp;blog=2944921&amp;post=15&amp;subd=bataragoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><b>Catatan :</b></p>
<p class="MsoNormal">Ini adalah versi asli dari news feature yang saya muat di <a href="http://www.scientiarum.com/">www.scientiarum.com</a> . Berita yang ada di www.Scientiarum.com, telah mengalami proses<i> editing</i><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b> </b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b>Hari Terakhir Pelatihan Jurnalistik Scientiarum-Imbas</b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">Geritz Febrianto -Wartawan Scientiarum</p>
<p class="MsoNormal"> <img style="margin-right:10px;" src="http://photos-269.friendster.com/e1/photos/96/27/18437269/1_759260578l.jpg" alt="Ini Foto Saya bersama Andreas Harsono" align="left" height="157" width="181" /></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;                                                    &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]-->Siang (13/03/08) ini pelatihan jurnalistik kami selesai. Saya ke Gedung Admisistrasi Pusat, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), untuk meminjam kunci kantor Scientiarum (SA). Saya memutuskan untuk meminta tagihan kuliah di keuangan terlebih dahulu. Di saya bertemu Saam Fredy Marpaung, dari bagian humas UKSW.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">“Bagaimana pelatihannya?” Sapa Fredy</p>
<p class="MsoNormal"> ”ini baru saja selesai, bang”</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Bisa buat berita tentang pelatihan kalian untuk website uksw.edu?</p>
<p class="MsoNormal">Bisa, tapi hari terakhir saja ya? Karena memori saya dari hari senin sudah tidak lengkap.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">“Ok. Saya tunggu.” Ia pun berlalu meninggalkan saya.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Setelah meminta tagihan saya segera menuju ke bagian keamanan untuk meminjam kunci kantor Scientiarum. <span> </span>Setelah menerima kunci, saya segera menuju kantor Scientiarum.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Saat menulis berita ini Wilson Therik datang.</p>
<p class="MsoNormal">“lagi bikin apa bung?”</p>
<p class="MsoNormal">“Lagi tulis berita untuk uksw.edu</p>
<p class="MsoNormal">“Bagaimana kabar Andreas?” Sambil memberikan flashdisk-nya.</p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-15"></span>“Sudah kembali ke Jakarta, kak, tapi seperti diskusi kita tadi malam, ia masih tidak ingin masuk kampus sebelum ada permintaan maaf dari universitas kepada kelompok Arief Budiman.”</p>
<p class="MsoNormal"><!--more-->“Kak, Kalau aku rektor UKSW, sudah dari dulu <i>beta</i> minta maaf.”</p>
<p class="MsoNormal">“Kan untuk kebaikan UKSW Juga.”</p>
<p class="MsoNormal">“Iya tapi apa rektor kita mau”, timpal Wilson</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Tiba-tiba terdengar suara lagu yang kemudian hilang diganti suara Wilson.</p>
<p class="MsoNormal">“Halo Bapa, beta sekarang di kantor scientiarum, lalu harus ke Yasa Luhur. Nanti dari Yasa Luhur beta langsung rapat di PSKTI.”</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal">Feb, beta harus jalan dulu. Karena di tunggu rapat di PSKTI.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Sejak hari senin 10 Maret 2008, Scientiarum berkerjasama dengan imbas, mengadakan pelatihan Jurnalistik dalam bimbingan <a href="http://www.andreasharsono.blogspot.com/">Andreas Harsono</a> dari <a href="http://www.pantau.or.id/">Yayasan Pantau</a>. Hari ini (kamis, 13 Maret 2008), tidak ada materi khusus dari Andreas, karena di isi diskusi materi-materi yang telah diberikan. Diskusi berakhir pada pukul 10.30. Kemudian dilanjutkan dengan makan siang. Sebelum pulang Andreas memberikan bagaimana sebuah berita diverifikasi oleh sebuah media di luar negeri.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Yosi bertanya, “pak kalau mau investigasi bagaimana?”</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Andreas kembali menjelaskan detil-detil tulisannya, dimana terdapat 78 catatan kaki, untuk berita sekitar 3000 kata. Kemudian membuka <i>file</i> sambil menjelaskan tentang investigasi. Ia membacakan dengan jelas bahwa investigasi tidak dianjurkan untuk wartawan pemula.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Saya ikut bertanya. “Pak kalau mau belajar memulai investigasi bagaimana?”</p>
<p class="MsoNormal">Dia tersenyum. “Harus dimulai menulis <i>feature</i>, nah ini tidak dianjurkan untuk febri sekarang”.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Saya pun tersenyum.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">“Saya harus jalan sekarang, karena pesawat saya jam 13.30 saya juga masih harus membeli oleh-oleh. Kemarin sempat beli main untuk Norman.”</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">Semua peserta bersalaman dengan Andreas saat akan pulang sekaligus pertanda pelatihan ini selesai. Saya menyempatkan mengambil foto bersama Andreas, di ikuti oleh Nunez, Radit, dan Kiko. Tidak ada seremonial khusus untuk menutup pelatihan ini sama seperti pembukaannya.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bataragoa.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bataragoa.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bataragoa.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bataragoa.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bataragoa.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bataragoa.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bataragoa.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bataragoa.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bataragoa.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bataragoa.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bataragoa.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bataragoa.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bataragoa.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bataragoa.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bataragoa.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bataragoa.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bataragoa.wordpress.com&amp;blog=2944921&amp;post=15&amp;subd=bataragoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bataragoa.wordpress.com/2008/03/15/hari-terakhir-pelatihan-jurnalistik-scientiarum-imbas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/41f50b9c8f62b118e3d4d8ffbbc7688e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Geritz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-269.friendster.com/e1/photos/96/27/18437269/1_759260578l.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ini Foto Saya bersama Andreas Harsono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KABUPATEN MAMASA</title>
		<link>http://bataragoa.wordpress.com/2008/02/22/kabupaten-mamasa/</link>
		<comments>http://bataragoa.wordpress.com/2008/02/22/kabupaten-mamasa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Feb 2008 15:51:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Geritz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[mamasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bataragoa.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Kabupaten Mamasa merupakan salah satu Kabupaten di yang berada di Provinsi Sulawesi Barat Indonesia. Kabupaten ini didirikan disaat secara administratif masih berada dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan dengan terbitnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Mamasa dan Kota Palopo. Ibukota Kabupaten Mamasa terletak di Kota Mamasa, sekitar 252 km dari Kota [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bataragoa.wordpress.com&amp;blog=2944921&amp;post=13&amp;subd=bataragoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kabupaten Mamasa merupakan salah satu Kabupaten di yang berada di Provinsi Sulawesi Barat Indonesia. Kabupaten ini didirikan disaat secara administratif masih berada dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan dengan terbitnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Mamasa dan Kota Palopo. Ibukota Kabupaten Mamasa terletak di Kota Mamasa, sekitar 252 km dari Kota Mamasa, dengan jarak tempuh sekitar + 6 jam dengan menggunakan kendaraan roda empat. Dari kota Pare-pare, pusat kawasan pengembangan ekonomi terpadu (KAPET) di provinsi Sulawesi Selatan sekitar 100 km. Kabupaten Mamasa ini memiliki luas wilayah 2.759,23 km². Kabupaten Mamasa memiliki beberapa objek wisata yaitu wisata budaya Kuburan Tedong-tedong Minanga di Kecamatan Mamasa, Wisata alam Air Terjun Sarambu dan Permandian Air Panas di desa Tadisi Kecamatan Sumarorong, Agro Wisata Perkebunan Markisa di Kecamatan Mamasa, Wisata Budaya Rumah adat, Perkampungan Tradisional Desa Ballapeu.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bataragoa.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bataragoa.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bataragoa.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bataragoa.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bataragoa.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bataragoa.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bataragoa.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bataragoa.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bataragoa.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bataragoa.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bataragoa.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bataragoa.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bataragoa.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bataragoa.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bataragoa.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bataragoa.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bataragoa.wordpress.com&amp;blog=2944921&amp;post=13&amp;subd=bataragoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bataragoa.wordpress.com/2008/02/22/kabupaten-mamasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/41f50b9c8f62b118e3d4d8ffbbc7688e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Geritz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang RSPA®</title>
		<link>http://bataragoa.wordpress.com/2008/02/22/tentang-rspa%c2%ae/</link>
		<comments>http://bataragoa.wordpress.com/2008/02/22/tentang-rspa%c2%ae/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Feb 2008 15:29:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Geritz</dc:creator>
				<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[PDAM]]></category>
		<category><![CDATA[power-knowledge]]></category>
		<category><![CDATA[RSPA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bataragoa.wordpress.com/2008/02/22/tentang-rspa%c2%ae/</guid>
		<description><![CDATA[Workshop RSPA®Latar belakang Pemikiran/Konsep 1. When and how was the RSPA team formed? Rakyat Salatiga Peduli Air (RSPA) semula diinisiasi oleh DPC PKB [Dewan Pengurus Cabang Partai Kebangkitan Bangsa]. Prakarsa ini digulirkan pada akhir Agustus 2006. DPC PKB ini memprakarsai sebuah pertemuan dengan mengusung isu tentang respons masyarakat Salatiga – pelanggan PDAM – untuk mengambil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bataragoa.wordpress.com&amp;blog=2944921&amp;post=12&amp;subd=bataragoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="Section1"><b><font face="Times New Roman">Workshop RSPA®</font></b><b><font face="Times New Roman">Latar belakang Pemikiran/Konsep</font></b></div>
<div class="Section1"><font face="Times New Roman"><span style="color:blue;"><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><span style="color:blue;">When and how was the RSPA team formed?</span></font></div>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Rakyat Salatiga Peduli Air (RSPA) semula diinisiasi oleh DPC PKB [Dewan Pengurus Cabang Partai Kebangkitan Bangsa]. Prakarsa ini digulirkan pada akhir Agustus 2006. DPC PKB ini memprakarsai sebuah pertemuan dengan mengusung isu tentang respons masyarakat Salatiga – pelanggan PDAM – untuk mengambil sikap atas kebijakan menaikkan tarif air yang dianggap semena-mena.<span>  </span>Semena-mena, karena kebijakan tersebut hanya diputuskan dengan: [a] klaim dua sosialisasi yakni di kalangan DPRD yang kemudian disebut dengan ekspose. Ekspose ini kemudian dianggap sebagai persetujuan dari legislatif. Padahal dalam demonstrasi massal 26 Desember 2006, Ketua DPRD sendiri menegaskan di depan massa bahwa DPRD tidak pernah memberikan persetujuan atas ditetapkannya Perwali (Peraturan Walikota) No 36 tahun 2006.<span>  </span>Kedua sosialisasi pada Forum Lintas LSM se-Salatiga; [b] karena di kalangan direksi PDAM (Badan pengawas PDAM) sudah ada dua wakil masyarakat, yang seolah-olah sudah merepresentasi komnitas pelanggan PDAM.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Sejumlah pertemuan digulirkan dengan mengambil tempat pertemuan di Kantor DPC PKB, Jl Patimura Salatiga. Prakarsa ini digulirkan lantaran PDAM melalui Perwali No 36/ 2006 telah menetapkan kenaikan tarif air minum mulai dari 100% &#8211; 130%. Dalih kenaikan yang diargumentasikan adalah karena: </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[1] sudah dua tahun terakhir tidak ada kenaikan tarif PDAM, </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span id="more-12"></span><font face="Times New Roman">[2] selama kurun waktu tersebut, sudah ada kenaikan Tarif dasar BBM (Bahan Bakar Minyak) dan Listrik, </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[3] dalih untuk menutup biaya operasional yang mulai merugi, </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[4] dengan penyesuaian tarif air, maka akan diperoleh margin (keuntungan) yang akan bisa menyumbang PAD (Pendapatan Asli Daerah)</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Tim RSPA, melalui undangan yang diprakarsai oleh DPC PKB, kemudian menjadi sebuah kolaborasi yang terdiri dari beberapa kategori: kelompok mahasiswa, LSM, intelektual kampus, partai politik, paguyuban masyarakat, dan individu.</font></p>
<p class="Section1"><font face="Times New Roman">Dalam perjalanan, karena d dalam tubuh RSPA adalah kristalisasi dua pendapat yang sangat tajam, maka semenjak itu (awal Desember 2006) selain RSPA maka terbentuklah RSPA®. <span>Simbol ® memberi makna reorientasi, yang artinya kelompok ini membuka diri terhadap kritik diri ataupun kritik dari luar. Komunitas ini mengklaim diri sebagai representasi arena ruang publik. Kelompok ini dekat dengan grassroot pelanggan air dan juga pemerintah. </span></font><span><font face="Times New Roman"><span> </span></font></span></p>
<p class="Section1"><span><font face="Times New Roman"><span></span></font></span><font face="Times New Roman"><span style="color:blue;"><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><span style="color:blue;">Who is this team?</span></font></p>
<p style="margin:0 0 0 18pt;" class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman"></font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">RSPA secara lebih rinci anggota RSPA/® dapat disebutkan sebagai berikut:</font></p>
<p style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><font face="Times New Roman">Kelompok mahasiswa: PMII (Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia), HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), LK UKSW (Lembaga kemahasiswaan UKSW), BEM STAIN (Badan Eksekutif Mahasiswa<span>  </span>Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri), LMND (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi), JAK (Jaringan Autonomous Kota), GMKI (Gerakan Mahasiswa kristen Indonesia), PMKRI (Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), IMBAS (student journal of Faculty of Electronic UKSW), Teater KRONIS</font></p>
<p style="text-indent:18pt;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><font face="Times New Roman">LSM: SPPQT (Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayibah), Truka Jaya, Kilat, GPS (Gerakan Pemuda Salatiga), Lembaga Konsumen Salatiga, Kelompok Tani Jujur Makmur</font></p>
<p class="Section1"><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font face="Times New Roman">intelektual Kampus: F Hukum UKSW, Fisipol UKSW</font></span><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font face="Times New Roman">partai politik: PKB (Partai Kebangkitan Bangsa), PKS (Partai Keadilan Sejahtera), PKPI (Partai Kesatuan dan Persatuan Indonesia), PGolkar, PD (Partai Demokrat).</font></span><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><span><font face="Times New Roman">paguyuban masyarakat: Pancuran, Kalitaman, Kalioso, Kampung Baru, Kalitaman,<span>  </span>Ngentak, Karangpete, Dukuh, Argomas, Bugel, KONMAWAS, GRENG,<span>  </span>Forum Tralis</font></span></p>
<p style="text-indent:18pt;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><font face="Times New Roman">individu</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Kelompok ini sifatnya kolegialitas. Pemimpin yang dimaksud adalah anggota yang dianggap bisa memimpin dan diberikan kepercayaan untuk memfasilitasi proses konsolidasi. Keanggotaan kolaborasi ini bisa sifatnya <i>sinten remen</i> – siapa yang suka silahkan terlibat. Meskipun dalam praktik, kemudian hanya beberapa orang yang dipandang menjadi fasilitator dalam pertemuan tersebut.</font></p>
<p class="Section1"><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"><span style="color:blue;"><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><span style="color:blue;">What are the main goals of the team?</span></font></p>
<p style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 36pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><font face="Times New Roman">Mempromosikan regulasi pengelolaan air berbasis good governance, baik kepada pelanggan air PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) maupun kepada legislatif dan eksekutif.</font></p>
<p style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 36pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><font face="Times New Roman">Menerapkan strategi kampanye penundaan kenaikan tarif air dan sekaligus pada saat penundaan tersebut menyisipkan strategi intervensi dengan dibentuknya tim pengkaji Peraturan Walikota (Perwali No 36/2006). </font></p>
<p style="text-indent:-18pt;margin:0 0 0 36pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><font face="Times New Roman">Menyamakan persepsi tentang pentingnya good governance di dalam komunitas kolaborasi</font></p>
<p class="Section1"><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"><span style="color:blue;"><span>4.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><span style="color:blue;">Will this be on going team or will it disband after the current water issues are recognized?</span></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Kolaborasi pemerhati kebijakan publik tentang air ini agak unik. Disebut unik, karena selama ini jika ada semacam “gerakan sosial” yang memperjuangkan keadilan atas kebijakan publik yang terdistorsi, biasanya hanya dicirikan: [] jangka pendek, [] aliansi sangat terbatas, biasanya hanya komunitas mahasiswa saja, [] waktu protes jalanan/demonstrasi hanya berlangsung 1-2hari saja dan hanya bermuara pada media coverage dalam sehari berikutnya, [] di mata polisi, bentuk protes seperti ini agak “anarkhis” [suara keras dan sarkastik]. Berbeda dengan kolaborasi yang dibangun melalui RSPA, yang lebih menunjukkan ciri: [] jangka panjang, hampir 4 bulan, mulai bulan September 2006 – Januari 2007, [] aliansi banyak ragam anasir, [] bentuk kegiatan bukan hanya demonstrasi, tetapi dalam bentuk berbagai strategi: demonstrasi, mendiskusikan sejumlah isu dengan sangat tajam untuk memverivikasi suatu isu, [] menangani mass media cetak dan elektronik (TV/radio), talk show, news letter, selebaran/pamflet, street banner (spanduk), lobby.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Bertolak dari kesadaran bahwa isu-isu yang menyangkut kebijakan publik yang terdistorsi memerlukan perhatian yang serius dari <i>civil society</i>, maka pemanfaatkan ruang publik (public sphere) oleh RSPA dirasakan sangat penting untuk tidak berhenti dalam domain agenda isu air saja.</font></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dengan kesadaran tersebut, RSPA melihat bahwa isu setelah<span>  </span>air yang jauh lebih utama diperhatikan adalah pentingnya mengawal sebuah proses pemuatan regulasi “partisipasi, transparansi, akuntabilitas” dalam bentuk peraturan daerah. Dengan mengawal draft<span>  </span>regulasi ini, ke depan hak sebagai warga negara atas akses dana pembangunan bisa lebih dijamin. Kini, partisipasi masyarakat dalam pembangunan bentuknya seperti (quasi/pseudo) partisipasi. Bentuk substantifnya adalah mobilisasi.</font></p>
<p class="Section1"><span><font face="Times New Roman"><span> </span><span style="color:blue;"></span></font></span><font face="Times New Roman"><span style="color:blue;"><span>5.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><span style="color:blue;">What is the methodology of team RSPA?</span></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Metodologi yang dipilih RSPA/RSPA® adalah PAR (Participatory Action Research)/PRA (Participatory Rural Appraissal). Mengapa metodologi ini dipilih? Bagi RSPA®, dengan memilih metodologi ini memiliki sejumlah alasan seperti:</font></p>
<p class="Section1"><span><font face="Times New Roman">[] para aktor terdiri dari: para peneliti, kelompok klien, dan intelektual, aktivis</font></span><span><font face="Times New Roman">[] sumber dan otoritas: </font></span><span><span><font face="Times New Roman">    </font></span></span><span style="font-family:Wingdings;"><span>à</span></span><span><font face="Times New Roman"> peneliti akan menyediakan keahlian mereka</font></span><span><font face="Times New Roman"><span>                               </span>menyediakan informasi tentang kesadaran politik</font></span><span><span><font face="Times New Roman">    </font></span></span><span style="font-family:Wingdings;"><span>à</span></span><span><font face="Times New Roman"> kelompok klien akan menyediakan informasi</font></span><span><font face="Times New Roman"><span>                               </span>menyediakan energi</font></span><span><font face="Times New Roman"><span>                               </span>kesediaan untuk membuka wawasan dan belajar bersama</font></span><span><span><font face="Times New Roman">    </font></span></span><span style="font-family:Wingdings;"><span>à</span></span><span><font face="Times New Roman"> kelompok negara (eksekutif) akan melaksanakan regulasi yang sudah diatur</font></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><span><font face="Times New Roman">    </font></span></span><span style="font-family:Wingdings;"><span>à</span></span><font face="Times New Roman"> kelompok negara (legislatif) akan memformulasikan regulasi PDAM yang baru</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[] dampak pada proses pentahapan</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">    </font></span><span style="font-family:Wingdings;"><span>à</span></span><font face="Times New Roman"> pendefinisian masalah: </font><font face="Times New Roman"><span>dikendalikan oleh kelompok</span></font><span><font face="Times New Roman"><span>  </span>keuntungan akan didapat kelompok klien</font></span><span><font face="Times New Roman"><span>    </span>sumber daya akan diperoleh dari klien atau konsensus dalam sistem</font></span><span><span><font face="Times New Roman">    </font></span></span><span style="font-family:Wingdings;"><span>à</span></span><span><font face="Times New Roman"> pengumpulan data dan analisis:</font></span><span><font face="Times New Roman"><span>  </span>berkolaborasi dengan klien</font></span><span><font face="Times New Roman"><span> </span>interaksi untuk mengedukasi dan memobilisasi kelompok klien</font></span><span><span><font face="Times New Roman">    </font></span></span><span style="font-family:Wingdings;"><span>à</span></span><span><font face="Times New Roman"> penggunaan<span>  </span>hasil<span> </span></font></span><span><font face="Times New Roman"><span>  </span>konsensus klien atas tujuan intervensi</font></span><span><font face="Times New Roman"><span>  </span>negosiasi untuk memperbaiki situasi klien<span>    </span></font></span><span style="color:blue;"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p class="Section1"><span style="color:blue;"></span><font face="Times New Roman"><span style="color:blue;"><span>6.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><span style="color:blue;">What are the key difficulties faced by this team?</span></font></p>
<p style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><font face="Times New Roman">Membangun soliditas kolaborasi yang beragam latar belakang</font></p>
<p style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><font face="Times New Roman">Menghadapi “paradigma bad governance” dari pemkot/PDAM</font></p>
<p style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><font face="Times New Roman">Pemanfaatan media<span>  </span>jurnalistik yang masih begitu terbatas ruangnya dan belum sampai pada domain jurnalisme publik yang investigatif</font></p>
<p style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><font face="Times New Roman">Membangun komitmen untuk mengenali strategi advokasi secara menyeluruh dalam resistensi thdp kebijakan yang </font></p>
<p class="Section1"><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"><span style="color:blue;"><span>7.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><span style="color:blue;">Does the Percik working<span>  </span>environment suit this team? Why? Why not?</span></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Percik terlibat dalam kolaborasi<span>  </span>RSPA/RSPA® dengan posisi sebagai fasilitator dalam setiap pertemuan. Bentuk fasilitasi yang dimaksud mencakup kerja advokasi seperti: [a] pendokumentasi setiap proses konsolidasi dg cara yang transparan; [b] menjadi moderator/member dalam forum-forum konsolidasi; [c] sebagian funder untuk aksi dan penggandaan media kampanye; [d] fasilitasi mobilisasi massa, [e] anggota dari tim pelobi ke polisi, walikota dan legislatif, <span>  </span></font></p>
<p class="Section1"><span><font face="Times New Roman">Mengapa Percik mau terlibat dalam kolaborasi ini? Percik memiliki obsesi untuk dapat mewujudkan praksis advokasi yang komprehensif, bertumbuh dari <i>bottom-up</i>, <i>self –reliance</i>, sifat pergerakan kolaboratif, membangun ruang publik secara bersama, memiliki ruang untuk melakukan penelitian. Selama ini, praksis advokasi Percik sangat dibatasi oleh dana funding. Dengan pola ini, maka program akan selesai begitu dukungan dana habis. Bentuk dukungan dana ini pun juga terbatas dalam arti tak bisa melibatkan banyak stakeholder. Dengan kolaborasi seperti ini, maka praksis advokasi Percik mendapatkan kesempatan untuk belajar bersama dengan stakeholder lainnya dalam menciptakan ruang publik sebagai syarat hadirnya demokrasi.</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p class="Section1"><span></span><font face="Times New Roman"><span style="color:blue;"><span>8.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><span style="color:blue;">Do you intend to broaden your goals to a regional/national level, or remain local? Why? What do you see as the benefit of this?</span></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Secara prinsip, apa selama ini dikerjakan dalam kolaborasi RSPA/RSPA® diupayakan untuk bisa diakses oleh banyak pihak, misalnya melalui media cetak koran: Suara Merdeka, Jawa Pos, Solo Pos/Salatiga Raya, Wawsan, Kompas, Koran Sindo (Seputar Indonesia). Prinsip <i>good governance</i> dimulai dari kolaborasi ini. Dalam beberapa hal, kampaye good governance dalam manajemen PDAM telah diluncurkan pada aras lokal, regional dan nasional, bahkan internasional. Mengapa pilihan untuk menyebarluaskan atau membuka akses untuk belajar dari <i>good practices</i> resistensi ini dipilih? Alasannya sederhana: </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[a] hampir kebanyakan PDAM dikelola sebagai perusahaan daerah dengan kontrol <i>civil society</i> yang lemah bahkan sering muncul PDAM<span>  </span>sebagai “sapi perah” (korupsi),<span>  </span></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[b] tak ada transparansi dan akuntabilitas kepada publik,</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[c] regulasi yang mengatur PDAM biasanya rapuh dan sudah usang,</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[d]<span>  </span>legisaltif yang tak memiliki komitmen kepada basis konstituennya, khususnya terkait dengan re-drafting regulasi kebijakan publik yang tidak berpihak pada pelanggan air, </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[e] regulasi tentang PDAM sifatnya sangat sektoral, sementara persoalan air mestinya menjadi perhatian lintas sektoral [dinas lingkungan hidup, badan perencana daerah khususnya terkait dengan penataan ruang konservasi] </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dengan alasan seperti itu, maka jika pengalaman ber resistensi yang multistakeholder ini bisa diakses kepada komunitas klien PDAM di seluruh Indonesia, maka tak menutup kemungkinan bahwa virus good governance dalam manajerial PDAM akan bisa diakses dan dirujuk civil society di lain tempat.</font></p>
<p class="Section1"><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"><span style="color:blue;"><span>9.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><span style="color:blue;">How effective do you think RSPA is in achieving its goals? What could be done to improve the effectiveness?</span></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Sulit menterjemahkan bahwa RSPA/RSPA® telah secara efektif memperoleh hasil dalam perjuangannya. Periksa matriks di nomor 5. Yang jelas, sampai pada titik sekarang, RSPA® tengah menunggu konfirmasi duduk dalam Tim Pengkaji Tarif, yang sudah dijanjikan pada awal minggu pertama Desember 2006 dan hingga kini belum juga diformalkan.</font></p>
<p class="Section1"><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"><span style="color:blue;"><span>10.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">  </span></span></span><span style="color:blue;">How well known is RSPA’s work in Salatiga? And outside Salatiga? Do people take notice? What could be done to make people take more notice?</span></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">RSPA/RSPA® sangat terkenal di Salatiga karena: </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[a] aksi demo, </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[b] kampanye dengan loud speaker, </font></p>
<p class="Section1"><span><font face="Times New Roman">[c] aksi spanduk, </font></span><span><font face="Times New Roman">[d] aksi lobby, news maker di media, </font></span><span><font face="Times New Roman">[e] karena ada kebijakan kembali ke tarif PDAM yang lama</font></span><span><font face="Times New Roman">Aksi kolaborasi ini sudah diketahui banyak pihak, meskipun dinilai belum optimal. Kerja media kampanye yang juga belum dikerjakan adalah: []<span>  </span>menggarap dokumentasi dalam bentuk CD yang sudah di dubbing dengan narasi dari aksi yang sudah dilakukan; [] kini tengah menyiapkan sebuah publikasi advokasi<span>  </span>yang lebih lengkap; tengah disiapkan penulisan ulang sejumlah dokumen aksi-refleksi-penelitian yang akan dimuarakan ke dalam sebuah publikasi yang lebih lengkap </font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p class="Section1"><span></span><font face="Times New Roman"><span style="color:blue;"><span></span></span></font></p>
<p class="Section1"><font face="Times New Roman"><span style="color:blue;"><span>11.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><span style="color:blue;">What do you see as the key water issues for Indonesia? Do you think these are changing/emerging, or are they very similar to previous times? What might be causing them?</span></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Isu kunci masalah air di Indonesia adalah:</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[a] masalah kelangkaan air yang tak diikuti dengan penyadaran dan kebijakan yang mampu mendukung ketersediaan secara lestari/sustainable, </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[b] regulasi pengelolaan air yang cenderung menjadi komoditas yang diprivatisasikan ketimbang sebagai bagian dari kewajiban negara menyediakan air bersih yang tak diikuti dengan motif mencari untung, </font></p>
<p class="Section1"><span><font face="Times New Roman">[c] isu air tidak diletakkan dalam perspektif bioregionalisme tetapi lebih ke pendekatan sektoral </font></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[d] resistensi terhadap distorsi kebijakan air juga sanga <i>ad-hoc</i> dan gagal dalam membangun <i>mass-consciousness.</i> Kegagalan ini diduga karena ketiadaan komitmen ideologis yang memiliki prinsip teoretikal “power-knowledge”</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Kolaborasi ini bermimpi dan tengah mengkampanyekan melalui langkah kecil dan lokal agar pengalaman memperjuangkan kebijakan <i>good governance</i> ini bisa menginspirasi CS/CSO pelanggan air di berbagai tempat di Indonesia </font></p>
<p class="Section1"><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"><br />
</span><b><span><font face="Times New Roman">Evaluasi Kinerja Program yang telah dan sedang berjalan</font></span></b><span style="color:blue;"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<table style="border:medium none;border-collapse:collapse;" class="MsoTableGrid" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0">
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;background:#e0e0e0 none repeat scroll 0 50%;width:23.6pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="31"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">No</span></td>
<td style="background:#e0e0e0 none repeat scroll 0 50%;width:98.95pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #ece9d8;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="132"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Aktor yang dilibatkan</span></td>
<td style="background:#e0e0e0 none repeat scroll 0 50%;width:143.95pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #ece9d8;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="192"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bentuk kerjasama</span></td>
<td style="background:#e0e0e0 none repeat scroll 0 50%;width:176.3pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #ece9d8;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="235"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tujuan</span></td>
<td style="background:#e0e0e0 none repeat scroll 0 50%;width:210.6pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #ece9d8;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="281"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Evaluasi</span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:23.6pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="31"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1</span></td>
<td style="width:98.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="132"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Cemsed UKSW dan radio elshinta</span></td>
<td style="width:143.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="192"><i><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Talkshow</span></i><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> ttng kebijakan air di radio dalam bentuk debat publik &#8211; undangan</span></td>
<td style="width:176.3pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="235"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Audience memahami duduk soal kasus air</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kampanye tentang pentingnya memberi perhatian pada kebijakan air yang bad governance</span></td>
<td style="width:210.6pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="281"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Program ini hanya menjangkau pada segmen pendengar radio saja</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Fasilitator/moderator tak menguasai masalah regulasi air</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mike tak memadai jumlahnya</span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:23.6pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="31"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">2</span></td>
<td style="width:98.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="132"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Media cetak (koran)</span></td>
<td style="width:143.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="192"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Press release/conference</span></td>
<td style="width:176.3pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="235"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Public opinion</span></td>
<td style="width:210.6pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="281"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pemutakhiran pendapat RSP/®, meski dlm banyak pemberitaan hanya Solo Pos yang relatif mampu meng-cover<span>  </span>informasi secara proporsional</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Gagal menampilkan subaltern secara ideal</span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:23.6pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="31"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">3</span></td>
<td style="width:98.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="132"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Media cetak (kampanye)</span></td>
<td style="width:143.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="192"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pendanaan penggandaan: news letter, pamlet, street banner</span></td>
<td style="width:176.3pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="235"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Public opinion</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Get raising mass consciousness</span></td>
<td style="width:210.6pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="281"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dengan Warta RSPA/®an selebaran dengan kemasan “Tom Gembus dan John Koplo”</span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:23.6pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="31"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">4</span></td>
<td style="width:98.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="132"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Legislative</span></td>
<td style="width:143.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="192"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Lobby, demonstration/ protes, penyampaian asipirasi, konsultasi publik</span></td>
<td style="width:176.3pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="235"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mencari dukungan dalam bentuk <i>resounding</i> RSPA ke walikota</span></td>
<td style="width:210.6pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="281"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Legislatif lemah dalam pengawalan kebijakan PDAM yang sudah aout of date</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Legislatif telah diisukan dan ada dugaan kuat mendapat gratifikasi dan sudah dilaporkan ke Kejaksaan Negeri</span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:23.6pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="31"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">5</span></td>
<td style="width:98.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="132"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kejaksaan</span></td>
<td style="width:143.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="192"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Melaporkan dugaan gratifikasi PDAM</span></td>
<td style="width:176.3pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="235"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mengklarifikasi dugaan gratifikasi pada legislatif</span></td>
<td style="width:210.6pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="281"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kesulitan penyidikan kasus-kasus suap/korupsi </span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:23.6pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="31"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">6</span></td>
<td style="width:98.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="132"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Badan Pemeriksa Keuangan</span></td>
<td style="width:143.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="192"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Permohonan untuk pemeriksaan/audit</span></td>
<td style="width:176.3pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="235"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Untuk memastikan bahwa PDAM melakukan manajemen keuangan dengan sehat. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jika memang kelak terbukti ada penyimpangan, maka dengan lembaga ini akan</span></td>
<td style="width:210.6pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="281"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Harus mampu membangun pencitraan bahwa kasus PDAM telah membuat resah masyarakat pelanggan dan di dalamnya ada dugaan kasus korupsi</span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:23.6pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="31"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">7</span></td>
<td style="width:98.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="132"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Intelektual perguruan tinggi</span></td>
<td style="width:143.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="192"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Permohonan untuk mendukun</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">g bagaimana cara memahami hasil audit auditor independen, bpkp (badan pemeriksa keuangan dan pembangunan)</span></td>
<td style="width:176.3pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="235"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Capacity building anggota RSPA®</span></td>
<td style="width:210.6pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="281"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Membangun kolaborasi untuk membangun pendekatan yang lebih ilmiah, meski gagal karena debat publik yang dikemas gagal menghadirkan pihak-pihak yang berkompeten</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Keikutsertaan dalam seminar internasional lebih sebagai upaya membangun wacana gender mainstreaming. Namun sekali lagi ini sifatnya relatif elite, meski ada rencana mempublikasikannya.</span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:23.6pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="31"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">8</span></td>
<td style="width:98.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="132"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Civil society:</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pancuran</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kutowinangun</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kalioso</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kampung Baru</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Togaten</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jetis</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">HMI</span></td>
<td style="width:143.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="192"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Advokasi</span></td>
<td style="width:176.3pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="235"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mensosialisasikan<span>  </span>agenda RSPA yang sarat dengan informasi teknikal dan konseptual</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Transformasi nilai-nilai demokrasi/good governance ke grassroot</span></td>
<td style="width:210.6pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="281"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Diperlukan mediator-fasilitator yang mampu menyampaikan perkembangan mutakhir kepada masyarakat</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Banyak praktisi/aktivis RSPA yang sebagian masuk ke wilayah pragmatis</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pengemasan bahasa informasi yang lebih grassroot</span></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" style="width:23.6pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="31"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">9</span></td>
<td rowspan="2" style="width:98.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="132"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Walikota</span></td>
<td style="width:143.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="192"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Permohonan akses: Perwali dan informasi hasil audit PDAM</span></td>
<td style="width:176.3pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="235"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">rspa bisa menghitung dan memprediksikan harga yang pantas</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">data yang bisa ditandingkan dengan penetapan tarif sebelumnya</span></td>
<td style="width:210.6pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="281"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Usaha ini meski secara temu muka sudah mencapai kesepakatan, tetapi orang2 di sktr Wlkt inkonsisten</span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:143.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="192"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">lobby</span></td>
<td style="width:176.3pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="235"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Meyakinkan dukungan atas pilihan kebjakan air yang berbasis good governance</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kesediaan menjadi tim pengkaji tarif</span></td>
<td style="width:210.6pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="281"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Usaha meyakinkan walikota menjadi penting karena selama ini ternyata Wlkt dibisiki dengan informasi sesat.</span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:23.6pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="31"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">10</span></td>
<td style="width:98.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="132"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">polisi</span></td>
<td style="width:143.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="192"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Surat</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> pemberitahuan</span></td>
<td style="width:176.3pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="235"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adanya jaminan konstitusional keamanan pada saat demonstrasi</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Verifikasi dan membangun imperatif bahwa preman tdk dibolehkan masuk dalam percaturan regulasi PDAM</span></td>
<td style="width:210.6pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="281"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kerjasama yang bagus dengan polisi menjelang demonstrasi dan </span></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" style="width:23.6pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="31"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">11</span></td>
<td rowspan="2" style="width:98.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="132"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Preman</span></td>
<td style="width:143.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="192"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pertukaran informasi</span></td>
<td style="width:176.3pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="235"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Diperolehnya peta preman yang ada di Salatiga dan keberpihakan kepada siapa</span></td>
<td style="width:210.6pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="281"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Informasi dan usaha mengolah informasi ini mampu menumbuhkan keberanian untuk tetap melaksanakan aktivitas bergerakan</span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:143.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="192"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Counter Violence thd preman</span></td>
<td style="width:176.3pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="235"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pemetaan kekuatan preman di Salatiga</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></td>
<td style="width:210.6pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="281"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pemetaan ini menjadi sebuah instrumen untuk memainkan konstestasi<span>  </span>di antara preman dlm konteks gerakan RSPA® </span></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" style="width:23.6pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="31"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">12</span></td>
<td rowspan="2" style="width:98.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="132"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Universitas</span></td>
<td style="width:143.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="192"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Penyelenggaraan debat publik</span></td>
<td style="width:176.3pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="235"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Membangun “common sense” tentang kebijakan air pada arena universitas</span></td>
<td style="width:210.6pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="281"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Gagal, karena info yang disajikan data 3 tahun lalu. Sementara RSPA tdk disertakan</span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:143.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="192"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Keikutsertaan dalam seminar internasional</span></td>
<td style="width:176.3pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="235"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mengemas dalam diskusi intens pada aras internasional tentang kampanye terkait dengan <i>gender mainstreaming</i></span></td>
<td style="width:210.6pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="281"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mendapat repons yang bagus dari audiens dan rencana akan dipublikasikan</span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:23.6pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="31">
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman" size="3">13</font></p>
</td>
<td style="width:98.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="132">
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3"><font face="Times New Roman">Mature lady<span>  </span>(Netherlands) and young ladies from<span>   </span>Australia</font></font></p>
</td>
<td style="width:143.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="192">
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman" size="3">Sharing about water management problems from other countries</font></p>
</td>
<td style="width:176.3pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="235">
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3"><font face="Times New Roman"><span> </span>Membagi informasi komunitas pelanggan air di Salatiga dan Australia dan Negeri Belanda</font></font></p>
</td>
<td style="width:210.6pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="281">
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman" size="3">Dengan pertukaran informasi seperti ini, RSPA® dan koleganya bisa mengkomparasikan pengalaman mengantisipasi regulasi air yang seharusnya</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:23.6pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="31">
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman" size="3">14</font></p>
</td>
<td style="width:98.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="132">
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman" size="3">ICW Indonesia Corruption Watch</font></p>
</td>
<td style="width:143.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="192">
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman" size="3">Upscalling movement?</font></p>
</td>
<td style="width:176.3pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="235">
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman" size="3">Support informasi bagi RSPA® untuk aksi pemberantasan korupsi</font></p>
</td>
<td style="width:210.6pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="281"><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Usaha berjaga-jaga ketika harus melakukan aktivitas di KPK</font></font></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:23.6pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="31">
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman" size="3">15</font></p>
</td>
<td style="width:98.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="132">
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman" size="3">BPK<span>  </span>- Badan Pemeriksa Keuangan</font></p>
</td>
<td style="width:143.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="192">
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman" size="3">Upscalling arena of resistance</font></p>
</td>
<td style="width:176.3pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="235">
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman" size="3">Permintaan untuk mengaudit PDAM</font></p>
</td>
<td style="width:210.6pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="281"><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Tengah diusahakan untuk menyiapkan dokumen pendukungnya</font></font></span></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" style="width:23.6pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="31">
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman" size="3">16</font></p>
</td>
<td rowspan="2" style="width:98.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="132">
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman" size="3">Listhia</font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3"></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman" size="3">Listhia-Univ Soegijapranata-RSPA®</font></span></p>
</td>
<td style="width:143.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="192"><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Fasilitasi kosientisasi melalui diskusi film</font></font></span></td>
<td style="width:176.3pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="235"><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Penyadaran pada kelompok elite RSPA® dan kelompok basis pelanggan air tentang betapa pentingnya mengkonservasi air.</font></font></span></td>
<td rowspan="2" style="width:210.6pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="281"><span><font face="Times New Roman" size="3"> </font></span><span><font size="3"><font face="Times New Roman">Kerjasama ini lebih menekankan aspek konsientisasi ketimbang terlibat dalam aksi mobilisasi massa yang turun ke jalan.</font></font></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:143.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="192">
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3"><font face="Times New Roman"><span><span> </span></span>Sharing dengan pengamat lingkungan dari AS </font></font></p>
</td>
<td style="width:176.3pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="235">
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman" size="3">Sharing pengalaman bagaimana gerakan sosial dalam mengawal tentang diskursus penyediaan air bersih</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:23.6pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="31">
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman" size="3">17</font></p>
</td>
<td style="width:98.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="132">
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman" size="3">Konsolidasi internal Percik UPBH Percik</font></p>
</td>
<td style="width:143.95pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="192">
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman" size="3">Pengkajian kebijakan pengelolaan air</font></p>
</td>
<td style="width:176.3pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="235">
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman" size="3">Memperoleh logika kebijakan yang ilmiah dlm pengelolaan air</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman" size="3">Terumuskannya “draft akademik” regulasi pengelolaan air yg baru</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman" size="3">Bahan pendukung untuk proses litigasi</font></p>
</td>
<td style="width:210.6pt;background-color:transparent;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" valign="top" width="281">
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman" size="3">Belum optimal dan tidak jelas bagaimana komitmen yang harus dikontriusikan.</font></p>
</td>
</tr>
</table>
<p><font face="Times New Roman"> </font><span><font face="Times New Roman"> </font></span><span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bataragoa.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bataragoa.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bataragoa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bataragoa.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bataragoa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bataragoa.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bataragoa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bataragoa.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bataragoa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bataragoa.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bataragoa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bataragoa.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bataragoa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bataragoa.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bataragoa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bataragoa.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bataragoa.wordpress.com&amp;blog=2944921&amp;post=12&amp;subd=bataragoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bataragoa.wordpress.com/2008/02/22/tentang-rspa%c2%ae/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/41f50b9c8f62b118e3d4d8ffbbc7688e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Geritz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEMPERTEGAS PERAN KAUM INTELEKTUAL DALAM MENGAWAL[1] KEBIJAKAN YANG PARTISIPATIF GUNA MEREDAM KORUPSI</title>
		<link>http://bataragoa.wordpress.com/2008/02/22/11/</link>
		<comments>http://bataragoa.wordpress.com/2008/02/22/11/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Feb 2008 15:19:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Geritz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makalah]]></category>
		<category><![CDATA[Civil Society]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrasi Deliberatif]]></category>
		<category><![CDATA[Habitus]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[Pierre Bourdieu]]></category>
		<category><![CDATA[Rent Seeker]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bataragoa.wordpress.com/2008/02/22/11/</guid>
		<description><![CDATA[MEMPERTEGAS PERAN KAUM INTELEKTUAL DALAM MENGAWAL[1] KEBIJAKAN YANG PARTISIPATIF GUNA MEREDAM KORUPSI (Studi Kasus Pengawalan Atas Pembuatan Kebijakan Tentang Tarif Air di Salatiga) Geritz Febrianto Rindang Bataragoa[2] Abstract Personal is political. The problem is that not many people are aware of the fact. Even the intellectuals do not realize that their lives are very much [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bataragoa.wordpress.com&amp;blog=2944921&amp;post=11&amp;subd=bataragoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-size:14pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">MEMPERTEGAS PERAN KAUM INTELEKTUAL DALAM MENGAWAL</span><a title="_ftnref1" name="_ftnref1" href="http://null/#_ftn1"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></strong></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> KEBIJAKAN YANG PARTISIPATIF GUNA MEREDAM KORUPSI</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0 -9pt 0 0;" align="center"><span style="font-family:Times New Roman;">(Studi Kasus Pengawalan Atas Pembuatan Kebijakan Tentang Tarif Air di Salatiga)</span></p>
<p align="center"><span style="font-family:Times New Roman;">Geritz Febrianto Rindang Bataragoa</span><a title="_ftnref2" name="_ftnref2" href="http://null/#_ftn2"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span></span></span></a><em></em><em><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></em></p>
<p align="center"><em><span style="font-family:Times New Roman;">Abstract</span></em></p>
<p align="center"><em><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Personal is political. The problem is that not many people are aware of the fact. Even the intellectuals do not realize that their lives are very much influenced and at the same time influence politics. This makes them afraid of being involved in some practically political actions. Referring to Bourdieau’s “habitus”, this will be an opinion paper commenting on the academicians’ participation into the case of water tariff problems in Salatiga and how they perceive the social movement for enhancing participatory public policy making. This overview of the academicians’ attitude towards politics will reflect the socio-cultural mindset that influences the practice of corruption in Indonesia. Knowing the mindset, this paper will suggest some practical actions that may initiate the transformation in Indonesian society.</span></span></em><em><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></em><em><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Keywords: Bourdieau’s “habitus”, academicians’ participation, water tariff problems, political actions,<span> </span>participatory public policy making, Indonesian society,</span></span></em></p>
<p align="left"><em></em><strong><span style="font-family:Times New Roman;">Pendahuluan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Makalah ini merupakan pengalaman berharga sebagai aktivis mahasiswa di Kota Salatiga. Cerita tentang Gerakan Sosial di Salatiga ini merupakan sebuah pengantar untuk memasuki melihat <em>Habitus</em> Kaum intelektual.<span> </span>Lahirnya Peraturan Walikota 36/2006 Tentang kenaikan tarif<span> </span>PDAM di Salatiga, mendatangkan keresahan rakyat Kota Salatiga. Gerakan Masyarakat Salatiga yang beraliansi yang kemudian dikenal sebagai Rakyat Salatiga Peduli Air (RSPA/®</span><a title="_ftnref3" name="_ftnref3" href="http://null/#_ftn3"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;">), berargumentasi bahwa Peraturan Walikota 36/2006 merupakan kebijakan yang sangat menyesakkan komunitas pelanggan PDAM. Namun</span><span id="more-11"></span><span style="font-family:Times New Roman;"> pemerintah Kota Salatiga dan PDAM, mengeluarkan argumentasi bahwa kenaikan tarif ini dikarenakan adanya penyesuaian kemahalan biaya produksi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Gerakan ini ternyata berumur sangat panjang (umumnya gerakan masyarakat hanya berumur 1-3 minggu saja), tidak seperti umumnya yang terjadi di beberapa daerah lain, karena gerakan RSPA berlangsung selama 7 bulan. Geritz dkk (2007) dalam jurnal <em>Renai</em> tahun VII No. 1.2007, mengemukakan bahwa yang membedakan gerakan protes air dengan gerakan aliansi protes lainnya terhadap kebijakan tarif PDAM didasarkan pada asumsi yang mendasarinya. <em>Pertama,</em> regulasi ini (Perwali 36/2006) akan berpengaruh pada sekitar 21 ribu pelanggan. Jika diasumsikan per KK (Kepala Keluarga) ada empat jiwa, maka jumlah yang akan terkena dampak adalah 84 ribu jiwa dari jumlah sekitar 150 ribu jiwa di Kota Salatiga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Kedua,</em> akses air bersih yang seharusnya disediakan sebagai barang publik tidak bisa dengan serta<span> </span>merta dijadikan komoditas dengan membangun logika “kalau mengelola perusda harus untung.” Logika ini berujung pada dijadikannya PDAM sumber pendapatan yang harus memberikan setoran sebagian ke pos PAD (Pendapatan Asli Daerah). Sementara itu, regulasi yang memayungi pengelolaan air justru mendorong untuk pertama-tama mengedepankan pelayanan publik secara optimal, bahkan jika perlu, kebijakan tarif<span> </span>PDAM juga memihak pada kaum miskin (<em>pro-poor</em>). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Ketiga,</em> Perwali 36/2006, harus ditinjau ulang karena mengeluarkan aroma tak sedap dalam perumusan kebijakannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Keempat,</em> bahwa kesadaran dan keberdayaan pelanggan atas atas akses air bersih selama ini direpresi dengan minimalnya hak-hak perlindungan atas akses air. Selama ini PDAM Kota Salatiga tidak memiliki standar pelayanan minimum dan mekanisme SOP (<em>Standard Operational Procedure<a title="_ftnref4" name="_ftnref4" href="http://null/#_ftn4"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[4]</span></strong></span></span></span></a>)</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Keempat asumsi di atas<span> </span>cukup memberikan alasan untuk melakukan pengawalan atas proses kebijakan penetapan tarif<span> </span>PDAM Kota Salatiga. Jika hal tersebut tidak dilakukan maka pemerintah akan berani untuk mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan diri dan kelompok saja dengan mengorbankan kepentingan rakyat dan hal ini pun akan berlaku untuk kebijakan pada sektor-sektor yang lain, seperti pendidikan, pembangunan, dan lingkungan. Artinya ada indikasi rawan praktek korupsi dalam <em>water governance </em>dan berujung pada pelanggaran-pelanggaran lainnya.</span></p>
<p><strong></strong><strong><span style="font-family:Times New Roman;">Pengertian Korupsi</span></strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Korupsi merupakan salah satu “penyakit” dalam masyarakat sekarang yang sangat sulit dibendung laju pertumbuhannya. Menurut <em>Transparency Internasional</em>, secara singkat, korupsi didefinisikan sebagai menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.</span><a title="_ftnref5" name="_ftnref5" href="http://null/#_ftn5"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[5]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> Pernyataan-pernyataan normatif mengenai korupsi harus berdasarkan titik pandang, standar ”baik”, dan model cara kerja korupsi dalam situasi tertentu.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Menurut Caiden,</span><a title="_ftnref6" name="_ftnref6" href="http://null/#_ftn6"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[6]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> bentuk-bentuk korupsi yang umum dikenal yaitu :</span></span></p>
<ul>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Berkhianat, Subversi, transaksi luar negeri yang ilegal, dan penyelundupan</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Menggelapkan barang milik lembaga, swastanisasi anggaran pemeerintahan, menipu dan mencuri.</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Menggunakan uang yang tidak tepat, memalsu dokumen dan menggelapkan uang, mengalirkan uang lembaga ke rekening pribadi, menggelapkan pajak, dan menyalahgunakan dana.</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Menyalahgunakan wewenang, intimidasi, menyiksa, penganiayaan, memberi ampun dan grasi tidak pada tempatnya.</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Mengabaikan keadilan, melanggar hukum, memberikan kesaksian palsu, menahan secara tidak sah, dan menjebak</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Penyuapan, memeras, mengutip pungutan, meminta komisi</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Menjegal pemilihan umum, memalsu kartu suara, menagi-bagi wilayah pelilihan umum agar bisa unggul</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Menghindari pajak, meraih laba berlebih-lebihan.</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Menjual pengaruh, menawarkan jasa perantara, konflik kepentingan</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Menerima hadiah, uang jasa, uang pelicin dan hiburan, perjalanan yang tidak pada tempatnya.</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Berhubungan dengan organisasi kejahatan, operasi pasar gelap.</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Perkoncoan dan menutupi kejahatan</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Memata-matai secara tidak sah, menyalahgunakan telekomunikasi dan pos</span></span></li>
</ul>
<p><span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Dieter Frisch (1994) yang dikutip oleh Jeremy Pope (2003) mengatakan bahwa :</span></span><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>”korupsi memperbesar pengeluaran untuk barang dan jasa; memperbesar utang suatu negara (dan memperbesar cicilan utang di masa mendatang); menurunkan standar, karena barang yang diserahkan adalah barang yang mutu dibawah standar teknologi yang tidak cocok atau tidak perlu; dan menyebabkan proyek-proyek dipilih berdasarkan modal (karena lebih menguntungkan bagi pelaku korupsi), bukan berdasarkan kemampuan menyerap tenaga kerja yang bermanfaat bagi pembangunan.”</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>Pemberantasan korupsi merupakan agenda mendesak yang harus dilaksanakan karena sangat merugikan negara. </span>Dalam peringkat baru yang dikeluarkan lembaga <em>Political and Economic Risk Consultancy</em> (PERC), Indonesia bersama Thailand menduduki peringkat kedua dengan skor 8,03, setingkat di bawah Filipina yang mendapat nilai 9,40. Bagi Indonesia, hasil ini sedikit lebih baik setelah tahun lalu, Indonesia mendapat nilai 8,16. PERC mengatakan, kampanye pemberantasan korupsi yang dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sedikit memberikan hasil positif, tapi belum cukup untuk membersihkan nama Indonesia.</span><a title="_ftnref7" name="_ftnref7" href="http://null/#_ftn7"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[7]</span></span></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sedangkan Menurut ICW pada pertengahan semester I/2007, terdapat 51 kasus korupsi baru yang terungkap <span>dengan potensi kerugian negara men</span><span>capai Rp 665,8 miliar. J</span>umlah kasus baru ini sangat sedikit sekali, jika dibandingkan dengan temuan BPK mengenai kerugian negara. Dalam Hapsem Semester II 2006 dilaporkan terjadi 5.776 kasus dengan kerugian negara mencapai Rp 13.3 triliun.</span><a title="_ftnref8" name="_ftnref8" href="http://null/#_ftn8"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[8]</span></span></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dari temuan di atas, saya mencoba menarik ke kesimpulan bahwa tingkat korupsi di Indonesia sangat tinggi. Dalam hitungan rupiah mungkin kita bisa menghitung berapa banyak pelanggaran-pelanggaran terhadap hak yang seharusnya milik rakyat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong></strong>Kaitannya dengan PDAM Salatiga, RSPA/® mencium adanya indikasi korupsi, dan telah melaporkan ke kejaksaan tapi tidak cukup bukti untuk menahan mereka. Bahkan ada korupsi yang sangat sulit dibuktikan adalah ketika untuk menjadi pegawai PDAM, maka harus menyetorkan sejumlah<span> </span>uang kepada orang tertentu dikalangan pemerintahan. Ini terbukti saat Tim dosen akutansi Fakultas Ekonomi UKSW<span> </span>melakukan audit atas<span> </span>permintaan RSPA®, didapatkan bahwa PDAM kelebihan jumlah tenaga kerja. </span></p>
<p><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"></span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Mempertegas Peran Kaum Intelektual</span></span></strong></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;">Dalam berbagai kasus kebijakan yang menyimpang, banyak peran kaum intelektual sangat memegang peranan yang penting. Seperti kita ketahui bersama bahwa mahasiswa diseluruh Indonesia memulai aksi protes mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat atau memprotes tindakan korupsi para pejabat pemerintahan, sangat mempengaruhi keadaan<span style="font-size:13pt;line-height:150%;">. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Belajar dari Gerakan RSPA/® yang saling berkolaborasi antara LSM, Mahasiswa, elemen masyarakat, dan Partai Politik, dan<span> </span>dengan berusaha sekuat mungkin menyadari bahwa banyak kepentingan yang mendahului, tapi masih dalam koridor menciptakan kemaslahtan masyarakat, maka gerakan ini bisa jalan dengan berbagai dialektika yang terjadi. Gerakan ini merupakan salah satu gerakan yang dapat menggerakkan kuantitas masyarakat yang cukup banyak, karena masyarakat merasa nyaman berada dalam dampingan mahasiswa dan aktivis lainnya</span><a title="_ftnref9" name="_ftnref9" href="http://null/#_ftn9"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[9]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;">. Hasil dari kolaborasi ini ialah terbitnya peratuan walikota yang baru, sebagai pengganti Peraturan Walikota 36/2006.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Gerakan ini sebagian besar juga didukung oleh para mahasiswa yang pada prinsipnya mencoba menancapkan <em>habitus</em> <em>good governance</em> pada pengelolaan air.</span></p>
<p><strong></strong><strong><span style="font-family:Times New Roman;">Masalah dan Hambatan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Keterlibatan kaum intelektual sangat penting dan perlu ditegaskan untuk ikut serta, agar tidak mengurangi proses-proses keilmiahan yang terjadi di dalamnya. Kaum Intelektual yang dimaksud di sini ialah Aktivis Mahasiswa, Aktivis LSM, dan Dosen. Berhasil dalam bergerakan di sini, bukan berarti tidak mendapatkan hambatan dalam proses-proses yang berlangsung. Belajar dari kasus Salatiga, sangat sedikit kepedulian dari mahasiswa dan Perguruan Tinggi dalam mendatangkan/mendekatkan restoran surga</span><a title="_ftnref10" name="_ftnref10" href="http://null/#_ftn10"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[10]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> bagi masyarakat sekitar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pernyataan diatas bukan tanpa alasan, ini terbukti dari :</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Times New Roman;">Saat ada mahasiswa yang berdemonstrasi menyuarakan suara kenabiannya, kadang dosen di dalam kelas malah menjelek-jelekkan mahasiswa, di depan mahasiswa yang ada dikelas, biasanya dengan kata “mahasiswa kurang kerjaan.” Hal ini pun akhirnya dicerna oleh mahasiswa yang diajarkannya seolah-olah berdemonstrasi adalah kegiatan yang tidak berguna. Label “kurang-kerjaan” sekaligus menempatkan mahasiswa yang melakukan demonstrasi dalam posisi tertindas </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Times New Roman;">Kadang kala beberapa dosen diajak untuk berkolaborasi bersama dengan alasan membuat gerakan masyarakat mempunyai nafas ilmiah. Namun faktanya, dosen seringkali beralasan takut nafas ilmiah yang dimiliki ternoda oleh politik. Padahal sejak lahir kita sudah bersinggungan dengan politik, bahkan beberapa kebijakan adalah produk intelektual. Dalam hal ini kosakata politik dianggap sebagai hal yang jelek, padahal tidak selalu demikian.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Times New Roman;">Dosen-dosen yang enggan bergabung berjuang bersama rakyat, ketika diminta oleh pemerintah sebagai mediator pemecahan masalah kadang kala menjadi yang paling mengetahui permasalahan masyarakat.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Times New Roman;">Ini yang paling parah, karena beberapa dosen menjadi konsultan pemerintah</span><a title="_ftnref11" name="_ftnref11" href="http://null/#_ftn11"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[11]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;">, tapi tanpa landasan berpihak pada rakyat, Sehingga produk yang dihasilkan malah menyengsarakan rakyat. Hal ini sama dengan budaya “asal bapak senang, aku dapat untung”. Parahnya di mana? Bukankah ini sama saja dengan mencari keuntungan diatas penderitaan rakyat banyak (<em>Rent Seeker</em>).</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pola pikir (<em>mindset</em>) beberapa pengajar di atas secara perlahan membunuh daya kritis mahasiswa. Berdemonstrasi telah mendapat predikat buruk di mata para dosen, tanpa mengetahui proses-proses yang terjadi di balik itu semua. Di satu sisi kegiatan ini adalah tindakan riil pengabdian pada masyarakat dan bentuk dari kesadaran mahasiswa yang menyadari dirinya adalah pemuda sekaligus intelektual, bukan dengan proyek <em>live-in</em> di suatu desa yang belum tentu membutuhkan pendampingan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Para pengajar biasanya apriori terhadap demonstrasi tanpa mengetahui substansi dan proses yang berlangsung. Padahal seharusnya<span> </span>sebagai akademisi dosen di tuntut untuk ilmiah dan objektif. Artinya harus di uji dan dibuktikan terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian. Kebiasaan ini sepertinya tidak menjadi habitus seorang dosen saja, tetapi juga telah menular kepada dosen yang lain dan para mahasiswa yang secara tidak sadar di pengaruhi. </span></p>
<p><strong></strong><strong></strong><strong></strong><strong></strong><strong><span style="font-family:Times New Roman;">Kaum Intelektual dan Demokrasi Deliberatif</span><a title="_ftnref12" name="_ftnref12" href="http://null/#_ftn12"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[12]</span></strong></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> Gerakan Masyarakat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dalam menciptakan demorasi deliberatif dalam tata kelola air (<em>water governance)</em>, keterlibatan kaum intelektual menjadi sebuah syarat mutlak, karena ruang berdialektika dalam nuansa ilmiah dimiliki oleh kaum intelektual. Menjaga demokrasi deliberatif dalam gerakan masyarakat menjadi sebuah pilihan mutlak yang harus dipertahankan. Di saat tingkat keilmiahan di tuntut, banyak hal yang hanya bisa dilakukan oleh dosen yang berkompetensi dalam bidang tertentu, sebagai contoh yang ahli dalam melakukan audit keuangan pada<span> </span>PDAM Salatiga adalah dosen akuntansi Fakultas Ekonomi UKSW. Biasanya kalau mahasiswa punya keterbatasan karena sering dianggap belum selesai belajarnya. </span></p>
<p><strong></strong><strong><span style="font-family:Times New Roman;">Pelajaran Dari Pierre Bourdieu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>Saya mencoba menghadirkan pemikiran</span><span> </span><span>Pierre Bourdieu</span>, seorang Filsuf <em>cum</em> Sosiolog asal Perancis<span>. </span>Pierre Bourdieu,<span> menjelaskan kekuasaan dari sisi-sisi tertentu, konsep kekuasaan selalu berada dan beroperasi pada suatu arena (<em>field</em>). Dalam arena tersebut, terdapat pelaku-pelaku yang memiliki modal<a title="_ftnref13" name="_ftnref13" href="http://null/#_ftn13"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[13]</span></span></span></span></a>, baik itu ekonomik, simbolik, maupun kultural.</span><span> </span><em>Habitus</em></span><a title="_ftnref14" name="_ftnref14" href="http://null/#_ftn14"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[14]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> merupakan hasil pembelajaran lewat pengasuhan, aktivitas bermain, dan juga dalam pendidikan masyarakat.dalam arti luas. Pembelajaran itu terjadi secara halus, tak disadari, seperti orang tidak sadar akan bau mulutnya dan tampil sebagai hal wajar, sehingga seolah-olah sesuatu yang alamiah, seakan-akan terberi oleh alam atau “sudah dari sananya”.<span> </span><em>Habitus</em> berubah-ubah<span> </span>pada tiap urutan atau perulangan peristiwa ke suatu arah yang mengupayakan kompromi dengan material. Namun, kompromi ini secara tak terelakkan mengalami bias, karena persepsi tentang kondisi objektif itu sendiri dilahirkan dan disaring lewat habitus. </span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Habitus</em> secara erat dihubungkan dengan ‘modal’, teori ini secara tersirat menjelaskan bahwa secara tidak sadar kaum intelektual bahwa dirinya telah terbeli oleh modal (Penguasa), kemudian menjadi agen dari pemerintah tersebut. Namun ada juga yang karena telah menjadi habitus, kemudian dengan sadar menjadi <em>Rent seeker<a title="_ftnref15" name="_ftnref15" href="http://null/#_ftn15"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[15]</span></strong></span></span></span></a></em>. Hal ini jika dikaitkan dengan teori<span style="color:#000000;"> hierarki kebutuhan manusia yang dikemukakan oleh Maslow, maka tingkat kebutuhan ketiga berupa kebutuhan untuk menjalin hubungan sosial seharusnya berada di tingkat kebutuhan pertama. Pendapat Bourdieu menyiratkan bahwa pemenuhan kebutuhan pokok dan rasa aman individu hanya dapat tercapai dengan adanya hubungan sosial antar individu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="color:#000000;">Menjelaskan tentang ketakutan seorang akademisi tercoreng keakademisiannnya bila bersinggungan dengan ranah politik, Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa justru pemikiran yang seperti ini yang menjadi salah satu hambatan dalam penelitian. Lebih jauh dijelaskan bahwa hal ini sebagai sebuah satu relasi.</span> Menurutnya, relasi antara teks, karya intelektual mutakhir dan profesi intelektual akan berguna bila telah menjadi tindakan/karya nyata/aksi/perbuatan. </span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="color:#ff0000;"></span><span>Fokus itu adalah endapan berbagai kebiasaan kita dalam rasa-merasa, memandang, dan bertindak yang disebut habitus. Habitus bukan lagi sebatas kebiasaan seseorang, melainkan telah menjadi kebiasaan masyarakat yang tampak dalam<span> </span>praktik kehidupan sehari-hari. dari korupsi sampai perusakan, dari kebiasaan plagiat sampai kebiasaan mengemplang utang yang dilakukan banyak bank kelompok bisnis di Indonesia dengan ujung pada kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), bahkan menambah libur tanpa ijin terlebih dahulu.<a title="_ftnref16" name="_ftnref16" href="http://null/#_ftn16"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[16]</span></span></span></span></a></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="color:#ff0000;"></span>Dengan melihat hasil sumbangan pemikiran Bourdieu diatas, corak habitus Kaum Intelektual perlu direfleksikan. Mengingat pentingnya Peran Kaum Intelektual dalam mentransformasi bangsa menjadi lebih baik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"></span></p>
<p><strong><span style="font-family:Times New Roman;">Mengusung wacana <em>Civil Society</em><span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Mengusung wacana <em>Civil Society</em> (CS) sangat penting dalam pemberantasan korupsi. Karena yang sangat dirugikan adalah masyarakat secara keseluruhan sehingga dengan menggalang kekuatan rakyat maka akan mampu memperkuat masyarakat itu sendiri, karena pada saat yang sama CS harus berhadapan dengan dua entitas lainnya yakni: realitas pasar, dan negara (<em>State</em>).<span> </span><span>Pasar, CS dan negara, harus tumbuh bersama dan saling mengimbangi, saling memberikan keberdayaan, saling menopang, dan pada akhirnya saling memberikan sinergi untuk memajukan keadaban<a title="_ftnref17" name="_ftnref17" href="http://null/#_ftn17"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[17]</span></span></span></span></a>. Ketika pilar <em>Civil Society</em> menjadi lemah, sedangkan dua lainnya begitu kuat maka kekuatan negara yang otoritarian bergabung dengan mekanisme pasar, akan menjadikan demokrasi lemah dan negara kemudian mengklim diri sebagai representasi <em>Civil Society</em>, merupakan hal sah-sah saja.<a title="_ftnref18" name="_ftnref18" href="http://null/#_ftn18"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[18]</span></span></span></span></a> Keadaan seperti ini kemudian menjadikan negara (pemerintah) menjadi sangat korup menjadi tak terhindarkan. Oleh karena itu, penguatan <em>Civil Society</em> harus kuat LSM, Perguruan Tinggi, Lembaga Anti korupsi </span><span>mahasiswa dituntut untuk tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, namun juga harus memikirkan nasib rakyat secara keseluruhan. Paling tidak ada tiga strategi utama yang dapat dilakukan yaitu: (1) Memetamorphosekan dirinya sendiri menjadi masyarakat sipil<a title="_ftnref19" name="_ftnref19" href="http://null/#_ftn19"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[19]</span></span></span></span></a>, tidak lagi menjadi menara gading; (2) Melakukan pendidikan politik; dan (3) Bersama-sama rakyat melakukan gerakan untuk menyampaikan aspirasi dan kontrol terhadap negara. Menyadari hal ini RSPA</span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">® </span><span>yang dimotori oleh para mahasiswa melakukan penguatan dan pencerahan, demontrasi adalah pilihan yang terakhir, sebagai bukti RSPA® melakukan konsultasi dengan KPK dna ICW, dan melaporkan ke Kejaksaan negeri Salatiga. </span>Hal ini secara tidak langsung terjadi pemberdayaan masyarakat secara nyata.</span></p>
<p><span><span style="font-family:Times New Roman;">Dengan demikian maka <em>Civil Society</em> dapat ditempatkan sebagai entitas yang berdaya, menyadari hak-haknya, dan bergerak berdasar pengetahuan dan pemikiran kritis.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Aspek selanjutnya adalah kampanye penerapan <em>Good Governance.</em> Berkaitan dengan korupsi, <em>habitus</em> <em>Good Governance</em> yang terkait adalah: transparansi, tanggungjawab, supremasi hukum, dan partisipasi masyarakat. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-48pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 48pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';"> </span></span><span>Transparansi merupakan <em>habitus</em> yang harus diusung demi terciptanya pemerintahan yang bersih dari korupsi. Transparansi dapat dipahami<span> </span>sebagai ketersediaan informasi dan kejelasan bagi masyarakat umum untuk mengetahui proses penyusunan, pelaksanaan, serta hasil yang telah dicapai melalui sebuah kebijakan publik. Semua urusan tata kepemerintahan berupa kebijakan-kebijakan publik, baik yang berkenaan dengan pelayanan publik maupun pembangunan di daerah harus diketahui publik. Isi keputusan dan alasan pengambilan kebijakan publik harus dapat diakses oleh publik. Tidak adanya keterbukaan dan transparansi dalam urusan pemerintahan akan menyebabkan kesalahpahaman terhadap berbagai kebijakan publik yang dibuat. Hal ini pun menjadi tuntutan<span> </span>RSPA</span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">®, </span>karena selama ini tidak ada transparansi dari pengelola PDAM Salatiga</span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><em><span>Habitus</span></em><span> Tanggungjawab atau <em>Accountability</em>, setiap kegiatan, kebijakan, biaya yang dikeluarkan oleh pejabat publik harus dapat dipertanggungjawabkan. Artinya ketika diminta untuk mempertanggungjawabkan maka bersedia memberikan. Kasus PDAM Salatiga, RSPA</span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">® </span><span>ketika menuntut hail audit dan laporan keuangan, maka lebih 7 bulan baru PDAM memberikan, itu pun harus pagi-pagi ke kantor PDAM, karena jika kesana jam 9 pagi, Direktur PDAM tidak ditempat. </span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><span>Supremasi Hukum, b</span><span>erbagai upaya hukum yang dilakukan untuk menangkap dan menghukum para koruptor tidak bergema sama sekali. Para koruptor kelas kakap seringkali lolos dari perangkat hukum. Pemerintah dan aparat penegak hukum masih bekerja setengah hati, hanya janji-janji belaka yang diberikan kepada masyarakat </span><span>di Indonesia masalah hukum sangat lemah, karena bisa diganti dengan uang, jadi keadilan hanya menjadi milik hukum. Ini berbeda dengan eksistensi hukum yang seharusnya memberikan keadilan untuk semua. Artinya setiap kesalahan harus mendapatkan sanksi. Untuk memberantas korupsi, kedaulatan hukum syarat mutlak. Landasan hukum untuk memberantas korupsi harus kokoh, stabil, dan dapat ditegakkan, dan secara tertulis dicantumkan dalam Undang-undang Dasar, Undang-undang, serta dilengkapi dengan peraturan dan prosedur (dalam </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">P</span><span>ermendagri Nomor 23 Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis dan Tata Cara Pengaturan Tarif Air Minum pada PDAM belum dilengkapi petunjuk teknisnya). PDAM Kota Salatiga yang telah cukup lama berdiri ternyata belum memiliki SOP dan SPM, padahal itu seharusnya ada.<span> </span>Selain itu tim pemeriksa keuangan harus dilindungi dengan Undang-undang agar dapat melaksanakan tugas dengan baik, artinya pemerintah yang merasa dirugikan tidak mudah menginterfensi bahkan memecat pemeriksa keuangan. Bahkan bila perlu mencontoh tindakan yang dilakukan oleh Presiden Hugo Chavez, yang memilih jalan yang tidak terlalu ampuh, tetapi cukup untuk mengirimkan pesan yang sangat dramatis dengan kampanye selama tujuh bulan untuk menyingkirkan “kanker korupsi” dari tubuh institusi peradilan, pemerintah Chaves menghentikan sementara atau memecat 400 dari 1394 hakim di negeri itu, Pope (2002)</span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span><span>4.<span style="font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span></em><span>Untuk menunjang pembangunan yang bebas korupsi, harus melibatkan partisipasi masyarakat di dalamnya. Di Indonesia, tidak melibatkan masyarakat. Walaupun sudah ada Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) yang dilakukan mulai di tingkat desa, tetapi negara telah mempunyai program-program yang disusun oleh departemen dalam institusi negara. Jadi program pembangunan yang dirancang dalam Musrenbang tidak dilakukan bila tidak termasuk dalam program negara, padahal yang mengerti akan kebutuhan adalah masyarakatnya. Oleh karena itu partisipasi masyarakat menjadi sangat perlu dilibatkan bukan hanya dalam perencanaan, tetapi dilibatkan pula dalam pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi. Untuk memfasilitasi hal ini maka perlu diatur dalam undang-undang dan peraturan tentang partisipasi masyarakat. Keberadaan partisipasi masyarakat yang jelas dan dijamin dalam undang-undang maka laju korupsi dapat dihambat, karena dengan demikian berarti tidak terjadi oligarki kekuasaan dalam pemerintahan dengan kata lain terjadi akan proses menuju demokrasi. Selain itu struktur di PDAM Salatiga sangat oligarki, artinya hanya menumpuk di beberapa orang saja, seperti di Badan Pengawas, perwakilan pelanggan hanya satu, sehingga sangat sulit untuk saling mengawasi (<em>check and balances).</em></span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><span>Hal terakhir yang harus di benahi adalah meletakkan etika pada posisi yang penting dalam kehidupan. Pengkajian dan penanaman nilai-nilai etika kemasyarakatan perlu untuk selalu ditanamkan, sehingga dicapai <em>habitus </em>yang bisa memberi transformasi kearah yang lebih baik dengan mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan. Dan ini perlu ditanamkan secara dalam di dunia pendidikan dari yang terbawah sampai tingkat doktoral.<span> </span>Kemerosotan etika dalam mepengaruhi <em>habitus</em> akan sangat merusak tatanan yang dibangun, sebagai contoh :</span><span> </span></span><span style="font-family:Trebuchet MS;"><span class="CharChar"><span>Program ekonomi, misalnya, bisa saja membentuk bingkai ekonomi pasar. </span></span><span class="CharChar"><span>Namun, dengan corak <em>habitus</em> kita sekarang, lebih mungkin yang berkembang biak adalah para maling, dan bukan pelaku pasar. Akibat merosotnya nilai etika, George Soros, pelaku yang fasih dengan kinerja bisnis sebagai mana dikutip oleh, punya kritik berikut: </span></span></span><span class="CharChar"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Trebuchet MS;">&#8220;&#8230;tidak masuknya moralitas dalam kalkulasi bisnis menjelaskan mengapa praktik dan gagasan fundamentalisme pasar begitu sukses&#8221;</span></span></em></span><a title="_ftnref20" name="_ftnref20" href="http://null/#_ftn20"><span class="FootnoteCharacters"><em><span style="font-size:10pt;color:#000000;line-height:150%;"><span><span class="FootnoteCharacters"><strong><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:'Times New Roman';">[20]</span></strong></span></span></span></em></span></a><span class="CharChar"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Trebuchet MS;">. </span></span></em></span><span class="CharChar"><span><span style="font-family:Trebuchet MS;">Tindakan korupsi digolongkan sebagai tindakan tak beretika, Letak etika dalam usaha pemberantasan korupsi<span> </span>tidak akan berguna tanpa penanaman nilai-nilai etika. </span></span></span><span class="CharChar"><span><span style="font-family:Trebuchet MS;">Korupsi merupakan tindakan yang tidak memandang jenis kelamin dan sudah menglobal, oleh karena itu diperlukan jejaring yang bekerjasama memerangi korupsi oleh semua elemen masyarakat, bahkan sampai jejaring internasional.</span></span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span class="CharChar"><strong><span></span></strong></span></p>
<p><span class="CharChar"><strong><span><span style="font-family:Trebuchet MS;">Penutup</span></span></strong></span><span class="CharChar"><strong><span><span><span style="font-family:Trebuchet MS;"> </span></span></span></strong></span></p>
<p><span class="CharChar"><strong><span><span></span></span></strong></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Corak habitus kita sebagai sebab tersembunyi banyak kemacetan bangsa ini mungkin terdengar sepele dan kelihatan tidak penting ketika diajukan. Setiap kebenaran selalu lebih dahulu terasakan daripada terkatakan. Saat pertama diajukan, biasanya ia juga terungkap dalam rumusan yang tidak sempurna. </span></span><span class="CharChar"><span><span style="font-family:Trebuchet MS;">Upaya pemberantasan korupsi, tidak hanya merupakan tanggung jawab pemerintah, <em>Non Goverment Organization</em>, atau Lembaga Pemberantasan Korupsi. Pemberantasan korupsi juga merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat, termasuk didalamnya institusi pendidikan. Memberantas korupsi mulailah dengan diri anda dengan selalu berlandaskan takut akan Tuhan.</span></span></span></p>
<p><span class="CharChar"></span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">Apendiks<span> </span>Kronologi Gerakan Sosial </span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">RSPA/</span><span style="font-size:13pt;line-height:150%;">® </span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;">Dari Agustus 2006-Mei 2007 (Sumber : Dokumen RSPA<span style="font-size:13pt;line-height:150%;">®)</span></span></span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="border-collapse:collapse;margin:auto auto auto 5.4pt;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-color:black #ece9d8 black black;border-style:solid none solid solid;border-width:1pt medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:9pt;"></span></p>
</td>
<td style="border:1pt solid black;width:359.7pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">PDAM public expose Forum<span> </span>LSM (YLKI, Imbas, Emi, Trukajaya, Kilat). Mereka buat spanduk</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Akhir Agustus</span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">28 Agustus</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Diawali dengan pemasangan spanduk dari beberapa LSM soal penolakan tarif air.<span> </span>Datang ke DPRD untuk melihat hasil<span> </span>public expose</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Awal September 2006</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">DPC PKB<span> </span>memprakarsai pertemuan sejumlah LSM, kelompok mahasiswa, paguyuban pelanggan PDAM, aktivis perguruan tinggi, dosen, untuk meletakkan dasar<span> </span>resistensi terhadap kenaikan tarif PDAM</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:9pt;">11 September 2006</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Bertemu Walikota, DPRD, Direktur PDAM, Badan Pengawas:</span></span><span style="font-size:9pt;font-family:'Courier New';"><span>o<span style="font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">RSPA pada prinsipnya memohon kesediaan Walikota sebagai <em>owner</em><span> </span>PDAM untuk menyediakan data audit dan Perwali No. 36/2006 setelah sebelumnya ada perdebatan tentang pentingnya PDAM mengedepankan aspek <em>good governance</em>. </span></span><span style="font-size:9pt;font-family:'Courier New';"><span>o<span style="font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Hadir ke legislatif untuk menyampaikan<span> </span>harapan<span> </span>(<em>public hearing</em>) pada legislatif<span> </span>agar membantu mendukung usaha RSPA dalam mengawal/memperjuangkan<span> </span><em>good governance</em></span></span><span style="font-size:9pt;font-family:'Courier New';"><span>o<span style="font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pada saat pergi ke DPRD, tidak kurang dari sekitar 40-an preman ” mengawal”<span> </span>aktivis RSPA</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:9pt;">13 September 2006</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">● Demo dari bundaran Rumah Dinas Walikota</span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">● Ada sekitar 200-an</span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">● Sejumlah tema dalam spanduk dan poster: PDAM KE MANA AIRMU; Kata Darminto, Walikotanya tidak tahu apa-apa – tanya kenapa;<span> </span>air untuk semua;<span> </span>Walikotanya Darminto atau Totok Mintarto?; boikot PDAM;<span> </span>tarif air naik – walikota mana janjimu—Komunitas Pelanggan Pancuran;<span> </span>Jangan kau tuli<span> </span>jeritan rakyat – jangan kau<span> </span>buta kondisi sesungguhnya; PDAM Ke Mana Airmu?;<span> </span>kapan pelayanan air minum untuk rakyat?; </span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:9pt;">19 September 2006</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">● Kawan-kawan RSPA<span> </span>dari sayap PMII degan membawa spanduk melakukan pembagian<span> </span>selebaran di depan PDAM. Kawan-kawan PMII membawa spanduk yang berbunyi:</span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Tunda Dulu Bayar PDAM Sampai Tarif<span> </span>Air<span> </span>Turun!!! – PDAM Ngoyak Setoran, Rakyat Jadi Korban – Tanya Kenapa? &#8212; Rakyat Salatiga Peduli Air.</span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">● Jumlah yang berdemonstrasi sekitar 30-40-an orang. </span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:9pt;">21 September 2006</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Demo ke DPRD, Kantor Walikota, dan PDAM.</span></span><span style="font-size:9pt;font-family:'Courier New';"><span>o<span style="font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Saat demo tidak ada preman yang nampak, karena ada informasi dari<span> </span>pihak intel Polres Salatiga, bahwa Direktur PDAM dan Walikota dipanggil Polres Salatiga yang mengingatkan bahwa: [a]<span> </span>”tidak benar PDAM mengerahkan preman karena ada aparat pengamanan (Satpol, satpam dan polisi)”; [b] demonstrasi pada hakikatnya adalah konsitusional dan jika ada yang mengganggu (oleh preman), maka PDAM (yang dikawal preman) akan berhadapan dengan Polres dan kalau perlu Direktur PDAM akan “diangkut”.</span></span><span style="font-size:9pt;font-family:'Courier New';"><span>o<span style="font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Jumlah pendemo ada sekitar 100 orang dengan rombongan terbesar dari SPPQT yang semula akan merencanakan demo anti impor beras di Semarang.</span></span><span style="font-size:9pt;font-family:'Courier New';"><span>o<span style="font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sore hari evaluasi</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:9pt;">26 September 2006</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-size:9pt;font-family:'Courier New';"><span>o<span style="font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Lobi ke Walikota di Rumah Dinas pagi hari sekitar jam 7.30 pagi. Isu yang diangkat adalah soal representasivitas RSPA dalam Tim Pengkaji</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">29<span> </span>September<span> </span>2006</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-size:9pt;font-family:'Courier New';"><span>o<span style="font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Lobby gagal ke rumah dinas walikota</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">27 November 2006</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-size:9pt;font-family:'Courier New';"><span>o<span style="font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pelanggan Kembali melakukan Demonstrasi air di depan PDAM<span> </span>dalam bentuk mimbar bebas di depan Kantor Walikota dengan menghadirkan Ketua DPRD dan salah seorang anggota legislatif naik ke truk. “DPRD merasa tidak pernah memberikan persetujuan dalam penentuan kebijakan kenaikan tatif air PDAM. Ekspos bukan berarti ajang minta persetujuan. Ketua<span> </span>dan anggota komisi I DPRD dalam orasinya menjamin tidak ada denda keterlambatan pembayaran air pelanggan, kalaupun ada denda akan dibebankan dalam APBD Kota Salatiga</span></span><span style="font-size:9pt;font-family:'Courier New';"><span>o<span style="font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Demo ini dikawal dengan dua SSK dari Brimob Polwiltabes Semarang karena ada isu demo akan khaos, padahal tidak terjadi khaos. Yang terjadi adalah mimbar bebas dengan<span> </span>memastikan semua peserta duduk di halaman Kantor Walikota. Sementara, dari pihak polisi (brimob polwiltabes Semarang) lengkap mengenakan seragam anti-huru-hara, <em>water canon</em>, polisi dengan senjata m-16, dan di-<em>coverage</em> oleh polwan di barian depan yang menutup / memblok<span> </span>Kantor Walikota</span></span><span style="font-size:9pt;font-family:'Courier New';"><span>o<span style="font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ada event anak-anak SD, masih mengenakan seragam SD sepulang sekolah, melakukan potret bersama dengan spanduk yang bertuliskan ”PDAM ngoyak setoran rakyat jadi tumbal” – Komunitas Pelanggan<span> </span>Klaseman. Pada akhir demo anak-anak dan aktivis RSPA melakukan jabat tangan dengan para polisi</span></span><span style="font-size:9pt;font-family:'Courier New';"><span>o<span style="font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pihak intel sempat berujar yang melaporkan<span> </span>pernyataan Brimob dari polwiltabes Semarang yng menyatakan ”Iki demo apa, wong kongene kok diarani demo”</span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">1 Desember 2006</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Bertemu dengan Walikota, Direktur PDAM, BP, DPRD:</span></span><span style="font-size:9pt;font-family:'Courier New';"><span>o<span style="font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Duduk bersama antar pemangku hak atas air, yang meskipun ada ketegangan di antara anggota RSPA, akhirnya<span> </span>Walikota berkomitmen untuk menurunkan tarif air, sambil membentuk Tim Pengkaji Tarif.</span></span><span style="font-size:9pt;font-family:'Courier New';"><span>o<span style="font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dalam tubuh RSPA muncul isu bagaimana menyikapi masuk-tidaknya RSPA dalam<span> </span>Tim Pengkaji Tarif terkait representasi RSPA dalam Tim Pengkaji yang jumlahnya secara ideal dituntut 60% dari total jumlah Tim Pengkaji</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">13 Januari 2007</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:9pt;">”PDAM<span> </span>Ajukan Subsidi ke Pemkot – Bayar Selisih Pembayaran Konsumen” . </span><span style="font-size:9pt;">Sbsidi pemayaran rekening air konsumen Desember 2006<span> </span>ke Pemkot Sebesar Rp 653.738.450, yang masih akan dibahas bersama DPRD (<em>Suara Merdeka</em> 13/1/07)</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">17 Januari 2007</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">SK Direktur PDAM dinilai tidak memiliki legalitas (Solo Pos 18/1/07)</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">8 Februari 2007</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">RSPA<span> </span>pertanyakan sikap DPRD (<em>Suara Merdeka </em>8/2/07)</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:9pt;">9/2/07</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Walikota Salatiga mangkat, meninggal di Rumah Sakit Karyadi Semarang. RSPAR mengangkat beliau sebagai pahlawan air<span> </span>karena kebijakan penurunan tarif air. </span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">12 Februari 2007</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:9pt;">Penandaan terhadap kematian Pak Wali dituliskan dalam sebuah artikel yang dimuat di Solopos yang berisi tentang pembacaan tentang peristiwa di seputar wafat dan pemakaman Walikota Salatiga. Dari tanda bendera setengah tiang yang dikibarkan masyarakat terbaca bahwa popularitas Walikota kurang besar di tengah masyarakat Salatiga, meskipun beliau sempat menjadi populer karena kebijakannya yang dengan ”legowo” menurunkan tarif air yang telah beliau naikkan beberapa bulan sebelumnya. Sebutan “pahlawan air” telah diberikan oleh RSPA</span><span style="font-size:9pt;"></span><span style="font-size:9pt;"> beberapa waktu sebelum beliau masuk rumah sakit.</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">8 Maret 2007</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:9pt;">●Demo air yang b</span><span style="font-size:9pt;">erjumlah sekutar 150 orang mengusung isu: [a] himbauan penurunan tarif air, [b] menuntut DPRD untuk melakukan hak angket dan interpelasi, [c] terjadi disorientasi<span> </span>misi demo karena personal RSPA</span><span style="font-size:9pt;"></span><span style="font-size:9pt;"> yang tak ikut <em>setting</em> mengambil alih kendali demonstrasi, [d] pesan yang disampaikan “sangat keras” sehingga pihak Wawali tidak bersedia untuk berdialog. “Pesan “sangat keras” bermakna sebagai <em>character assasination</em>, misalnya “lanang po ra”, DPRD dipandang sebagai pembohong secara personal bukan sebagai lembaga – “anggpota DPR sebelum menjadi DPR menyembah-nyembah rakyat, tetapi ketika rakyat dalam masalah terkait air, DPRD apriori”. </span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">● Wawali mengeluarkan Keputusan No. 500.05/17/2007 tentang Tim Evaluasi<span> </span>Pelaksanaan Peraturan Walikota Salatiga No. 36 Tahun 2006 tentang penyesuaian Tarif Air<span> </span>Umum pada Persauahaan Daerah Air Minum Kota Salatiga. Tertanggal 8 Maret 2007 dan berlaku hingga 8 Mei 2007.</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">11 Maret 2007</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:9pt;">● Anggota Komisi II DPRD Salatiga, Budi Santosa, meminta kepa</span><span style="font-size:9pt;">da publik agar da</span><span style="font-size:9pt;">pat<span> </span>memberikan waktu kepada tim evaluasi Perwali No. 36/2006 untuk bekerja.<span> </span>Pernyataan ini diberikan setelah beberapa hari sebelumnya (8/3/07) sejumlah anggota DPRD (Fathurachman, Sri Yuliani, Arief Budiyanto, dan Elizabeth DK<span> </span>yang menghadap John Manoppo, wakil Walikota agar polemik PDAM segera dirampungkan. Hanya saja, hasil dari pertemuan itu dikatakan pd wartawan, “Tetapi kami menyadari mekanismenya tidak bisa <em>sim salabim</em> begitu. Ini menyangkut kebijakan publik.”</span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:9pt;">● Budi juga menyatakan bahwa DPRD memang tidak akan menggunakan<span> </span>hak angket dan interpelasi dulu. </span><span style="font-size:9pt;">Kami tidak ingin <em>grusa grusu</em> dulu. Karena ini menyangkut kepentingan masyarakat yang lebih luas. Bahkan kalau perlu, PDAM hanya <em>break even point </em>(Impas, red) saja tidak usah setor ke Pemkot juga tidak apa-apa.</span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">●<span> </span>RSPAR, melalui, Sumadi,<span> </span>mengingatkan bahwa selama Tim Pengkaji bekerja, sebagaimana dijanjikan Walikota (Alm), maka harga akan diturunkan dahulu.<span> </span>Ini bagian dari negosiasi publik</span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span style="font-size:9pt;">Solo Pos</span></em><span style="font-size:9pt;">, 11/03/07, ”RSPAR minta tarif diturunkan – DPRD: Biarkan tim evaluasi bekerja”</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">12 Maret 2007</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-size:9pt;"></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">15 Maret 2007</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:9pt;">Dengar Pendapat RSPA dengan Wakil Walikota. Dalam dialog ini, Wawali menyetujui: </span><span style="font-size:9pt;">●</span><span style="font-size:9pt;"><span> </span>Tarif Air PDAM yang semula dinaikkan untuk diturunkan kembali </span><span style="font-size:9pt;">● </span><span style="font-size:9pt;">kesepakatn untuk mensosialisasikan kesepakatan penurunan tarif melalui mekanisme MOU di media massa esok harinya</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">16 Maret 2007</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span style="font-size:9pt;">Press conference</span></em><span style="font-size:9pt;"> Wawali bersama dengan<span> </span>RSPA dihadiri RSPA®: ● Wawali menyampaikan sikap untuk menurunkan tarif air selama dua bulan sembari menunggu hasil kerja tim pengkaji tarif PDAM ● Pihak RSPA diwakili oleh Insan Mahmud juga menyatakan harapan serta ucapan terima kasih atas dukungan semua pihak ● penandatanganan MoU Wawali dan RSPA. Hanya saja penandatanganan tersebut di atas kop surat DPC PKB yang dipandang tidak menjadi representasi RSP® ●<span> </span>status<span> </span>MoU dipandang beberapa anggota DPRD dipadang sebagai pelecehan karena dalam<span> </span>MoU ini tidak<span> </span>melibatkan legislatif dan dipandang sebagai distorsi dalam perumusan kebijakan publik.<span> </span></span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">25 Maret<span> </span>2007</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ada lobi ke Ketua DPRD dan Wawali untuk bisa hadir dalam demo besoknya yang prinsipnya adalah: ● DPRD akan mendampingi Wawali membacakan SK tentang pencabutan kenaikan tarif PDAM ● Wawali setelah dilobi selama 5 menit di rumah dinasnya setuju untuk membacakan<span> </span>SK Penurunan Tarif PDAM ● </span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sore melakukan<span> </span>kegiatan konsolidasi membuat <em>mapping</em> persiapan pertemuan <em>general repetition </em>dan demo besok.<span> </span></span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">26 Maret 2007</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Demo RSPA® yang menempatkan RSPA® prinsipnya menyampaikan surat terbuka yang<span> </span>isinya: ● mendorong bekerjanya tim pengkaji Perwali<span> </span>● mendorong<span> </span>disosialisasikannya<span> </span>hasil MoU Wawali dan RSPA<span> </span>dalam bentuk<span> </span>konsultasi dg legislatif</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">27 Maret<span> </span>2007</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Trans 7 memberitakan aksi demo<span> </span>berita siang</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">24-25 April<span> </span>2007</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span style="font-size:9pt;">Focussed Group Discussion</span></em><span style="font-size:9pt;"> di 4 kecamatan (Tingkir, Argomulyo, Sidomukti, dan Sidorejo) dilakukan untuk memperoleh masukan dari komunitas pelanggan terhadap Harapan-Fakta-Masalah-Solusi dalam tiga isu per-PDAM-an, yakni: Tarif, Pelayanan, dan Regulasi.</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">8 Mei 2007</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">●FGD Pelanggan di Ruang Sidang II DPRD dihadiri oleh DPRD Komisi 2, wakil pelanggan 4 kecamatan (masing-masing 10 orang) ditambah dari Komisi II DPRD. Seharusnya bahan yang dibagikan adalah bahan lengkap sintesis FGD 4 kecamatan dan rekomendasinya. Tetapi, yang dibagikan Sekretaris Tim<span> </span>hanyalah masing-masing FGD kecamatan. Sedangkan sintesis FGD dari 4 kecamatan dan hasil rumusan narasi serta rekomendasi tidak dibagikan kepada peserta. </span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">● Nick T Wiratmoko sebagai bagian dari Tim Pengkaji menyurat ke Direktur PDAM untuk dapat memfasilitasi akses data yang diminta Tim Advokasi Akuntansi. Direktur PDAM sudah setuju untuk akses data tersebut</span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">● SK Tim Pengkaji Perwali habis masa waktunya.</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">9 Mei 2007</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">● Nick T Wiratmoko dkk dan Tim Advokasi Akuntansi datang ke PDAM, tetapi ada memo direktur PDAM<span> </span>mensyaratkan hierarki permintaan akses data harus melalui Ketua Tim Pengkaji Perwali. Sempat diperdebatkan mekanisme ini karena kasus akses data yang sama oleh nara sumber Tim Pengkaji Perwali, Pak Prapto sempat melakukan akses data tanpa membuat surat. Sementara, Direktur PDAM juga sebagai nara sumber Tim Pengkaji Perwali. Dalam klausul Tim pengkaji Perwali juga disebutkan bahwa Tim Pengkaji bisa mengakses data PDAM. Selain itu, ada dua orang dari PDAM yang juga menjadi Tim Pengkaji Perwali. Yang juga mengundang inkonsistensi adalah bahwa sebenarnya akses data ini, dua minggu sebelumnya sudah diputuskan oleh Tim Pengkaji dan ada keputusan untuk mendampingi Tim Advokasi Akuntansi, tetapi tidak dilakukan dan kemudian memang tidak dianggap sebagai sebuah kesalahan yang seharusnya dicarikan ruang untuk difasilitasi.<span> </span></span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">16 Mei 2007</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tim Pengkaji Perwali melakukan rapat yang intinya mempercakapkan:</span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">● Bahwa rujukan tarif air berasal dari hitungan Pak Prapto Yuwono SE, ME<span> </span>dari UKSW ; BPKP (Badan Pengawas dan Keuangan Pembangunan); dan rujukan dari Perwali 36/2006</span></span><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">● Referens harga-gharga di atas seharusnya juga masih memperhitungkan </span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:78.2pt;background-color:transparent;border-style:none none solid solid;border-width:medium medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="104" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">29 Mei 2007</span></span></td>
<td style="width:359.7pt;background-color:transparent;border-color:#ece9d8 black black;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.4pt;" width="480" valign="top"><span style="font-size:9pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tim Pengkaji Perwali menyerahkan hasil kajiannya. Hanya saja, tim ini belum berhasil sekaligus menyampaikan draft pengkajian tersebut dalam konsultasi publik.</span></span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><span></span><strong><span style="font-family:Times New Roman;">RUJUKAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Basis, No. 11-12, Tahun ke-53, November-Desember 2004.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Bataragoa, dkk, Antisipasi Bencana Dalam Kebijakan Tentang Air, Jurnal Renai, Tahun VII No.1.2007, Salatiga</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Harker, Richard, dkk, Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu (Terjemahan), Bandung :Jalasutra</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Priyono, B. Herry, Kompas, 31 Desember 2007, Habitus Baru</span></p>
<p><span><span></span></span><a href="http://www.unisosdem.org/kumtul_detail.php?aid=305&amp;coid=1&amp;caid=34&amp;auid=3"><span><span style="font-family:Times New Roman;">www.unisosdem.org/kumtul_detail.php?aid=305&amp;coid=1&amp;caid=34&amp;auid=3</span></span></a><span><span style="font-family:Times New Roman;"> akses pada oktober 2007</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pope, Jeremy (2002), Strategi Memberantas Korupsi (terjemahan), Jakarta : Yayasan Obor Indonesia &amp; Transparansi International Indonesia</span></p>
<p><span><span style="font-family:Times New Roman;">Suwondo, Kutut (2003) Civil Society di Aras Lokal, Salatiga: Pustaka Percik</span></span><a href="http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/berita-utama/korupsi-di-indonesia-tertinggi-kedua-di.html"><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;">www.seputar-indonesia.com/edisicetak/berita-utama/korupsi-di-indonesia-tertinggi-kedua-di.html</span></a><span style="font-size:12pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"> akses pada 14/03/2007</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><a href="http://www.antikorupsi.org/"><span style="font-family:Times New Roman;">www.Antikorupsi.org</span></a><span style="font-family:Times New Roman;"> Akses pada 18 Oktober 2007</span></p>
<p> </p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Geritz Febrianto Rindang Bataragoa, saat ini menempuh studi program strata satu (S1) di Fakultas Pertanian, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. aktif sebagai aktifis mahasiswa di Salatiga dan Aktifis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Salatiga. Selain itu aktif pula sebagai wartawan mahasiswa <em>Scientiarum, </em>UKSW<em>. </em>Publikasi terakhir berjudul “ANTISIPASI BENCANA DALAM KEBIJAKAN TENTANG AIR”, Dimuat dalam Jurnal Renai Tahun VII No.1.2007.</span></p>
<div><span style="font-family:Times New Roman;"><br />
<hr size="1" /></span></div>
<div>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a title="_ftn1" name="_ftn1" href="http://null/#_ftnref1"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Disampaikan pada 30 Oktober 2007 Dalam Seminar Nasional Hukum di Unika Soegiapranoto, Semarang</span></span></p>
</div>
<div>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a title="_ftn2" name="_ftn2" href="http://null/#_ftnref2"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Ucapan terimakasih kepada mbak Purwanti, mas Nick, atas diskusi dalam pembuatan makalah ini</span></span></p>
</div>
<div>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a title="_ftn3" name="_ftn3" href="http://null/#_ftnref3"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Lihat Aneks. RSPA/® adalah elemen masyarakat Kota Salatiga yang terdiri dari sejumlah aktivis yang berasal dari Mahasiswa, LSM, Dosen, Aktivis Partai, Paguyuban Air, Tokoh Agama, yang memberi kepedulian terhadap kebijakan air. Bahwa kemudian ada pilahan RSPA dan RSPA®, itu ditu dicirikan dalam pendekatan. RSPA tidak masuk dalam Tim Pengkaji Perwali, tetapi RSPA® masuk dalam Tim Pengkaji Perwali. Keduanya meskipun diisukan pecah, secara prinsip dialektika di antaranya tetap saja berlangsung.</span></span></p>
</div>
<div>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a title="_ftn4" name="_ftn4" href="http://null/#_ftnref4"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[4]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Dalam wawancara dengan bagian Keuangan dan Teknik PDAM Salatiga (12/05/2007) dan temuan dalam<span> </span>FGD (<em>Focus Group Discussion)</em> dengan pelanggan di empat kecamatan (24-25/04/07 dan 08/05/2007) ditemukan bahwa selama ini PDAM memang tidak memiliki format layanan yang dikemas dalam Standar Pelayanan Minimum dan SOP (<em>Standard Operational Procedure</em>). Periksa Nick T. Wiratmoko et al 2007 Hasil FGD Pelaggan PDAM di 4 Kecamatan</span></span></p>
</div>
<div><a title="_ftn5" name="_ftn5" href="http://null/#_ftnref5"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[5]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>J.J. Senturia, <em>Encyclopedia of Social Science,</em> Vol. <span>VI (1993) memberikan defenisi yang lazim Selama ini “, dikutip dalam Jeremy Pope, Strategi Memberantas Korupsi, 2002, Yayasan Obor Indonesia hal 6.</span></span></span></div>
<div><a title="_ftn6" name="_ftn6" href="http://null/#_ftnref6"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[6]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Gerald E. Caiden, “Toward a General Theory of official Corruptions”, Asian Journal of Public Administration, Vol. 10, No. 1, 1988. <span>dikutip <em>ibid </em>hal 6-7.</span></span></span></div>
<div>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a title="_ftn7" name="_ftn7" href="http://null/#_ftnref7"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[7]</span></span></span></span></a><span><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> </span></span><a href="http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/berita-utama/korupsi-di-indonesia-tertinggi-kedua-di.html"><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;">www.seputar-indonesia.com/edisicetak/berita-utama/korupsi-di-indonesia-tertinggi-kedua-di.html</span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"> akses pada 14/03/2007</span></span></p>
</div>
<div>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a title="_ftn8" name="_ftn8" href="http://null/#_ftnref8"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[8]</span></span></span></span></a><span><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> </span></span><a href="http://www.antikorupsi.org/"><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;">www.Antikorupsi.org</span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> Akses pada 18 Oktober 2007</span></p>
</div>
<div>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a title="_ftn9" name="_ftn9" href="http://null/#_ftnref9"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[9]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Belajar dari sejarah Indonesia, masyarakat seringkali pasif karena memang memang sengaja dikondisikan pasif dari generasi ke generasi oleh penguasa dengan senjata militernya. Akibatnya turun-temurun secara umum masyarakat tidak punya akses, pengetahuan, kepercayaan diri yang cukup untuk menghadapi penindasan baik secara halus maupun secara kasar.</span></span></p>
</div>
<div>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a title="_ftn10" name="_ftn10" href="http://null/#_ftnref10"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[10]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Restoran Surga yang dimaksud disini adalah suatu restoran dimana terdapat makanan dengan<span> </span>bumbu “keadaan damai dan sejartera” , selain itu disitu terdapat pula bermacam-macam minuman “Kebenaran dan Keadilan”</span></span></p>
</div>
<div>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a title="_ftn11" name="_ftn11" href="http://null/#_ftnref11"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[11]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Oleh pemerintah ini sering dikenal sebagai Politik Representasi, yaitu menyertakan dosen sebagai konsultan agar mempunyai representasi akademis. Kadang juga dipakai untuk menjinakkan mahasiswa dan masyarakat, dengan menyertakan wakil-wakilnya dalam suatu proyek</span></span></p>
</div>
<div>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a title="_ftn12" name="_ftn12" href="http://null/#_ftnref12"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[12]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Menurut Juergen Habermas, Demokrasi Deliberatif adalah<span> </span>demokrasi di mana legitimitas hukum tercapai karena hukum terlahir dari diskursus-diskursus dalam masyarakat sipil. Dalam Demokrasi Deliberatif, yang menentukan adalah cara atau prosedur hukum dibentuk. Bukan seperti dalam <em>Republik Moral</em> Rousseau dimana rakyat langsung menjadi legislator. Periksa Basis, No. 11-12, Tahun ke-53, November-Desember 2004.</span></span></p>
</div>
<div>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a title="_ftn13" name="_ftn13" href="http://null/#_ftnref13"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[13]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Bourdieu menjelaskan defenisi modal sangat luas, namun modal disini saya batasi sebagai, Harta<span> </span>(uang) dan Kekuasaan.</span></span></p>
</div>
<div>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;margin:0;"><a title="_ftn14" name="_ftn14" href="http://null/#_ftnref14"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[14]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Bourdieu memberi pengertian Habitus adala suati sistem disposisi yang berlangsung lama dan beruba-ubah yang berfungsi sebagai basis generatif bagi praktik-praktik yang terstruktur dan terpadu secara objektif</span></span></p>
</div>
<div>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a title="_ftn15" name="_ftn15" href="http://null/#_ftnref15"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[15]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Orang yang suka mencari keutungan sendiri</span></span></p>
</div>
<div>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><a title="_ftn16" name="_ftn16" href="http://null/#_ftnref16"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[16]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>B. Herry Priyono, Habitus Baru, Kompas 31 Desember 2005</span></span></p>
</div>
<div><a title="_ftn17" name="_ftn17" href="http://null/#_ftnref17"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[17]</span></span></span></span></a><span><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Nick T. Wiratmoko dalam Suwondo 2003: Kata Pengantar, Pustaka Percik</span></span></span></div>
<div><a title="_ftn18" name="_ftn18" href="http://null/#_ftnref18"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[18]</span></span></span></span></a><span><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span><em>Ibid</em></span></span></span></div>
<div><a title="_ftn19" name="_ftn19" href="http://null/#_ftnref19"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[19]</span></span></span></span></a><span><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Memetamorphose, maksudnya adalah mahasiswa mampu mengkondisikan diri sebagai masyarakat sipil dan bukan murni sebagai mahasiswa sehingga tidak ada perbedaan kelompok dalam masyarakat (terjadi persekutuan antara mahasiswa dan <em>civil society</em>)</span></span></span></div>
<div><a title="_ftn20" name="_ftn20" href="http://null/#_ftnref20"><span class="FootnoteCharacters"><span><span class="FootnoteCharacters"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[20]</span></span></span></span></a><span><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>B. Herry Priyono, Antara Gangsterisme dan Etika, www.unisosdem.org/kumtul_detail.php?aid=305&amp;coid=1&amp;caid=34&amp;auid=3</span></span></span></div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bataragoa.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bataragoa.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bataragoa.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bataragoa.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bataragoa.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bataragoa.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bataragoa.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bataragoa.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bataragoa.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bataragoa.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bataragoa.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bataragoa.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bataragoa.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bataragoa.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bataragoa.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bataragoa.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bataragoa.wordpress.com&amp;blog=2944921&amp;post=11&amp;subd=bataragoa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bataragoa.wordpress.com/2008/02/22/11/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/41f50b9c8f62b118e3d4d8ffbbc7688e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Geritz</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
